Jumat, 09 Januari 2015

KLASIFIKASI MANUSIA

Hefni Zain

            Di dunia ini tidak ada seorangpun yang menginginkan hidupnya sengsara. Semua manusia pasti mendambakan kehidupan yang bahagia, baik di dunia dan lebih-lebih di akherat. Karena itu, dalam setiap kesempatan berdoa, kita tidak pernah meninggalkan doa sapujagat, Rabbana atina fiddunya hasahah wafil akherati hasanah waqina adzabannar. Namun demikian, berdasarkan amalnya, menurut sebuah riwayat, manusia dibedakan menjadi empat kelompok
Pertama, kelompok yang bahagia di dunia dan bahagia pula di akherat (sa’idun fiddun-ya wa sai’dun fil akherah). Yang termasuk kelompok ini adalah : (1) Mereka beriman dan mampu mmpertahankan imannya ditengah berbagai godaan dan goncangan  hidup yang kian dahsyat, mereka konsisten dalam ketaatan kepada Allah, konsisten pula dalam menjauhi larangan Allah, apapun kondisinya dan bagaimanapun situasinya. (2) Mereka berilmu dan mengamalkan ilmunya untuk pencerahan masyarakat, untuk membebaskan masyarakat dari kebodohan dan keterbelakangan, kompetensi dan skill yang dimilikinya hanya digunakan untuk kepentingan agama dan masyarakat, (3) Mereka juga memiliki harta kekayaan yang dioperoleh dengan cara halal, serta digunakan untuk kian mendekatkan diri kepada Allah dan kepada sesama manusia. (4) Makin banyak hartanya, makin banyak pula sodaqohnya, serta makin dermawan pada yatim dan fakir miskin, makin tinggi pangkat, kekuasaan dan popularitasnya, makin tawadu’ dan makin banyak pula kemanfaatannya bagi agama dan kemanusiaan.  Kelompok seperti ini memperoleh kehidupan yang baik karena mengisinya dengan iman dan amal sholeh. Ditegaskan dalam Al-Qur’an :  Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik
Kedua, kelompok yang  bahagia di dunia tetapi sengsara di akherat (sa’idun fiddun-ya wa saqiyyun fil akherah). Yang termasuk kelompok ini adalah : (1) Mereka kaya harta, tetapi diperoleh dengan jalan bathil, makin kaya makin serakah dan makin kikir. Makin berkuasa semakin membuat banyak orang menderita, makin tinggi popularitasnya makin sombong dan makin tak peduli dengan sesame, (2) Harta yang banyak, jabatan yang tinggi dan kekuasaan yang luas hanya menjadikannya semakin jauh dari Allah dan jauh dari masyarakat. Suatu hari Kholifah Al-Mansur secara resmi berbicara dihadapan rakyatnya “Wahai rakyatku, kalian semua mesti bersyukur kepada Allah, sebab sejak aku memimpin, negeri ini bebas dari bencana paceklik. Tiba-tiba seseorang intrupsi, maaf paduka, Allah kasihan pada kami sehingga tidak mungkin memberi kami dua bencana sekaligus. Apa yang kamu maksud dua bencana ? Tanya Al Manshur  penasaran, yaa paceklik dan anda sendiri .. jawabnya lirih.
Ketiga, kelompok yang  sengsara di dunia tetapi bahagia di akherat (saqiyyun fiddun-ya wa sa’idun fil akherah). Yang termasuk kelompok ini adalah : (1) Mereka memang serba kekurangan dan menderita, tetapi tidak menyurutkan langkahnya untuk berbakti kepada Allah, rajin berzikir, gemar menolong orang lain (2) hidup mereka memang pas-pasan, tetapi tetangganya banyak merasakan manfaatnya, kehadirannya begitu berarti pada orang lain, begitu dia pergi semua orang merasa kehilangan. (3) Mereka memang  bukan orang penting, tetapi lebih orang baik, dan bukan besarnya pekerjaan yang memuliakan mereka, melainkan besarnya dampak dari apapun yang mereka kerjakan bagi kebaikan orang lain.
Keempat, kelompok yang  sengsara di dunia dan sengsara pula di akherat (saqiyyun fiddun-ya wa saqiyyun fil akherah). Kelompok ini  sudah miskin hidup di dunia, masih jauh dari Allah, sudah melarat masih enggan beribadah. Boleh saja kita miskin di dunia, tapi jangan sampai miskin pula di akherat, Biarlah kita tidak mempunyai apa apa, asal masih punya  harga diri. Bukankah telah banyak diantara kita yang telah memiliki barang  mewah dengan harga yang sangat mahal, tapi apalah artinya kalau harga dirinya sendiri sangat murah. Biarlah kita tidak mempunyai apa apa, asal masih punya  rasa malu. Kehidupan seseorang akan punya makna ketika yang bersangkutan memiliki rasa malu, jika rasa malu itu  hilang dari seseorang,  secara otomatis  ia tidak dihitung sebagai hidup meskipun masih masih hidup, ia dianggap mati kendati belum mati.

Bukankah Tidak sedikit diantara kita yang telah memiliki segalanya, tapi apalah arti itu semua kalau dirinya tidak punya  rasa malu, Sekaya apapun seseorang, setinggi apapun jabatannya, bila ia kehilangan  rasa malu dan harga diri, maka tidak akan ada artinya dihadapan manusia, dan lebih lebih dihadapan Allah swt. Memang kita boleh memilih cara hidup, tetapi yang pasti semuanya akan ada pertanggung jawabannya  Berbuatlah apa saja yang kamu sukai tetapi engkau akan dibalas sesuai perbuatanmu itu. Famay ya’mal mitsqola dzarrotin khoiran yaroh. Wamay ya’mal mitsqola dzarrotin Syarran yaroh #

