Minggu, 17 Agustus 2014

REFLEKSI KEMERDEKAAN ; BUKAN PESTA KEMENANGAN



Ust. Hefni Zain

 Ketika memeriksa bacaan putra putri kita dirumah atau melihat judul buku yang mereka hafal, kita kadang terkejut, karena yang mereka gemari bukannya kisah tentang perjuangan pangeran Diponegoro, Imam bonjol, jendral Sudirman, Bung Tomo atau Ra Kartini, melainkan sederet buku tentang kisah petualangan Cinderella karya Cristian Anderson, Asterix karangan Goscinny atau Lucky Luke  karya Morris X Fauchei.
Kisah kepahlawanan, semangat perjuangan dan pengorbangan tokoh-tokoh nasional telah tergeser oleh ketenaran Alice Cooper, Mc Hammer,  David Hewson, dan sejenisnya. Dan kalau masih ada yang berbau nasional, paling-paling hanyalah tentang Wiro Sableng atau  si Buta dari gua hantu. Film-film Nasional yang bernuansa perjuangan dan kepahlawanan semacam Naga bonar dan Cut Nya’ Dein  ternyata kalah menarik dengan Film Barat seperti Restless, Orginal Sin dan Titanic. Ibu-ibu muda juga tidak lagi mendendangkan  lagu Padamu negeri, Lir sa’ alir, tombo ati dsb, karena dianggap kalah ngetren dengan lagu Nowhere, A light That Never Comes, Meant to live, atau juga Dastaan dan Aon Sune Lehron Se. Kalau  toh ada lagu nasional yang kadang masih dinyanyikan, itu adalah tentang  “Indonesia  Sejak dulu Kala”(Kalah).
Apa makna ini semua kalau dikaitkan dengan refleksi hari kemerdekaan yang kita capai 69 tahun lampau ?  Bahwa selama ini telah terjadi  Brain Washing  pada masyarakat kita, struktur otak masyarakat kita telah dicuci habis oleh budaya tran nasional. Telah terjadi some think rong pada pemahaman kita tentang memperingati hari kemerdekaan.  Mustinya memperingati hari kemerdekaan adalah rekonstruksi actual dari semangat perjuangan, kepahlawanan, pengorbanan, persatuan dan semangat kebebasan, dan sama sekali bukan pesta kemenangan, sehingga aktifitas masyarakat dalam memperingati hari kemerdekaan harus dioerientasikan pada  upaya mempertebal  sejumlah semangat diatas.
Sudah 69 kali kita memperingati hari kemerdekaan, dan itu waktu yang sangat cukup untuk kita mengevaluasi dan mengaca diri. Seharusnya dalam kurun waktu yang seperti itu, kita tidak lagi mengirim TKW dan TKI yang rendah SDM menjadi kuli di negeri orang lain. Indonesia adalah negara yang sumber daya alamnya melimpah, namun sayang koruptornya juga melimpah,  belum lagi soal capital flight dimana para elit menanam modal besar besaran justru tidak di negeri sendiri, tetapi di negeri orang lain. Juga soal gaya hidup yg memihak pada barang-barang import,  akibatnya nasi pecel  Bu Topik (BT), rujak  cingur B Mat, bajigur Pak Dul  kalah bersaing dengan Fried  Chicken Kentucky, Mc Donald, Chips Patatos, Black Forest, Roots Beer, dan pasar-pasar tradisional terpinggirkan oleh Alfamart, Indomart dan sejenisnya. Padahal  sekali saja kita berbelanja barang-barang mereka sesungguhnya kita telah ikut serta membesarkan perekonomian mereka yang pada gilirannya membunuh diri kita sendiri. Itu artinya kita sedang memberikan lahan pekerjaan bagi orang lain disaat kita sendiri sedang megap-megap mencari pekerjaan.
Sejak neo liberalisme menjadi program utama bangsa ini orang miskin semakin tak mungkin menikmati hasil kemerdekaan seperti layanan pendidikan, layanan kesehatan, tempat tinggal yang memadai dan pekerjaan yang layak, neo liberalisme sebagai iodeologi dunia kini telah sukses meluluh lantakkan pertahanan hidup orang miskin yang termiskinkan oleh sistem global sehingga terlantar bahkan terjajah di negeri sendiri yang konon kaya.
Sesungguhnya tidak ada satu negarapun  yang bertugas menyusahkan apalagi menyengsarakan rakyatnya, tugas semua negara dimanapun adalah mensejahterakan, melindungi, mensehatkan dan mencerdaskan rakyatnya, namun  ajaib di negeri ini, laksana pesulap, tiba tiba saja hampir sebagian besar kebijakan pemerintah tidak memihak kepada orang miskin kendati mereka selalu mengatasnakamannya. 
Saya memang tidak punya data yang komplit tentang ketidak adilan, tetapi mataku tidak buta menyaksikan hingar bingar jalan raya yang kian dipenuhi kendaraan bikinan jepang, itali, as dan eropa,  sementara tukang becak terus tersingkirkan oleh kebijaksanaan pemerintah.  Pemain dabus, yang kebal senjata api, sekali pentas mendapat gaji 130 ribu Rp, tapi pejabat BPPN yang kebal hukum, digaji 130 juta sebulan. Rumah kumuh warga miskin digusur demi keindahan kota, dengan ganti rugi yang sangat rugi dan tak pernah untung.
Memang ada yang bernama rumah sakit islam Abu Bakar, tetapi biayanya tetap Abu Jahal, ketika seorang pasien tanya kepada dokternya,  Apa penyakit saya bisa disembuhkan dok ? tenang..nanti kalau tidak sembuh, kemari lagi ya.. gampang tho... Kendati secara konsepsional telah ada askes bagi warga miskin, tetapi dalam ranah operasionalnya selalu terbentur dengan prosedur birokrasi yang rumit dan berbelit belit, maka upaya manusia miskin mendapatkan layanan kesehatan seperti layaknya manusia lainnya hanya menjadi asa yang utopis, padahal mereka adalah manusia juga.
Kita mesti sering sowan dan berkontemplasi di hadapan makam para pahlawan, berapa banyak  para pendahulu kita yang rela mengorbankan segalanya untuk kemerdekaan ini ? betapa pedih perjuangan mereka,?  lalu kenapa kita tidak merasa punya beban moral kepada mereka? Kenapa supremasi hukum masih terus dipermainkan? Kenapa keadilan dan pemerataan belum sepenuhnya dilakukan ? kenapa biaya pendidikan masih mahal ? Dan kenapa koruptor-koruptor itu masih saja berkeliaran ? tidak malukah kita pada para pahlawan yang gugur sebagai bunga Bangsa? Kita memang termasuk generasi yang tidak pandai bersyukur dan tidak pandai nmenghargai jerih payah pendahulunya.
Kita memang harus banyak belajar, belajar dari kisah-kisah terdahulu sebagai bahan bercermin diri. Misalnya tentang pemerintahan Umar bin Abd Aziz gubenur syiria. Suatu ketika, Umar bin Abd Aziz lembur hingga larut malam menyelesaikan tugas tugas negara, kemudian putra tercintanya datang mengetuk pintu, wahai anakku adakah sesuatu yang sangat penting sehingga engkau datang menyusulku kemari ? Benar ayahanda, ada urusan keluarga yang mendesak untuk kita bicarakan, Umar kemudian mematikan lampu templek di ruang kerjanya sehingga ruangan itu menjadi gelap. Ayah..saya datang kemari untuk membicarakan urusan keluarga yang sangat penting, kenapa ayah mematikan lampu sehingga gelap begini ?  Dengan bijak Umar menjawab, anakku, kita akan bicara soal pribadi, sedang lampu itu adalah fasilitas negara yang dananya berasal dari rakyat, tidak pantas kita menggunakan fasilitas negara untuk soal pribadi. Saya berfikir, kalau saja di negeri ini semua pejabat negara berprilaku seperti Umar, pastilah saudara-saudara kita tidak perlu menjadi babu di negeri orang .
Kita bisa juga terpecut oleh sindiran halus Pak Ponimin yang rumahnya tergusur oleh pembangunan real estate. Dia mengatakan dengan lirih “ kita sabar saja menyaksikan korupsi, tahan hidup susah, bangga menjadi miskin. Kata dia, harga-harga memang semakin menggila, tapi yang sabar saja, bukankah kita hidup di sebuah negara yang paling ajaib di dunia, dimana makan atau tidak makan adalah persoalan biasa. Kita musti sabar, tahan lapar terus dan tetap kalem, sabar...cool...cool.
Zaman merdeka, penguasa adalah rakyat, zaman pembangunan, penguasa bukan lagi rakyat, zaman reformasi, penguasa pandai mengatasnamakan rakyat, zaman edan penguasa makan rakyat, zaman kiamat, penguasa sendirian tanpa rakyat #