BUTUH ORANG-ORANG ANEH

Hefni  Zain

Suatu ketika, Rasulullah saw bermimpi mimbarnya dikrubuti banyak kera, sejak mimpi itu Rasul saw begitu sedih, sebab ta’wil mimpi itu adalah sepeninggal beliau akan ada fitnah menggunung yang mencemari ajaran beliau, Lalu Rasulullah saw mengingatkan kepada para sahabatnya bahwa orang yang berpegang teguh pada ajaran Rasul saw, sama dengan memegang bara api, dan akan dicap asing (aneh) oleh orang-orang disekitarnya. Kini kehawatiran Nabi saw menjadi kenyataan,  agama, kini dimainkan oleh orang yang memiliki kewenangan, ajaran beliau banyak diubah oleh kaum yang mengaku umat beliau, ungkapan cinta yang semestinya menjadi sunnah dan ungkapan tauhid tak jarang disebut bid’ah atau bahkan syirik, Dan kesedihan Nabi saw semakin mendalam, ketika berbagai prilaku tak terpuji itu justru diatasnamakan membela ajaran beliau
Dalam kesempatan lain Rasulullah saw. bersabda Islam dimulai dalam kondisi asing (aneh), dan akan kembali sebagaimana ia dimulai (sebagai sesuatu yang aneh); maka berbahagialah bagi orang- orang aneh. [H.R.Muslim].  Siapakah Al-ghuraba’ atau orang-orang aneh itu? Dalam beberapa riwayat, dinyatakan bahwa makna al-Ghuraba’ adalah orang yang istiqomah baik dan lurus ditengah kondisi manusia yang berkecenderungan atau sudah rusak. Juga terdapat makna; mereka adalah orang yang memperbaiki apa yang telah dirusak oleh manusia. Mereka adalah orang-orang yang secara konsisten menjadi pelopor untuk melakukan perbaikan akhlaq ditengah arus dekadensi moral yang begitu dahsyat. Orang-orang aneh adalah mereka yang selalu menghidupkan sunnah Rasul saw, tatkala begitu banyak manusia berupaya mematikannya. Mengapa disebut aneh? Sebab pola fikir dan pola lakunya dianggap melawan arus oleh kebanyakan orang. Seorang pejabat tinggi yang tidak mau korup akan dianggap aneh oleh masyarakat yang biasa korup. Orang waras akan dianggap aneh oleh komunitas masyarakat gila. Seorang kiai yang tetap bertahan hidup sederhana akan dianggap aneh oleh komunitas yang biasa hedonistik.
Secara maknawi, kata aneh juga asing adalah sejajar dengan kata luar biasa yang bisa diartikan menjadi dua macam.  Pertama : adalah di luar kebiasaan. Jadi, ada suatu kebiasaan yang memang telah berlaku dalam masyarakat, kemudian kita berbuat sesuatu yang di luar kebiasana itu, sehingga dipandang aneh. Agama yang dibawa Nabi Muhammad saw dipandang aneh, karena tidak sesuai dengan tradisi yang berlaku di masyarakat Arab saat itu. Tetapi Nabi saw juga mengatakan : fa thuba li’l ghuraba’ (maka, berbahagialah orang yang dipandang aneh), karena keanehan itu bisa menarik perhatian bila kita tetap memiliki pendirian dan watak mandiri.  Kedua : benar.-benar artinya luar biasa, dalam arti kita mencapai sesuai dengan hebat atau dahsyat, karena melebihi dari pada umumnya manusia berbuat.
Guna meraih dan memperoleh kedudukan  ghuraba’, yakni manusia yang aneh dan luar biasa, tentu harus berjuang mencari ruang dan peluang hingga menang, dengan memperbaiki segala yang kurang, yakni selalu mengevaluasi dan mengaca diri terhadap berbagai ancaman yang menghampiri. Karena itu kita harus mengamati atau mengawasi, yang dalam bahasa Inggris disebut CARE
Pertama : C (Comitment). Agar kita bisa komitmen, kita harus berpadu atau bersatu dengan prinsip, pendirian dan kemandirian. Orientasinya adalah keyakinan  akan sesuatu yang diperjuangkan dan bukan pada lingkungan  yang menjerumuskan kita pada sesuatu yang kurang menguntungkan. Meski kita dipandang aneh oleh lingkungan, tetapi kalau mampu menjadi teladan, akhirnya orang lain mengakui juga. Ibarat ikan, meski di laut yang jelek, rasanya tetap tidak berubah. Itulah pendirian, meski lentur dalam bergaul, akan tetapi tidak luntur.
Kedua :A (Achievement). Orang yang luar biasa tidak pernah mempersoalkan kepada atau dengan siapa dia bekerja, karena senantiasa berorientasi pada “task oriented”yakni orientasi pada tugas. Kenikmatan bukan atas dasar gaji, akan tetapi saat menjalankan tugas. Itulah “achievement”, yang berorientasi pada tugas. Kenikmatan bukan atas dasar gaji, akan tetapi saat menjalankan tugas. Itulah “achievement”,yang berorientasi pada tugas. Apakah tugas itu bisa mencapai hasil yang diinginkan atua tidak, tidaklah menjadi persoalan karena sukses bukan tujuan, tetapi sukses adalah sebuah perjalanan (success is not destination but it is a journey)
Ketiga :R (Responsibilty) Orang yang aneh atau luar biasa senantiasa memiliki rasa tanggungjawab (responsibility)  tinggi. Lebih-lebih bila dikaitkan dengan kepemimpinan. Pada istilah responsibility  ada dua kata, yaitu  respons dan abilty, kemampuan dalam merespon. Kemampuan dalam merespon ini juga ada dua macam, yakni kemampuan dalam merespon positif dan kemampuan dalam merespon negative. Kemampuan merespon positif disebut proaktif, sedangkan kemampuan dalam merespon negative disebut reaktif.
Keempat : E (Enthusiastic). Orang aneh, luar biasa atau hebat adalah orang yang memiliki tekad dan semangat, rela bermandi keringat, serta didorong oleh kemauan yang kuat. Disamping semangat yang tinggi, ia memiliki strategi dan enerji, memiliki vitalitas dan dinamika, tak pernah berhenti meski segala kesuksesan seakan-akan telah didapati. Bekerja adalah ibadat, bila diniatkan semata-mata karena Allah. Yang menjadi patokan adalah niat yang ikhlas. Sumber motivasi yang menjadi Inspirasi mengapa senantasa memiliki tekad, semangat serta kemauan yang kuat adalah firman Tuhan :Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Maka, apabila engkau sudah selesai (dalam suatu pekerjaan) Tetapkanlah bekerja keras (untuk urusan yang lain) dan Hanya kepada Tuhanmulah engkau sudah selesai (dalam suatu pekerjaan) Tetapkanlah bekerja keras (untuk urusan yang lain) dan Hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap “(Qs.Al-Insyirah:6-8)
Dalam sebuah hadits diceritakan : Dari Huzaifah bin Yaman ra, katanya :  Saya bertanya kepada Rasululloh saw Sesungguhnya kami dahulu dalam masa jahiliyah dan keburukan, lalu Allah mendatangkan kepada kami kebaikan, Adakah sesudah kebaikan ini akan terjadi keburukan ? Ya , Jawab Rasul. Saya bertanya, Adakah sesudah keburukan itu ada kebaikan ? Ya, Jawab Rasul, tetapi ada yang merusaknya. Siapa perusak itu ya Rasul ? Kata nabi : Sekumpulan orang yang memimpin bukan menurut jalan yang benar. Terangkanlah kepada kami ciri ciri mereka ya rasul ? Rasul berkata :  kulit mereka sama dengan kulit kita dan mereka berbicara dengan bahasa kita.  Sahabat bertanya :Apa yang engkau perintahkan kepada kami, jika seandainya kami menjumpai mereka ya rasul ?,  Rasul bersabda : jauhilah mereka biarpun karena itu engkau sampai menguyah urat urat kayu, sehingga engkau meninggal dunia dalam keadaan seperti itu.
Zaman memang terus berubah, lain dahulu lain sekarang.  Jika  dulu  Rasul  memilih hidup sederhana , saat ini banyak yang mengaku pengikut Rasul  bersedia melakukan apa saja,  termasuk mengorbankan harga dirinya hanya untuk  berlomba, berebut mengejar kekayaan dan jabatan atau menjadi tim sukses dalam  kekuasaan.  Maka jangan  heran kalau saat ini banyak para pinpinan umat yang gemuk gemuk tidak malu menjadikan istana para sultan sebagai kiblat mereka, mempermegah tempat tinggal mereka dan memperkaya diri dari sumbangan dan bantuan  para sultan. Maka implikasi selanjutnya, jangan salahkan bila  banyak orang menutup telinganya bila mendengar kata kata lembut  yang penuh ajaran, Sebab terlalu sering mereka melihat  banyaknya  hemar yang berjubah Resi.