MERDEKA ATAU MATI



Oleh : Ust. A. Hefni Zain

 Dalam pembukaan UUD 1945 disebutkan bahwa ”sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan prikemanusiaan dan prikeadilan”.
Melampaui itu, sejatinya kemerdekaan bukan saja hak segala bangsa tetapi juga hak semua manusia dimanapun berada baik yang punya bangsa atau tidak, bahkan kemerdekaan juga merupakan hak semua mahluk Tuhan di makro kosmos ini. Maka setiap bentuk distorsi atas kemerdekaan dan kebebasan semua mahluk Tuhan di jagad raya ini,  apakah itu eksploitasi, diskriminasi atau penjajahan (baik oleh bangsa lain atau bangsa sendiri, baik oleh orang lain atau diri sendiri), mutlak harus dilawan karena bukan saja bertentangan dengan prikemanusiaan dan prikeadilan  tetapi juga bertentangan dengan hak dasar (grand design) penciptaan semua mahluk, bertentangan dengan pri dan pro kemakhlukan.
Menyadari betapa vitalnya kemerdekaan bagi --utamanya-- makhluk spesies manusia, tak heran para pendahulu kita di negeri ini berjuang mati matian, termasuk rela mati beneran demi memperoleh dan mempertahankan kemerdekaan. Itulah harga sebuah kemerdekaan.  Munculnya istilah “merdeka atau mati” sesungguhnya menegaskan bahwa hidup manusia adalah diukur oleh kemerdekaannya, manakala kemerdekaan itu hilang darinya, maka dia dianggap tidak hidup kendati masih hidup, dia akan dianggap mati kendati belum mati, warga negara dihitung hidup hanya bila dia merdeka dalam segala bentuk dan maknanya.
Hidupnya bangsa ini adalah ketika ia memberikan kemerdekaan, kesejahteraan, kemakmuran dan kemanfaatan bagi seluruh rakyatnya. Apa makna pembukaan UUD 45 kalau yang berhasil memasuki pintu gerbang kemakmuran hanya segelintir orang saja, sementara yang lain (yang justru terbanyak) hanya berada diluarnya berdesak-desakan ?  Apa makna proklamasi kemerdekaan kalau sebagian besar rakyat Indonesia masih tetap menderita?                                    
Kemerdekaan sejati adalah terbebasnya manusia dari berbagai bentuk ketidak berdayaan dan keterbelakangan disegala bidang, kemerdekaan yang sesungguhnya adalah terbebasnya manusia dari berbagai  model penjajahan baik dari luar maupun dari dalam dirinya. Kemerdekaan yang hakiki adalah terbebasnya manusia dari berbagai bentuk ketergantungan terhadap apapun atau siapapun selain kepada yang Adi kodrati.
Lazimnya, penjajah selalu difahami sebagai sesuatu yang datang dari bangsa lain atau orang lain di luar kita, padahal sesungguhnya ia bisa juga datang dari dalam bangsa  kita sendiri bahkan dari diri kita sendiri. Prilaku sebagian pembesar bangsa kita bisa jadi justru yang penjajah dan menjadikan kita kehilangan kemeredekaan untuk dapat hidup layak sebagaimana adanya sesuai keadaan bangsa yang sumber daya alamnya dapat disebut melimpah, cara berfikir dan pola hidup sebagian kita juga acapkali menjadikan sebagian saudara kita terampas hak kebebasan dan kemerdekaannya.
Setelah lebih dari setengah abad Bangsa Indonesia merdeka dari penjajahan politik konvensional negara Asing, maka tugas kita kedepan adalah membebaskan masyarakat kita dari berbagai  bentuk penjajahan baru dari bangsa kita sendiri. Sebab tidak dapat dipungkiri, hingga saat ini  nilai dan semangat kemerdekaan yang diperoleh dengan pengorbanan harta, darah dan nyawa generasi sebelumnya belum sepenuhnya dipraktekkan di bumi tercinta ini, masyarakat kita belum sepenuhnya memperoleh kemerdekaan dalam arti yang sesunggunya. Betapa masih banyak kebodohan, kelaparan dan kesengsaraan hidup yang diderita sebagian rakyat indonesia. Tidak terhitung tubuh tubuh layu yang kurang gizi, masih jutaan anak bangsa yang putus sekolah karena tidak ada biaya. bahkan tidak sedikit saudara kita yang  terpaksa menjual imannya demi sesuap nasi untuk mempertahankan hidup. Emansipasi yang seharusnya membebaskan wanita dari berbagai bentuk eksploitasi sebagaimana diperjuangkan Kartini, saat ini malah terjadi sebaliknya. Wanita telah menjadi komoditas yang diperjual belikan dan dieksploitir. Dalam  realaitas seperti  ini benarkah kita sudah merdeka ?
Belum lagi pola hidup para elit yang sering kontradiktif  dan inkonsisten, Bagaimana rakyat bisa belajar hidup sederhana kalau para peminpinnya berlomba mengejar kemewahan ? Bagaimana mungkin rakyat dapat hidup sejahtera bila para peminpinnya tidak menjadikan kesejahteraan rakyat sebagai orientasi kepeminpinannya, Rakyat lebih sering diatas namakan daripada diberdayakan, lebih sering dipecundangi daripada ditunjangi, lebih sering digagahi daripada digugahi, lebih sering dimanfaatkan daripada berbuat untuk rakyat sesuatu yang bermanfaat. Kini rakyat mulai yakin bahwa banyak orang hanya membunuh macan untuk dimacani sendiri”. Indonesia adalah negara yang sumber daya alamnya melebihi negara-negara tetangga, tetapi kenapa masyarakatnya tidak memperoleh kesejahteraan seperti yang diperoleh masyarakat di negara tetangga itu ?
Dalam usianya yang lebih dari setengah abad, semua anak bangsa mesti mengevaluasi diri, apakah perkembangan bangsa ini sudah sebanding dengan nilai dan harga perjuangan genarasi sebelumnya yang telah merelakan segalanya demi kemerdekaan. Saya yakin, jika para bunga bangsa itu tahu apa yang terjadi di negeri ini setelah lebih dari setengah abad  merdeka, mereka pasti akan sangat kecewa.  Dan bisa jadi mereka menyesal  telah mengorbankan segalanya untuk kemerdekaan, jika anak cucunya yang diberi amanah untuk mempertahankan kemerdekaan justru malah menjajah bangsa sendiri.
Saya kira sudah saatnya semua pihak di negeri ini harus mulai berjuang merobah pola lakunya yang biasa memakan hari depan anak anaknya sendiri. Saatnya berperang melawan semua bentuk penjajahan kendati penjajah itu datang dari dalam diri kita sendiri, Jargonnya tetap sama “ Merdeka atau mati”.
 Ketahuilah semua kejahatan bermula dari yang sedikit, kemudian tiap orang sesudah itu menambahnya sehingga akhirnya menjadi sangat besar. Jika peminpin makan sebutir jeruk dari kebun rakyatnya, anak buah peminpin itu akan berlomba mencabuti seluruh pohonnya. Jika peminpin menilep sedikit saja uang rakyat atau uang negara, maka anak buah peminpin akan berlomba  menjual seluruh negerinya. saatnya para penguasa  belajar banyak, sebab rakyat telah mengalami banyak.
Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan sebuah kisah yang barangkali dapat menjadi sarana menakar diri : Suatu hari sang pengauasa secara resmi berbicara dihadapan rakyatnya “Wahai rakyatku, kalian semua mesti bersyukur kepada Tuhan karena sejak aku menjadi penguasa, negeri ini bebas dari wabah penyakit. Tiba tiba di tengah halayak, seorang rakyat jelata memberanikan diri intrupsi, maaf paduka, Tuhan kasihan kepada kami sehingga tidak mungkin memberi kami dua bencana sekaligus. Apa yang kamu maksud dua bencana ? Tanya si penguasa itu  penasaran,  yaa wabah penyakit dan anda sendiri, jawabnya lirih. #