Dalam suasana peradaban kehidupan yang mulai kehilangan nilai luhurnya, adalah suatu niscaya menghadirkan kembali nilai nilai kemuhammadan dalam  realitas keseharian kita.  Rekonstruksi ideologi Muhammadi  telah menjadi kebutuhan mendesak dan tidak dapat ditunda untuk menyelamatkan peradaban manusia dari kehancuran #

Sabtu, 27 Desember 2014

REKREASI YANG BERARTI & TAMASYA YANG BERMAKNA

Hefni Zain

Liburan adalah waktu yang selalu dinantikan-nantikan oleh banyak orang, mulai pelajar, mahasiswa hingga orang tua. Terdapat segudang rencana sudah disiapkan untuk menyambutnya. Ada yang ingin tamasya ke tempat wisata, ada yang ingin jalan-jalan bersama keluarga ke puncak atau ke pantai menikmati keindahan pemandangan alam yang nyaman. Ada pula yang ingin bersama teman-temannya keluar kota, luar pulau, luar negeri bahkan mungkin juga ke luar angkasa. Yang penting fun, seru, berkesan dan tak terlupakan. Rasanya tidak afdhal jika hanya tinggal di rumah
Hanya saja, yang harus ditekankan, rekreasi yang baik adalah rekreasi yang membawa arti, tamasya yang baik adalah yang mambawa makna. Sebaiknya ada sesuatu hikmah yang dapat diambil, bukan sekadar liburan dan hiburan, tapi juga menambah pengetahuan dan melatih kemandirian. Masa liburan memang sebaiknya benar-benar dipergunakan untuk liburan yang bermanfaat.
Rekreasi dalam bahasa Arab disebut (siyahah)  yaitu bepergian ke suatu tempat untuk suatu tujuan, bukan untuk berpindah tempat dan bukan untuk melakukan suatu pekerjaan. Rekreasi dengan tujuan bersantai, bersenang­-senang, menikmati indahnya alam, mengetahui tempat-tempat bersejarah dan lain sebagainya adalah dibolehkan asal tidak terdapat kemungkaran(Qs. Muhammad : 10, al-Ankabut  :20, al-Mulk :15, dan an-Nur :122)
Liburan yang bermanfaat pada hakikatnya sangat beragam. Bagi sebagian orang, liburan tidak selalu dihabiskan dengan berburu kesenangan. Banyak kegiatan lain yang layak dipilih mesti tidak populer. Tapi justru punya nilai lebih dibanding sekadar having fun. Liburan sebenarnya bisa dijadikan sarana untuk mengembangkan diri. Waktu luang yang begitu banyak akan lebih baik jika dilalui dengan aktivitas yang bermanfaat. misalnya: Mengikuti paket-paket kajian keislaman, paket bahasa asing, mempelajari keahlian baru, kursus menyetir, menjadi peserta out bound, menulis atau bersilaturrahmi. Atau di rumah saja, tetapi dalam keadaan membuat program “liburan” sendiri seperti berbenah rumah, berkebun, dll. Intinya upayakan agar anak selalu memiliki keahlian baru setelah liburan.
Mengisi liburan dengan jalan-jalan atau wisata tentu boleh-boleh saja dan tidak dilarang selama tidak melanggar aturan syara, tidak ada anjaman keselamatan dan tidak ada problem pada situasi alam dan situasi sosial, misalnya musim longsor, rawan banjir, rawan bom dan semacamnya yang mengancam dan membahayakan perjalanannya. Kecuali itu tidak ada ruginya  jika anak didorong untuk melakukan kegiatan yang punya nilai lebih, sekaligus mengajari mereka agar pandai menghargai waktu luang. Rasulullah saw telah mengingatkan kita melalui sabdanya: “Dua nikmat yang kebanyakan manusia lalai untuk memanfaatkannya dengan sebaik mungkin adalah kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)
Sejatinya terdapat banyak manfaat yang di dapat dari rekreasi, tamasya dan wisata apalagi ke alam terbuka, antara lain : dapat mempertebal keimanan, meningkatkan tafakur dalam merenung­i ciptaan Allah akan alam semesta (Qs.Ali-Imran:190-191), memperluas ta’aruf (Qs.Al-Hujurat:13), dapat mengambil ibrah dari rekreasi yang dilakukan, menyehatkan tubuh, menyegarkan, membugarkan dan merefreshing otak setelah sekian lama bergelut dalam kesibukan rutinitas.
Bila tamasya diniati seperti diatas, maka sangat dianjurka, baik oleh agama maupun oleh kesehatan. Tetapi bila sekedar mementingkan gaya hidup, prestise dan gengsi, dimana hakikat dan makna kehidupan yang sesungguhnya menjadi hilang, maka hal itulah yang perlu ditinjau ulang.
Kebutuhan untuk beristirahat, menyegarkan pikiran dan tubuh sejenak dari rutinitas sehari-hari melalaui wisata alam, wisata bahari, wisata religi, wisata kuliner memang kebutuhan yang cukup penting, ia bersifat melengkapi kebutuhan dasar, tetapi harus diadaptasikan dengan kesiapan budget yang direncanakan agar tidak memaksakan diri, sehingga dapat menyebabkan kedzaliman terhadap diri sendiri dan orang lain. Berlibur juga harus sesuai dengan ajaran agama Islam, yaitu tidak mendekat kepada perbuatan yang dilarang dalam Islam
Pada dasarnya berlibur adalah menyisihkan waktu dengan melaksanakan kegiatan yang dapat menyegarkan pikiran dan tubuhnya, atau menggunakan waktu dengan bersantai, terbebas dari rutinitas keseharian, namun tetap bernilai ibadah dan bermanfaat. Rasulullah saw telah memperingatkan agar bersikap seimbang dan tidak memberatkan diri sendiri, sabda beliau : “ Sesungguhnya agama ini mudah. Tiada orang yang memberatkan diri dalam urusan agama, kecuali ia akan dikalahkan. Maka mudahkanlah, mendekatlah, bergembiralah, dan gunakan sebaik mungkin waktu pagi, waktu sore dan sebagian waktu malam kalian (untuk memperbanyak kebaikan).” HR. Bukhari.
Salah satu bentuk liburan yang biasa dilakukan adalah dengan berwisata atau melakukan perjalanan keluar kota atau ke luar negeri. Hal ini tidak dilarang selama niat dan tujuannya adalah untuk mengambil pelajaran dan maslahah dalam merenungi keindahan ciptaan Allah swt dan menikmati indahnya alam sebagai pendorong jiwa manusia untuk menguatkan keimanan terhadap keesaan dan kekuasaan Allah swt dan memotivasi semangat menunaikan kewajiban hidup, baik itu beribadah maupun bekerja. Allah swt berfirman: “Katakanlah: ‘Berjalanlah di muka bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Qs. Al-Ankabut: 20)
Sebenarnya masa liburan merupakan nikmat waktu luang. Setiap muslim harus menyadari hal ini, sehingga waktu liburan harus digunakan sebaik mungkin. Rasulullah saw telah memperingatkan, betapa banyak manusia yang terlalaikan dari nikmat waktu luang ini, dan hanya menuai kerugian belaka. Beliau bersabda,: “Ada dua nikmat yang kebanyakan orang tertipu darinya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari).
Oleh karena itu setiap muslim sebaiknya memanfaatkan waktu liburan dengan  hal-hal yang bisa membawa manfaat, berkah dan bisa memberikan maslahah di dunia dan di akhirat. Rasulullah saw sendiri sebenarnya telah mencontohkan bagaimana sebaiknya umat muslim melakukan libur untuk menyegarkan tubuh dan pikiran, Liburan rutin yang dianjurkan adalah yang menyejukkan dan menguatkan jiwa.
Dengan begitu, rekreasi, selain didorong oleh rasa keingin tahuan, hendaknya juga didorong oleh kebutuhan pendidikan, keagamaan, kesehatan, kebudayaan dan kesenian, dan kepentingan hubungan keluarga. Hasil research para dokter di California menyebutkan manfaat liburan bagi kesehatan, adalah sebagai berikut :
1.  Hidup lebih lama
Penelitian yang dilakukan terhadap 749 wanita yang berumur 45-64 tahun di Amerika menunjukkan baik ibu rumah tangga maupun wanita kerja yang mengambil liburan memiliki peningkatan signifikan dalam penurunan serangan jantung. Ibu rumah tangga yang mengambil liburan sekali dalam enam tahun atau kurang memiliki hampir dua kali resiko timbulnya serangan jantung dibanding yang berlibur dua atau lebih per tahun.
2.  Menjaga sel otak
James Sands dari South Coast Institute for Applied Gerontology  meneliti 112 wanita yang berumur 65-80 dan menemukan ada hubungan antara rutinitas hidup yang banyak dengan menurunnya fungsi intelektual.
3.  Meningkatkan kepuasan hidup
Linda Hoopes dan John Lounsbury, peneliti Departemen Psikologi Universitas Tennessee mensurvey 128 pegawai sebelum dan sesudah liburan. Mereka menemukan ada suatu peningkatan dalam kepuasan hidup setelah liburan.
4.  Menurunkan ketegangan
Stress eksternal dan kegiatan kehidupan baik di tempat kerja atau rumah dapat membuat seseorang merasa gembira atau stress. Gejala-gejalanya termasuk perasaan lelah, tidak memiliki dorongan, tidak tertarik melakukan sesuatu, tidak antusias dan bahkan perasaan takut. Peneliti dari Departemen Psikologi Universitas Tel Aviv. Mina Westman dan Dove Eden menemukan perasaan tertekan dalam 76 pegawai menurun signifikan selama liburan.
5.  Memperbaiki kehidupan keluarga
Dilaporkan dalam An experiment in leisure (Science Journal, 1986), W.J. Kaiser menganalisa respon dari 390 pegawai pabrik baja yang melakukan liburan selama 13 minggu. Ia menemukan liburan ternyata dapat memberikan keuntungan bagi kehidupan keluarga. Para pekerja dilaporkan lebih tertarik dan berbagi kegiatan dengan pasangan dan anak-anak mereka.
Ada sesuatu yang mengandung unsur-unsur pengobatan keluar dari rutinitas sehari-hari dan menikmati lingkungan berbeda. Setiap liburan memiliki manfaat unik. Bahkan bagi beberapa orang paket liburan satu minggu yang diatur dapat memiliki keuntungan tahan lama. Kadang-kadang suatu perjalanan adalah suatu eksplorasi perjuangan dan orang merubah cara mereka memandang diri dan keadaan sulit mereka di rumah.
Al-Qur’an menegaskan “Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada”.  Ayat ini menegaskan bahwa yang terpenting dari wisata, rekreasi, tamasya dan berlibur adalah agar yang bersangkutan memperoleh manfaat dari apa yang disaksikan dan dipelajari di tempat-tempat yang telah dikunjungi, yang dengan semua itu tujuan akhirnya adalah mengembalikan rasa kebahagiaan yang tergerus oleh pakem rutinitas.

Nah jika esensi tujuan akhir dari rekreasi, tamasya dan berlibur adalah mendapat dan mengembalikan kebahagiaan, maka persoalannya bukan lagi suasana, keadaan dan tempat berlibur itu, bukan lagi kemana dan dimana berliburnya, melainkan bersama siapa kita saat itu. Anda berada di gubuk reot di tengah hutan tetapi bersama orang yang anda cintai, maka akan terasa sorga. Sebaliknya anda berada di hotel lantai 99 bertahtakan pualan, tetapi bersama orang yang anda benci, maka akan terasa neraka. Jadi kebahagiaan anda sejatinya tidak ditentukan oleh susana dan tempat, melainkan ditentukan oleh siapa yang bersama anda. Itulah sebabnya Rabiah al-Adawiyah berucap, saya tidak peduli apakah saya di sorga atau ndi eraka, yang penting cinta Allah selalu bersama dan menyertai saya #