Jumat, 11 Juli 2014

KEBIADABAN ISRAEL TAK TERLUKISKAN

Ust. Hefni Zain

Sangat sulit mendeskripsikan dengan kata-kata kebiadaban Israel atas bangsa Palestina, sebab kemaha biadaban, ektra brutal dan super sadis yang mereka lakukan atas penduduk Palestina tidak  lagi  berada dalam ukuran “manusia”, kemaha sadisan itu dilakukan oleh IDF (Angkatan bersenjata zionis Israel) yang telah kehilangan watak kemanusiaannya. Maka sebagaimana  disampaikan James Rohn (seorang profesor sosiologi pada John Hopkins University), bahwa siapapun yang masih merasa sebagai manusia yang menyaksikan kekejian itu tidak terperanjat dan spontanitas mengutuknya, pastilah ia bukan manusia kendati berbentuk manusia.
Chris Hedges, seorang kepala biro Timur Tengah The Times dalam wawancaranya dengan NPR menyebutkan “Saya pernah melihat  anak-anak dibrondong peluru di Sarajevo, saya juga telah melihat tentara kematian membantai keluarga-keluarga di Aljazair dan di El Salvador, namun saya belum pernah melihat kebiadaban tentara mencincang anak-anak dan bayi, menelanjangi para wanita dan memperkosanya beramai-ramai, lalu mereka membunuhnya untuk sebuah kesenangan. Mereka juga membongkar dengan bayonet perut wanita hamil dan mempermainkan oroknya yang penuh darah, bahkan ada seorang pria tak bersenjata yang sudah menyerah, kepalanya dibrondong dengan 47 peluru. Bagi Hedges, krisis Gaza merupakan kebiadaban terdahsyat dalam sejarah bentrok Israel Palestina sejak tahun 1967.
Dalam sebuah berita berjudul “Israeli Army Accused of Atrocities, The Los Angeles Times melaporkan bahwa mustahil menyebut angka pastinya, tapi ratusan warga sipil Gaza termasuk anak-anak dan perempuan telah dibantai dengan super sadis, bagi tentara zionis Israel, seluruh rakyat Palestina adalah sasaran. Mereka tidak peduli apakah orang-orang yang mereka temui itu anak-anak, perempuan, atau orang berusia lanjut. Para zionis menganggap pembersihan etnis seperti ini sebagai hal penting untuk memperluas negara Israel. Setiap saat bertemu dengan warga Gaza, tentara zionis berseru “Laktasour Otem,” yang berarti “Bereskan mereka!” lalu para maniak itu  mulai membantai dengan penuh kesenangan. Maka tidak heran bila di Gaza hari ini kita menyaksikan pemandangan yang sungguh menggetarkan, tubuh-tubuh tak berkepala, anak-anak yang dipotong-potong badannya, dan perut wanita yang terburai. Di Gaza hari ini, hampir mustahil menemukan sebuah keluarga yang tidak kehilangan anggota keluarganya karena peluru Israel, belum lagi yang lumpuh atau cacat. Dan yang paling menyakitkan, tatkala tentara-tentara zionis yang maniak itu berjingkrak sambil terkekeh-kekeh di atas ratusan mayat yang baru saja mereka bantai.
Gideon Levy, seorang penulis untuk surat kabar Israel Ha’aretz menyebutkan, Menurut ideologi  zionis, tidak boleh ada unsur asing apa pun di “tanah terjanji” Oleh karena itu tidak ada halangan membunuh anak-anak atau bayi sekalipun dalam buaiannya. Heilburn, mantan walikota Tel Aviv, menyatakan "Kita harus membunuh semua orang  Palestina kecuali mereka tunduk tinggal di sini sebagai budak." Karena itu hampir tidak ada hari tanpa darah tertumpah dari orang yang tak bersalah di Gaza. Tentara zionis Israel secara terencana menghancurkan penduduk Gaza. Desa-desa di bom, rumah-rumah dimusnahkan, dan ladang-ladang dibakar. Sementara kekejaman ini muncul di media internasional dari waktu ke waktu. Tetapi sungguh menyedihkan, para pemimpin dunia hingga kini masih belum cukup bertindak.
Doktrin yang disalah tafsirkan
Bangsa Yahudi awalnya boleh jadi merupakan bangsa yang terhormat, mereka adalah penghuni tanah para Nabi, namun  karena wataknya yang arogan, merasa spisies unggul pilihan Tuhan, dan selalu ingin bermusuhan dengan yang lain, maka sejak 700 tahun SM mereka selalu terusir dan dijadikan budak belian, bahkan akhirnya menjadi korban pembantaian besar-besaran Adolf Hitler Jerman. Karena itu mereka selalu memimpikan negeri nenek moyang sebagaimana dijanjikan dalam kitab Talmut. Kemudian sejak tahun 1882 mulailah mereka melakukan migrasi ketanah yang dijanjikan (Promised land) Palestina dan tahun-tahun berikutnya para pendatang yahudi (aliya) jumlahnya terus bertambah.
Menurut Yousef Haikal Salah satu penyebab kemaha biadaban zionis Israel terhadap penduduk Gaza dan dan Palestina pada umumnya adalah bersumber dari watak arogan yang didukung oleh doktrin ideologi zionis yang keblinger. Mereka mendasarkan tindakan brutalnya pada kitab Yosua yang sudah diputar balikkan, berdasarkan kitab  diatas mereka menganggap diri mereka sebagai (1) orang-orang pilihan (2) orang-orang yang unggul, dan (3) orang-orang yang dilebihkan dari etnis lainnya.
Memang dalam Al-Qur'an disebutkan “Hai Bani Israil, ingatlah akan ni'mat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan (ingatlah pula) bahwasanya Aku telah melebihkan kamu atas segala umat. (QS.2 : 47), Juga pada Qs. 45 :16 “ Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Bani Israil Al Kitab (Taurat), kekuasaan dan kenabian dan Kami berikan kepada mereka rezki-rezki yang baik dan Kami lebihkan mereka atas bangsa-bangsa (pada masanya). Tetapi ayat-ayat ini tidaklah menyiratkan "orang pilihan" seperti yang dipahami orang-orang Yahudi radikal. Ayat-ayat tersebut menunjukkan kenyataan bahwa banyak nabi-nabi yang datang dari keturunan ini, dan bahwa orang-orang Yahudi memerintah di daerah yang luas pada saat itu. Ayat-ayat tersebut menerangkan bahwa dengan berkat kedudukan kekuasaan mereka, mereka "lebih diutamakan di atas semua manusia lain." Tetapi tatkala mereka menolak Isa, keutamaan itu pun berakhir.
Al-Qur'an menyatakan bahwa orang yang terpilih tersebut adalah para nabi dan orang-orang beriman yang Allah tunjuki kepada kebenaran. Ayat-ayat tersebut menyebutkan bahwa para nabi itu telah dipilih, ditunjuki jalan yang benar, dan diberkati (Qs.19 : 58),  Namun orang-orang Yahudi radikal, meyakini "orang yang terpilih" sebagai ciri kebangsaan sehingga mereka menganggap setiap orang Yahudi terlahir unggul dan bahwa Bani Israil selamanya dianggap unggul dari semua manusia lainnya. Semakin parah, tatkala “perasaan unggul” tsb dijadikan motivasi untuk melakukan kekejaman atas bangsa lain." Untuk tujuan ini, para Zionis membenarkan perilaku mereka melalui kebencian-kebencian turun-temurun yang bisa ditemukan dalam Talmud. Menurut pandangan ini, hal yang lumrah bagi orang-orang Yahudi untuk menipu orang-orang non-Yahudi, untuk merampas hak milik mereka, bahkan jika diperlukan, membunuh mereka, termasuk wanita dan anak-anak.
Disamping itu ajaran zionis juga menyebutkan bahwa kembalinya orang Yahudi ke Palestina merupakan sebuah “tujuan suci” dan perang yang dilancarkan mereka untuk mencapai tujuan tersebut adalah sebuah “perang suci.”  Rabbi Shlomo Goren peminpin Rabbi (pemuka agama yahudi) untuk kelompok Ashkenazic (Yahudi Eropa barat) di Israel berfatwa bahwa tindakan tentara zionis atas penduduk Palestina merupakan tugas suci keagamaan yang sesuai dengan  halakha (hukum agama Yahudi) dan perintah Yahweh (Tuhan agama yahudi). Kitab kita mengajak dengan penuh kebanggaan untuk melakukan tindakan kejam oleh Bani Israel, dibawah pimpinan Yosua atas pribumi Palestina.
Dalam karya klasiknya The Case of Israel: A Study of Political Zionism, Garaudy menyebutkan bahwa Kitab Yosua, seringkali dijadikan propaganda oleh para rabbi dalam menganjurkan perang suci bagi tentara zionis untuk melakukan pemusnahan atas penduduk yang ditaklukkan, menumpas dengan “mata pedang” segala sesuatu “baik laki-laki maupun perempuan, baik tua maupun muda,” (Yosua, 6:21), Propaganda turun temurun dari para pemuka agama yahudi ini, ditambah lagi dengan ungkapan bahwa “orang-orang terpilih Israel adalah spesies unggul dari Nil hingga Eufrat” telah membentuk dasar-dasar ideologi Zionisme Israil. Perlakuan brutal tentara Israel atas warga Palestina adalah akibat langsung  dari ajaran ini.