RENUNGAN AKHIR TAHUN

Hefni Zain

Peristiwa pergantian waktu, seperti hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun, sesungguhnya selain terdapat tanda tanda bagi orang yang berakal juga merupakan peringatan Allah swt  bagi orang orang yang mau berfikir. Allah berfirman dalam Alqur’an “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda tanda bagi orang yang berakal (Qs. 3 : 190).
 Pertanyaannya,  sudah berapa lama kita menikmati hidup di dunia ? dan sejauh itu pula apa yang telah kita lakukan sebagai pertanggung jawaban kepada Allah mengenai amanah itu ?  Seringkali Allah mengingatkan kita tentang singkatnya kehidupan dunia ini, bukan saja dengan firman firmannya, bahwa “setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati” bahkan kejadian di sekeliling kitapun seharusnya menjadi peringatan dan pelajaran yang berharga. Pernahkah kita menyaksikan kematian kawan kita, tetangga kita, saudara kita, orang tua kita,   pasangan kita atau bahkan anak kita ? tidak cukupkah kejadian kejadian itu sebagai cermin ? Sayang sungguh sayang, kita sering berta’ziah kepada orang mati, memandikannya, mengkafaninya, mensholatinya,  bahkan menguburkannnya, namun kita menganggap seolah olah dia saja yang mati, hidup saya masih lama, sehingga lagi lagi kita terbuai dalam kubangan nafsu, melalaikan perintah perintah Allah.
Dalam surah At Takwir ayat 26 tatkala Allah swt  bertanya  kepada ibrahim “Fa ayna tadzhabun” (Maka kemanakah kamu akan pergi) ?, Ibrahim  menjawab dalam surat Assoffat ayat 99 “inni dzahibun ilaa rabbi sayahdin”(Sesungguhnya aku pergi menghadap Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku).
Bagi kita Fa ayna tadzhabun bisa bermakna : apa sebenarnya tujuan hidup kita ini ? akan dibawa kemana semua yang kita punya ?, Nabi Ibrahim mengajarkan jawaban mendasar yakni seluruh hidup kita, seluruh yang kita punya harusnya hanya dimaksudkan untuk  mendekat kepada Allah swt. Ini penting untuk direnungkan, karena dalam kehidupan sehari-hari, hal inilah yang sering kita abaikan, setiap saat kita terlalu sibuk dengan pernik-pernik dunia, setiap hari kita bekerja keras hanya untuk persiapan masa depan dunia yang fana dan sementara, tetapi kita lupa  mempersiapkan diri untuk masa abadi, masa milyaran tahun setelah ajal menjemput kita. Alangkah ruginya kita bila tidak memikirkan hal ini, kita akan menangis dalam tangisan yang berkepanjangan. Kita akan menyesal dalam penyesalan yang tiada lagi berguna.
Karena itu marilah kita memahami makna hidup dan mengisinya dengan hal hal yang berguna. Bukankah hidup ini harus dimanfaatkan dan bukan disia- siakan ?  Kita disebut hidup hanya jika kita mengisi waktu-waktu kita dengan pekerjaan yang bernilai. Ingatlah nilai kita hanya sebanding dengan yang kita kerjakan. Kita tidak mungkin mengharap hasil besar dari pekerjaan yang kita lakukan dengan kesungguhan kecil, apalagi kita ingin berhasil  pekerjaan yang kalau bisa tidak kita  kerjakan. Dan apa yang kita lakukan hari ini, merupakan kunci kebaikan atau kehancuran hari esok kita. Maka lakukanlah yang terbaik untuk hari ini dan jangan terbuai dengan  kesenangan yang  menipu. Maka tinggalkanlah kesenangan yang menghalangi tercapainya kesuksesan hidup. Dan berhati-hatilah, karena beberapa kesenangan adalah cara gembira menuju kegagalan
Jangan kita jadikan hidup ini seperti mati, jangan kita  mati  sebelum datang kematian yang sesungguhnya. Hidup ini tak ubahnya seperti perjalanan panjang, berangkat dari Allah dan akan menuju kepadaNya. Kita datang dari tiada, datang hanya singgah sementara untuk mempersiapkan diri menuju perjalanan abadi, tujuan hidup kita bukan disini, bukan untuk bermegah diri dan bersusah payah memperkaya diri, dunia ini bukan tempat tinggal yang sebenarnya, dunia ini hanya untuk mepersiapkan bekal untuk kita bawa pulang ke negeri asal kita, kampung aherat. Suka atau tidak, mau atau tidak, kita akan dipaksa untuk meneruskan perjalanan  kita. Sebuah perjalanan pasti membutuhkan bekal,  Allah berfirman : “Berbekallah kalian semua, dan sebaik baiknya bekal itu  adalah Taqwa” . Pertanyaannya, sudah cukupkah bekal kita untuk sampai kehadiratNya ? ini penting untuk direnungkan  agar kesempatan yang tersisa dapat kita manfaatkan dengan sebaik baiknya. Rasululloh Saw pernah bersabda : peliharalah lima hal sebelum datang lima hal yang lain, manfaatkan masa muda sebelum datang masa tua, pelihara masa sehat sebelum datang masa sakit, pelihara masa sempat  sebelum datang masa sempit, pelihara masa kaya sebelum datang masa miskin,  dan pelihara masa hidup sebelum datang saat kematian.