Pembantaian itu harus dihentikan
Pembantaian zionis Israil  atas warga Palestina sesungguhnya sudah berlangsung sejak lama, yakni sejak zionisme pertamakali dibawa ke dalam agenda dunia di akhir abad ke sembilan belas oleh Theodore Herzl (seorang wartawan Yahudi asal Austria),  Tetapi yang populer dari catatan sejarah pembataian warga Palestina oleh zionis Israel adalah  (1) pembantaian King David, tahun 1946 yang menewaskan 920 orang (2) Pembantaian Baldat Al-Shaikh, Yehida, Khisas dan Qazaza tahun 1947 menewaskan hampir 2000 orang, termasuk anak-anak yang tak berdosa (3) Di tahun 1948 puluhan ribu warga Palestina tewas oleh pembantaian tentara zionis di Hotel Semirami,  Naser al-Din,  Tantura,  Masjid Dahmash, Dawayma,  Houla,  Salha, dan Deir Yassin, (4) di Tahun 1956  ribuan warga Palestina tewas oleh pembantaian tentara zionis di  Kafr Qasem,  Khan Yunis dan Gaza, (5) Tahun 1981 ribuan warga Palestina tewas oleh Zionis di Fakhani, (6) Pembantaian di Mesjid Ibrahimi, tahun 1994 : 2500 warga sipil tewas (7), Pembantaian di Qana, tahun 1996 : 509 tewas (8) tahun 1994 pembantaian terjadi lagi di Sabra dan Shatilla yang menewaskan ribuan warga sipil palestina, Mereka di tahun 1994 juga membantai 4000 anak-anak dengan membagi-bagikan coklat yang sudah diracuni.  Bahkan dikatakan sejak September hingga desember 2007 sebanyak 936000 orang Palestina tewas, angka-angka ini belum termasuk yang hilang tanpa bekas .
Melihat kekejian ini, saya kira umat Islam tidak boleh berdiam diri, sebab menurut Nabi saw, persaudaraan kaum muslimin ibarat sebuah bangunan, yang satu harus menguatkan yang lainnya. Kita mesti merespon teguran Allah” Mengapa kamu tidak mau berperang dijalan Allah dan membela orang- orang lemah”. (Qs. 4 : 75). Saat ini layak ditanyakan dimana gerangan para laskar jihad yang sering terlihat garang di negeri sendiri itu ? dimana pula para kyai yang sangat khusu’ istighosah untuk memenangkan capres tertentu itu ?
Wahai saudaraku, kendati kita mencintai perdamaian, tetapi bukan berarti mengabaikan kehormatan sebagai kaum muslimin. Ketika saudara kita diperangi. Maka Allah mengizinkan kita berperang dalam segala bentuknya (Qs. 22 : 39). Boleh jadi anda mencibir oang-orang yang keras meneriakkan jihad sebagai pihak yang menjadikan agama sebagai alat politik, tetapi jangan lupa bahwa membiarkan pembantaian manusia secara besar-besaran adalah perbuatan dosa yang anda juga menanggungnya.
Kini bukan saatnya berseminar, ber talkshow atau berdiskusi sebab yang dibutuhkan saudara kita di Gaza bukan hasil seminar. Jangan hanya musuh yang dikecam, sebab umat Islam sendiri atau negara mayoritas muslim yang karena kepecikan dan ketergantungannya telah membuka jalan bagi kemenangan musuh dan kebinasaan diri sendiri. Inilah yang disebut Nabi saw sebagai : Al-Ujara’ dan Al-Mutahawwinun (Orang yang menjual dirinya kepada musuh Islam) dan (orang- orang yang tidak ambil pusing terhadap kejadian-kejadian yang sedang melanda kemanusiaan),.Padahal sangat jelas sabda Nabi saw yang menyebutkan “Barang siapa diantara kaum muslimin yang tidak memperhatikan urusan kaum muslimin yang lain, maka mereka bukan termasuk golongan umat ku".

Andai semangat dukungan mati-matian seperti yang diperlihatkan para tokoh Islam kepada capres dapat dialihkan ke rakyat Gaza tentu akan sangat bermanfaat, sebab  aksi kecaman atau mengutuk keras saja, juga domo solidaritas, dan bahkan qunut nazilah, Saya kira tidak cukup untuk membantu dan menyelamatkan Gaza dari  kebiadaban Israel, Butuh tindakan yang lebih kongkit dari kaum muslimin dan pimpinan negara Islam di seluruh dunia.  

Minggu, 06 Juli 2014

DENGAN PUASA : ULATPUN BEREVOLUSI MENJADI KUPU-KUPU

Ust. Ach. Hefni Zain

Ulat adalah mahluk yang paling dibenci mahluk lain,  bila ulat menghampiri tubuh bayi, maka pasti bayi itu akan menjerit karena tubuhnya gatal semua, bila ulat nempel di baju,  pasti akan disingkir, kalau jatuh di makanan pasti akan di buang. Alhasil, dimanapun berada, ulat selalu dimusuhi, di rumah, di halaman atau dimanapun, ulat selalu diusir, bahkan tatkala ulat menyingkir atau mengungsi ke sawah atau ladang, bersembunyi di berbagai tanaman atau di dedaunan, masih saja dicari, diburu, disemprot dengan racun untuk dibasmi. Bila sebuah organisasi kisruh, orang menyebut karena ada sebagian anggotanya yang menjadi ulat. Prilaku ulat dangan segala karakternya membuat apapun menjadi berantakan.
Menyadari tidak ada tempat aman baginya, konon, ulat protes pada Nabi Sulaiman,   Ya Nabiyulloh ! kenapa nasib kami benar-benar sial, kemanapun kami pergi selalu diburu, rasanya tiada tempat yang aman bagi kami di dunia ini,  kami dianggap lebih berbahaya dari gerombolan teroris ? Lalu Nabi Sulaiman memerintahkan ulat untuk berpuasa, maka ulatpun berpuasa dan bersemedi di tempat tersembunyi, ia tidak hanya puasa biologis dan hormonal, tapi juga berpuasa dari segala bentuk akhlaqul madzmumah, termasuk puasa bicara. Ia beristiqomah taqorrub pada penciptanya, Ia melatih diri untuk tidak tergantung kepada hal-hal yang fisikal,  Ia berperang melawan dirinya sendiri, ia berusaha melemahkan ”ego kecilnya” ia sadar bahwa untuk memunculkan ego besar syaratnya terlebih dahulu harus berhasil melemahkan ego kecilnya. Untuk memunculkan nilai malakiyah syaratnya mesti terlebih dahulu mengikis habis nilai hewaniyah.
Setelah empat puluh satu hari ulat berpuasa, berubahlah ia menjadi kupu-kupu. Sebuah transformasi dan metamorfose eksistensi, predikat dan fungsi yang betul-betul 180 derajat. Bila semula (ketika masih sebagai ulat) ia dimusuhi semua mahluk, kini setelah berpuasa ia disenangi semua mahluk, dulu ketika berjalan, ia merayap tertatih-tatih dan sangat lambat mencapai tujuan, kini untuk mencapai tujuannya ia berubah super cepat dengan cara terbang .