Seorang ulama’ Sufi mengilustrasikan umur manusia didunia sama dengan tiga hal, Pertama, nilai umur sama dengan berhutang kepada Allah.  Artinya sesuai dengan maha rahmanNya  tiap detik Allah swt telah memberikan nikmat tak terhingga kepada  manusia. Bila dihitung 1 tahun itu adalah sama dengan 365 hari, dalam jam sama dengan 8.760 jam, dalam menit sama dengan 525.600 menit, dan dalam detik sama dengan 31.536.000,-detik. Maka jika nikmat yang telah diberikan Allah harus kita bayar dalam bentuk rupiah, berapa rupiah dalam setahun yang harus kita keluarkan ? umur itu sama dengan bernafas, bernafas sama dengan berdetak jantung.  Dalam sehari semalam jantung manusia normal bekerja 115.200 kali secara non stop, siapa yang menggerakkan itu ? berapa biaya yang harus dikeluarkan kaitannya dengan proses kinerja jantung itu ? sungguh biar semua ahli matematika sedunia berkumpul untuk menghitung nikmat Allah, pasti mereka tidak akan mampu melakukannya. Sungguh nikmat Allah terlalu banyak, sementara tugas yang kita laksanakan adalah terlalu sedikit. Maka sesungguhnya setiap saat kita telah berhutang kepada Allah, dan kendati kita kumpulkan semua harta kita, pasti tidak akan cukup untuk mebayar hutang tersebut.  Firman Allah dalam Alqur’an : Dan jika kalian akan menghitung ni’mat Allah, niscaya kalian tidak akan mampu menghitungnya, sesungguhnya Allah maha pengampun lagi maha panyayang (Qs. An Nahl : 18).
Kedua, nilai umur sama dengan permainan dan sandiwara.  Pada dasarnya dalam hidup ini kita hanya bersandiwara, berputar putar pada persoalan yang hampir tidak berbeda. Bangun pagi sarapan, menuju pekerjaan, makan siang, istirahat sebentar tiba tiba matahari terbenam, kemudian tidur, besok pagi bangun seperti kemarin dan beberapa ribu hari kemarin dan begitu berulang ulang.  Pekerjaanpun hanya berkisar pada kegiatan yang hampir sama dengan kemarin, yang pasti kaum muda akan menjadi tua, yang hidup akan mati. Tidak pernah kita temukan orang terus muda hingga 100 tahun, juga tidak ditemukan orang terus hidup sepanjang masa. Kita hanya bersandiwara dan bermain, kalau tidak pandai bersandiwara, kita akan dipermainkan oleh saudiwara kita sendiri. Kita mengejar kebahagiaan, kita terus telusuri liku liku hidup yang kadang tajam, kita mengembara terlalu jauh, padahal yang kita cari ada didekat kita sendiri, paling dekat dari yang terdekat dengan kita. Yakni hati kita tempat kebahagiaan itu, tapi kadang kita tidak fungsikan itu, kita tak pedulikan peringatan Allah, kita bunuh hati kita dengan kebendaan, kita sakiti hati kita dengan bermacam macam keinginan.
Sungguh disayangkan kita terlalu bernafsu mengejar berbagai keinginan tiada henti, kita menyangka dibalik keinginan itu ada kebahagiaan padahal justru mengejar keinginan itu sama dengan mengejar penderitaan yang tidak pernah berakhir, sebab nafsu memang tak pernah mengenal kata puas meskipun diberi bumi dan langit. Silahkan mengejar keinginan tapi jangan lupa diri, silahakan mencari kepentingan hidup tapi jangan  lupa mati.
Ketiga, nilai umur sama dengan menungggu. Semua orang sepakat bahwa  seluruh kegiatan manusia pada hakekatnya hanyalah menunggu. Bangun pagi menunggu sarapan, selesai kerja menunggu pulang, orang bekerja menunggu gaji dan naik pangkat, orang miskin menunggu kaya, orang kaya menunggu tambah kaya, pagi menunggu siang, siang menunggu sore, sore menunggu malam, dan malam menuggu pagi lagi,  hari ini menunggu besok, bulan ini menunggu bulan depan, tahun ini menunggu tahun depan, tidur menunggu bangun, sakit menunggu sehat, masa muda menunggu masa tua,  hidup menunggu mati. dan begitu seterusnya.
Di akhir tahun ini, adalah saat yang tepat untuk menakar, mengintrospeksi, bermuhasabah dan mengevaluasi perbuatan kita, sudahkah kecintaan kita terhadap Allah ditempatkan diatas kecintaan kita kepada yang lainnya ? melebihi cinta kita terhadap pekerjaan, tempat tinggal dan harta? melebihi cinta kita thd keluarga kita ? Sudahkah kita mendahulukan kehendak Allah diatas kehendak kita sendiri ?  sudahkah kita memberikan yang terbaik yang paling kita cintai  untuk Allah semata ? Jawabannya tentu berpulang pada diri kita masing-masing. Yang  jelas dalam Al-Qur’an sudah ditegaskan “Belumlah sekali kali kamu sampai kepada  kebajikan yang sempurna, sebelum engkau berikan  apa yang paling kamu cintai  Kepada Allah swt (Qs Ali imran : 92)”
Saatnya melakukan inovasi dan kreasi  kearah yang lebih konstruktif, produktif  dan prospektif. Saatnya kita bertekad untuk berbuat yang lebih baik di masa-masa selanjutnya, sebab  sabda Nabi Saw: termasuk  celaka  orang yang prestasinya di hari ini lebih jelek dari yang kemarin, termasuk orang yang rugi apabila prestasinya hari ini hanya sama dengan yang kemarin. Orang yang beruntung itu adalah yang prestasinya hari ini adalah lebih baik dari yang kemarin .     Jangan sampai hanya tahunnya yang terus berganti baru tapi amal sholehnya masih tetap lama, seseorang boleh saja hidup sesuka hatinya tapi sadarlah bahwa semuanya akan mati, cintailah sekehendakmu apa saja yang engkau cintai tapi sadarlah bahwa engkau akan berpisah dengannya, Berbuatlah apa saja sekehendakmu tetapi sadarlah bahwa engkau akan dibalas menurut perbuatanmu itu. Setiap perbuatan pasti akan kembali kepada dirinya sendiri.