Kini siapapun yang ”masih menjadi ulat” yang tidak disenangi  semua pihak, yang dalam menuju cita-citanya sangat lambat, merayap dan tertaih-taeih,  maka berpuasalah dengan sungguh-sungguh, bertransformasilah dan tinggalkan predikat lama, segeralah menyongsong predikat baru dengan segala keistimewaannya. Bila, dengan berpuasa ulat saja bisa bermetamorfose menjadi kupu-kupu,  apalagi kita, mahluk yang berakal. Itulah diantara keutamaan puasa. 

Senin, 30 Juni 2014

SEMBUHKAN PENYAKITMU DENGAN BERPUASA

Hefni Zain

Shumu tasehhu : berpuasalah agar kalian sehat (al-Hadits)

Muqoddimah
Meskipun terus ditutup-tutupi, tetapi sulit dibantah bahwa bangsa ini tengah mengidap penyakit (terutama : batin) yang kronis dan bersifat massif,  dan hingga kini belum ditemukan cara efektif untuk menyembuhkannya.  Ironisnya, penyakit itu telah menyebar luas menjangkiti hampir seluruh sendi bangsa ini. Hampir di semua lembaga (terutama : politik, hukum dan pemerintahan), orang-orangnya telah terinveksi penyakit psikologis akibat persaiangan dan perburuan atas mahluk paling sexy yang bernama harta dan tahta, persaingan itu kemudian secara evolutif membentuk gaya hidup bahkan menjadi budaya yang dilumrahkan.
Menurut data Human Development Index tahun 2009, Indonesia menempati peringkat ke 112 dari 175 negara berpenyakit, persis dibawah nagera  Somalia, tetapi yang aneh di Indonesia semuanya merasa tidak berpenyakit kendati indikatornya sudah sangat jelas. Memang  dokter tidak dapat mendiagnosis penyakit  jenis ini, tetapi masyarakat awam sangat jelas melihatnya, sebab penyakit sejenis itu tidak saja menodorong penderita berkelakuan tidak beres, tetapi lebih jauh akan mempengaruhi nasib atau menyakitkan orang banyak. Belum lagi praktek mafia bisnis obat obatan yang menjanjikan laba besar, omzet industri farmasi di indonesia mencapai angka Rp 18 trilyun perbulan. Dari data PMA periode Januari – September 2010 sektor industri kimia dan farmasi menempati posisi tertinggi dalam meraup keuntungan, yakni mencapai 510,1 juta US dolar, sedang PMDN mencapai Rp, 4,13 trilyun. Inilah yang menyebabkan praktek mafia pengusaha farmasi, penguasa dan dokter semakin subur di negeri  (badut)  ini.
Dalam sebuah konferensi yang dihadiri  puluhan pakar dan guru besar di USA, Prof. Dr. Benjamin E.Mays, seorang rektor pada Morehouse Collage Gorgia mengeluarkan statemen  mengejutkan,  Dia mengatakan bahwa lembaga pendidikan modern saat ini hanya menghasilkan manusia  yang berpenyakit, lebih banyak melahirkan orang- orang pandai, tapi kian sulit melahirkan orang-orang jujur, manusia yang bernalar tinggi tetapi berhati kering, Bagi Benjamin peradaban dunia saat ini bukan lagi membutuhkan pengetahuan,  sebab pengetahuan sudah banyak kita miliki, yang mendesak bagi  peradaban global adalah sesuatu yang spiritual (some thing spiritual), sebab jika mencetak manusia yang berfikir saja, tak ubahnya dengan  binatang yang bercacat (I’homme qui medite est un animal deprave)
Manusia adalah semacam radio dua band. Bila satu potensi dikembangkan luar biasa sedangkan potensi yang lain diabaikan, maka dia akan menjadi mahluk yang bermata satu. Seorang pejabat akan melihat kemelaratan rakyat jelata sebagai angka angka yang dapat dikalikan dengan satuan biaya  dan menghasilkan komodity dan proyek miliyaran rupiah, tetapi ia tidak mampu memaknai butir-butir air mata kepedihan dibalik mata-mata yang cekung dan derita kemelaratan disela sela tulang rusuk yang mencuat. Seorang praktisi hukum dengan cepat mengetahui pasal mana yang dapat dipakai untuk memenangkan perkara, tetapi buta dengan isyarat keadilan sehingga  kliennya berubah menjadi mesin ATM atau sapi perahan.
Kalau bagi Thomas Marton , dalam bukunya “Mysticism in the Nuclier Age” kita tidak bisa menyelamatkan dunia hanya dengan sebuah sistem,  maka tentu saja kita juga tidak bisa memperbaiki karakter bangsa ini tanpa orang-orang suci dan jujur. Tidak ada satu sistem, teori atau metode yang dapat mengeluarkan kita dari kegelapan ini, kita memerlukan orang-orang suci yang dengan sinar ruhaniyahnya memancarkan cahaya untuk menerangi kegelapan. Jadi dunia sekarang lebih memerlukan kehadiran satu manusia suci dari pada seribu manusia nalar.