Bersyukurlah dari hal-hal manis dalam hidup kita,dan  belajarlah menjadi kuat dari hal-hal pahit yang menimpa kita, jangan risau dengan  ni’mat yang belum kita terima, Tetapi risaulah dengan ni’mat yang belum kita syukuri. Jangan pernah mengeluh apalagi mengutuk, bahkan terhadap sesuatu yang kita rasakan gelap. Karena sesungguhnya lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan #

WAWASAN MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM

Hefni  Zain

Tidak sedikit  para ahli yang menulis buku  tentang manajemen, dan mereka merumuskan konsep manajemen dari perspektif latar pendidikan dan kepentingannya masing masing,  James A.F. Stonner (1978:23) menyebutkan manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, kepeminpinan dan pengendalian semua sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Dalam pandangan Massie Joseph (1979:41), manajemen adalah proses perencanaan mengambil keputusan, mengorganisasikan, meminpin dan mengendalikan sumber daya manusia, keuangan, fasilitas dan informasi guna mencapai sasaran organisasi dengan cara efektif dan efisien.
Beberapa pakar yang lain menyebut bahwa manajemen merupakan ilmu, seni dan profesi. Disebut ilmu, karena manajemen  selain secara sistematik berusaha memahami mengapa dan bagaimana orang bekerjasama untuk mencapai tujuan tertentu, ia juga  telah memenuhi syarat sebagai suatu ilmu pengetahuan yang telah dipelajari dalam kurun waktu yang lama dan memiliki serangkaian teori yang terus diuji dan dikembangkan dalam praktek manajerial pada lingkup organisasi.
Sebagai ilmu pengetahuan, manajemen bersifat universal dan mempergunakan krangka ilmu pengetahuan yang sistimatis mencakup kaidah-kaidah, prinsip-prinsip, dan konsep-konsep yang relevan dalam semua situasi manajerial, karenanya manajemen dapat diterapkan dalam setiap organisasi baik pemerintah, pendidikan, perusahaan, keagamaan, sosial dan sebagainya. Dengan kata lain, manajemen mutlak dibutuhkan oleh setiap organisasi, jika seorang manajer mempunyai pengetahuan tentang manajemen dan mengetahui bagaimana menerapkannya, maka dia akan dapat melaksanakan fungsi-fungsi manajerial secara efektif dan efisien
Selain sebagai ilmu pengetahuan, menurut Mary Parker Follet (1986 : 52) manajemen  juga sebagai seni untuk melaksanakan pekerjaan melalui orang lain (The art of getting done through people), definisi ini mengandung arti bahwa seorang manajer dalam mencapai tujuan organisasi melibatkan orang lain untuk melaksanakan berbagai tugas yang telah diatur oleh manajer. Oleh karena itu, keterampilan yang dimiliki oleh seorang manajer perlu dikembangkan baik melalui pengkajian maupun pelatihan. Karena manajemen dipandang sebagai seni, maka seorang manajer perlu mengetahui dan menguasai seni memimpin yang berkaitan erat dengan gaya kepemimpinan yang tepat dan dapat diterapkan dalam berbagai situasi dan kondisi.
Melampaui itu, manajemen juga dapat disebut sebagai profesi karena manajemen dilandasi oleh keahlian khusus untuk mencapai prestasi manajer yang diikat dengan kode etik dan dituntut  bekerja secara profesional. Seorang profesional tentu harus mempunyai kemampuan konsepsional, kemampuan sosial dan kemampuan teknikal.
Kemampuan konsepsional adalah kemampuan mempersepsi organisasi sebagai suatu sistem, memahami perubahan pada setiap bagian yang berpengaruh terhadap keseluruhan organisasi, kemampuan mengkoordinasi semua kegiatan dan kepentingan organisasi. Kemampuan sosial atau hubungan manusiawi diperlihatkan agar manajer mampu bekerja sama dan memimpin kelompoknya dan memahami anggota sebagai individu dan kelompok. Adapun kemampuan teknikal berkaitan erat dengan kemampuan yang dimiliki manajer dalam menggunakan alat, prosedur dan teknik bidang khusus, seperti halnya teknik dalam perencanaan program anggaran, program pendidikan dan sebagainya.
 Jadi disebut sebagai profesi, karena serang manajer dituntut memiliki keahlian khusus untuk bekerja secara profesional. Oleh karena itu, seorang manajer harus membekali dirinya dengan kemampuan konseptual yang berkaitan dengan planning, organizing, actuating dan controlling (POAC) serta kemampuan sosial yang mengatur tentang hubungan manusiawi sehingga mampu mengimplementasikan gaya kepemimpinan yang relevan dalam berbagai situasi dan kondisi, juga kemampuan teknis yang dapat mendukung dalam pelaksakan program yang dijalankan. 
Dari berbagai rumusan ahli diatas, dapat disebutkan bahwa manajemen adalah kegiatan seseorang dalam mengatur organisasi, lembaga atau perusahaan yang bersifat manusia maupun non manusia, sehingga tujuan organisasi, lembaga atau perusahaan dapat  tercapai  secara  efektif  dan efisien.  Bertolak dari rumusan ini , terdapat beberapa unsur  yang inheren  dalam manajemen, antara lain :
1.      Unsur proses, artinya seorang manejer dalam menjalankan tugas manajerial harus mengikuti prinsip graduasi yang berkelanjutan.
2.      Unsur penataan, artinya dalam proses manajemen prinsip utamanya adalah semangat  mengelola, mengatur  dan  menata.
3.      Unsur implementasi, artinya, setelah diatur dan ditata dengan baik perlu dilaksanakan secara profesional.
4.      Unsur kompetensi. Artinya sumber-sumber potensial yang dilibatkan baik yang bersifat manusia maupun non manusia mesti berdasarkan kompetensi, profesionalitas dan kualitasnya.
5.      Unsur tujuan yang harus dicapai, tujuan yang ada harus disepakati oleh keseluruhan anggota organisasi. Hal ini agar semua sumber daya manusia mempunyai tujuan yang sama dan selalu berusaha untuk mensukseskannya. Dengan demikian tujuan yang ada dapat dijadikan sebagai pedoman dalam melaksanakan aktivitas dalam organisasi.
6.      Unsur efektifitas dan efisiensi. Artinya, tujuan yang ditetapkan diusahakan tercapai secara efektif dan efisien.
Relevan dengan hal diatas, Hamzah (1994:32) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan Manajemen Pendidikan islam  adalah aktivitas memadukan sumber-sumber pendidikan islam agar terpusat dalam usaha untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan sebelumnya, dengan kata lain manajemen pendidikan islam merupakan mobilisasi segala sumberdaya pendidikan islam untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.
Maka manajemen pendidikan Islam hakekatnya adalah suatu proses penataan dan pengelolaan lembaga pendidikan Islam yang melibatkan sumber daya manusia  dan non manusia dalam menggerakkannya mencapai tujuan pendidikan Islam  secara efektif dan efisien.”.
   Yang disebut “efektif dan efisien” adalah pengelolaan yang berhasil mencapai sasarannya dengan sempurna, cepat, tepat dan selamat. Sedangkan yang “tidak efektif” adalah pengelolaan yang tidak berhasil memenuhi tujuan karena adanya mis-manajemen, maka manajemen yang tidak efisien adalah manajemen yang berhasil mencapai tujuannya tetapi melalui penghamburan atau pemborosan baik tenaga, waktu maupun biaya.
Reddin (1970:135) memberikan beberapa gambaran tentang perilaku manajer yang efektif,  antara lain : pertama, mengembangkan potensi para bawahan,  kedua, memahami dan tahu tentang apa yang diinginkan dan giat mengejarnya, memiliki motivasi yang tinggi,  ketiga, memperlakukan bawahan secara berbeda-beda sesuai dengan individunya, dan keempat, bertindak secara team manajer.
Seorang manajer tidak hanya memanfaatkan tenaga bawahannya yang sudah ahli atau trampil demi kelancaran organisasi yang dia pimpin saja, tetapi  juga memberikan kesempatan pada bawahannya agar mereka dapat meningkatkan keahlian atau ketrampilannya.  Manajer Pendidikan Islam pada umumnya hanya tahu apa tugas mereka agar proses pendidikan dapat berlangsung konstan, tetapi acapkali mereka kurang mampu mengantisipasi secara akurat perubahan yang bakal terjadi di masyarakat pada umumnya dan dalam dunia pendidikan Islam khususnya. Akibatnya  mereka hanya tenggelam dalam tugas-tugas rutin organisasi keseharian tetapi sangat sulit melakukan inovasi progresif nan memungkinkan dicapainya tujuan organisasi secara lebih improve dan membanggakan.
Reddin (1970 : 138) menunjukkan defferensiasi manajemen yang efektif dengan manajemen yang efisien sebagai berikut :

N
MANAJEMEN EFEKTIF
MANAJEMEN EFISIEN
1
Membuat yang benar
Mengerjakan dengan benar
2
Mengkreasikan berbagai alternatif
Menyelesaikan berbagai masalah
3
Mengoptimalkan berbagai sumber pendidikan
Mengamankan berbagai sumber pendidikan
4
Memperoleh hasil pendidikan.
Mengikuti tugas-tugas pekerjaan
5
Meningkatkan keuntungan pendidikan
Merendahkan biaya pendidikan

Defferensiasi ini penting difahami agar para manajer berupaya menyeimbangkan antara efektif dan efisien dalam manajemennya, sebab manajemen yang efektif saja sesunggunhnya merupakan pemborosan, sebaliknya manajemen yang efisien saja sulit memenuhi tujuan lembaga  pendidikan islam yang di idealkan.
Sejatinya  manajemen berhubungan erat dengan usaha untuk tujuan tertentu dengan jalan menggunakan berbagai sumber daya yang tersedia dalam organisasi atau lembaga pendidikan Islam dengan cara yang sebaik mungkin. Manajemen bukan hanya mengatur tempat melainkan juga mengatur orang per orang, dalam mengatur orang, tentu diperlukan seni atau kiat agar setiap orang yang bekerja dapat menikmati pekerjaan mereka.
Dalam proses manajemen, fungsi-fungsi manajemen digambarkan secara umum dalam tampilan prangkat organisasi yang dikenal dengan sebutan teori manajemen klasik. Para pakar manajemen mempunyai perbedaan pendapat dalam merumuskan proses manajemen, Bagi Poul Mali (1981 : 54), fungsi manajemen meliputi : planning, organizing, staffing, directing and controlling. Sedangkan dalam pandangan Wayne (1988 : 32) fungsi manajemen meliputi : planning, organizing, leading and controlling. Sementara menurut Peter Drukcer (1954 : 87) proses manajemen dimulai dari planning, organizing, staffing, directing, coordinating, reporting, dan budgeting. Dan menurut Made Pidarta (1988 : 85) manajemen meliputi : planning, organizing, comanding, coordinating, controlling
Berdasarkan uraian diatas, yang wajib ada dalam proses manajemen minimal empat hal, yakni : planning, organizing, actuating, controlling, (POAC).  Empat hal ini prosesnya digambarkan dalam bentuk siklus karena adanya saling keterikatan antara proses yang pertama dengan proses berikunya, begitu juga setelah pelaksanaan controlling lazimnya dilanjutkan dengan membuat planning baru.
Dalam hal ini para pakar manajemen pendidikan Islam merumuskan siklus proses manajemen pendidikan Islam diawali oleh adanya sasaran yang telah ditetapkan terlebih dahulu, lalu disusunlah rencana untuk mencapai sasaran tersebut dengan mengorganisir berbagai sumber daya yang ada baik materiil  maupun non materiil  lalu berbagai sumberdaya tersebut digerakkan sesuai jobnya masing masing, dan dalam aktuating tersebut dilakukan pengawasan agar proses tersebut tetap sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya.
Perencanaan pendidikan islam adalah proses mempersiapkan secara sistematis kegiatan kegiatan yang akan dikerjakan pada waktu yang akan datang untuk mencapai sasaran atau tujuan pendidikan islam yang telah dirumuskan dan ditetapkan sebelumnya.
Dalam islam keharusan membuat perencanaan yang teliti sebelum melakukan tindakan banyak disinyalir dalam teks suci, baik secara langsung maupun secara sindiran (kinayah), misalnya dalam islam diajarkan bahwa upaya penegakan yang ma’ruf dan pencegahan yang munkar membutuhkan sebuah perencanaan dan strategi  yang baik, sebab bisa jadi kebenaran yang tidak terorganisir dan terencana  akan dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir dan terencana. 
Meskipun Alqur’an menyatakan yang benar pasti mengalahkan yang bathil (al Isra’ : 81), namun Allah  lebih mencintai dan meridhoi kebenaran yang diperjuangkan dalam sebuah barisan yang rapi, terencana  dan teratur ( as  shaff : 4) . Setelah perencanaan, dilanjutkan dengan pengorganisasian, yakni proses penataan, pengelompokan dan pendistribusian tugas, tanggung jawab dan wewenang kepada semua perangkat yang dimiliki menjadi kolektifitas yang dapat digerakkan sebagai satu kesatuan team work dalam mencapai tujuan  yang telah ditentukan secara efektif dan efesien. Dalam Qs. 6 : 132 ditegaskan  bahwa “Setiap orang mempunyai tingkatan menurut pekerjaannya masing-masing.
Sewaktu Rasulullah membentuk atribut-aribut negara dalam kedudukan beliau sebagai pemegang kekuasaan tetinggi, beliau membentuk organisasi yang didalamnya terlibat para sahabat beliau yang beliau tempatkan pada kedudukan menurut kecakapan dan ilmu masing-masing. Tidak dapat dipungkiri bahwa Rasulullah adalah seorang organisatoris ulung, administrator yang jenius, dan pendidik yang baik yang menjadi panutan, karena itu beliau disebut sebagai panutan yang baik (uswatun hasanah).
Setelah planning dan organizing, dalam siklus manajemen pendidikan islam dilanjutkan dengan actuating, yakni proses menggerakkan atau merangsang anggota anggota kelompok untuk melaksanakan tugas mereka masing masing dengan kemauan baik dan antusias.
Fungsi Actuating berhubungan erat dengan sumber daya manusia, oleh karena itu seorang pemimpin pendidikan Islam dalam membina kerjasama, mengarahkan dan mendorong kegairahan kerja para bawahannya perlu memahami seperangkat faktor-faktor manusia tersebut, karena itu actuating bukan hanya  kata-kata manis dan basa-basi, tetapi merupakan pemahaman radik akan berbagai kemampuan, kesanggupan, keadaan, motivasi, dan kebutuhan orang lain, yang dengan itu dijadikan sebagai sarana penggerak mereka dalam bekerja secara bersama-sama sebagai taem work.
Siklus terakhir adalah controlling, yakni proses pengawasan dan pemantauan terhadap tugas yang  dilaksanakan, sekaligus memberikan penilaian, evaluasi dan perbaikan sehingga pelaksanaan tugas kembali sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.
Menurut Siagian (1983 : 21) fungsi pengawasan merupakan upaya penyesuaian antara rencana yang telah disusun dengan pelaksanaan dilapangan, untuk mengetahui hasil yang dicapai benar-benar sesuai dengan rencana yang telah disusun diperlukan informasi tentang tingkat pencapaian hasil. Informasi ini dapat diperoleh melalui komunikasi dengan bawahan, khususnya laporan dari bawahan atau observasi langsung. Apabila hasil tidak sesuai dengan standar yang ditentukan, pimpinan dapat meminta informasi tentang masalah yang dihadapi. Dengan demikian tindakan perbaikan dapat disesuaikan dengan sumber masalah. Di samping itu, untuk menghindari kesalahpahaman tentang arti, maksud dan tujuan pengawasan antara pengawas dengan yang diawasi perlu dipelihara jalur komunikasi yang efektif dan bermakna dalam arti bebas dari prasangka nigatif dan dilakukan secara berdayaguna dan berhasilguna, al hasil, tujuan pengawasan pendidikan Islam haruslah konstruktif, yakni benar benar  untuk memperbaiki, meningkatkan efektifitas dan efisiensi #