Hubungan puasa dengan kesehatan
Puasa sesungguhnya bukanlah obat untuk penyakit dan kelainan, Dia tidak menyembuhkan apa-apa.  Tujuan utama dari puasa dalam konteks kesehatan adalah untuk memberikan kesempatan dan keleluasaan bagi tubuh untuk melakukan  terapi diri, perbaikan diri dan peremajaan diri sebaik mungkin.  Puasa menjadikan tubuh seseorang beristirahat secara psikologis dan menyebabkan  efektif 100 % dalam penyembuhan. Puasa menempatkan tubuh manusia dalam keadaan dimana tenaga vital tubuh kita dimanfaatkan membuang semua kotoran tubuh yang berbahaya bagi kesehatan seseorang. Puasa membantu tubuh menolong dirinya sendiri. Tubuh manusia dibekali kemampuan terapi alamiyah, dengan kemampuan itu, meski tubuh tidak mendapat sebutir nasipun dalam sehari, manusia tetap mempunyai cadangan energi (Glikogen) yang dapat bertahan selama 25 jam.  Oleh karena itu orang yang berpuasa tidak perlu hawatir akan sakit. Justru  dengan berpuasa  akan membawa hikmah kesehatan yang luar biasa.
Dalam buku The Miracle  of fasting diceritakan : Paul C Bragg, PhD seorang dokter specialis di Health science California, yang menghabiskan hampir seluruh usianya untuk meneliti dan memeriksa ribuan orang berpuasa, mengemukakan, saya memperoleh hasil yang menakjubkan, bahwa tubuh manusia dapat bekerja sendiri dalam periode tertentu tanpa makanan sama sekali. Keadaan puasa dapat memberikan waktu istirahat dan pemulihan diri bagi sel-sel  organ internal tubuh yang selama ini telah bekerja keras dan berlebihan. Puasa memicu kekuatan dan vitalitas dalam tubuh untuk membersihkan endapan endapan racun yang tersimpan dalam tubuh seseorang selama bertahun tahun. Karena puasa mengembangkan tenaga vital manusia kepada tingkat efisiensi yang paling tinggi, puasa juga dapat menodrong penghancuran tumpukan zat-zat kimia dan pencemar tubuh lainnya yang tak bisa dibersihkan dengan cara apapun.
Selama berpuasa  organ hati yang diketahui sebagai  laboratorium kimia dari tubuh manusia yang paling banyak diforsir akan mendapatkan kesempatan untuk mengumpulkan tenaga dan memulihkan dirinya, sehingga setelah itu hati  akan bekerja  jauh lebih ringan dan  efeisien. Seluruh alat sensor manusia akan mengalami peningkatan dan bekerja pada  tingkat efisiensi yang tinggi selama dan sesudah berpuasa, Tak ada satupun proses  terapi yang dapat memenuhi semua kebutuhan perbaikan akan kesehatan yang prima selain dengan berpuasa. Puasa merupakan proses mengangumkan yang dapat memperlancar sirkulasi darah ke semua posisi, sehingga tenaga,  daya tahan dan stamina seseorang yang berpuasa bertambah secara alami, termasuk juga pikiran org yang berpuasa akan menjadi lebih peka karena sirkulasi darah ke syaraf otak  menjadi  sangat lancar, impacnya : logika akan cair dan cara hidup akan  lebih logis. Dengan puasa pikiran menjelma menjadi sangat kuat sehingga dapat mengendalikan seluruh anggota tubuh, puasa telah dapat membuat mental seseorang tentram dan kuat, sebab jutaan sel  dapat diremajakan dan dimurnikan  sehingga membuat struktur yang menakjubkan bagi kesehatan lahir  dan batin manusia.
Ali bin Abi Tholib pernah mengatakan ”Jangan jadikan perut anda sebagai kuburan dari hewan dan tumbuh-tumbuhan”.  Memang kita sering menjadi semacam omnivora (pemakan segala) tanpa memperhatikan halal-haramnya, termasuk konsekwensi yang mungkin ditimbulkannya, padahal sumber  penyakit itu acapkali berasal dari makanan. Sakit perut, muntaber, hiper tensi, gula darah, asam urat, dll  itu dari pola makan. Orang yang serakah mengejar kepentingan perut tanpa memperhatikan halal haromnya juga bentuk penyakit hati.
Puasa ramadlan mengajarkan dan melatih pelaku pelakunya untuk makan, untuk memiliki sejumlah kekayaan, untuk menggenggam kekuasaan, untuk menjadi ini dan itu atau melakukan apa saja, hanya ketika benar-benar dalam keadaan “lapar sejati” bukan dalam keadaan lapar nafsu. Puasa mengajarkan pelakunya untuk mengambil jarak dengan nafsu. Melatih untuk tidak melakukan penumpukan kekayaan, monopoli, korupsi  dan semacamnya  yang melebihi kebutuhan makan sejati. Tetapi alangkah sedihnya kita menyaksikan betapa dunia ini dihuni oleh banyak manusia yang tak henti hentinya makan meskipun tidak lapar , tak henti hentinya makan meskipun sudah  sangat kenyang.

Riset  tentang kesehatan orang berpuasa
Hasil riset Prof Hembing menunjukkan bahwa : (1) Jumlah sel darah putih orang yang berpuasa mengalami peningkatan yang drastis, sehingga secara otomatis akan meningkatkan kekebalan tubuh, karena fungsi sel darah putih adalah melawan peradangan yang ada dalam tubuh setiap manusia, (2) Memberi waktu istirahat  kepada alat pencernaan,  yang bila orang tidak puasa, alat pencernaan  ini  bekerja ekstra keras.  Pemberian waktu istirahat pada alat pencernaan adalah sangat penting , agar ia tidak cepat aus, juga agar terjadi peremajaan. (3) Orang yang berpuasa selain dapat meningkatkan kesehatan kulit, juga cadangan energi yang tersimpan dalam organ tubuh akan dikeluarkan sehingga melegakan pernafasan organ-organ tubuh, peristiwa ini dikenal dengan istilah peremajaan sel. (4) Dalam tubuh manusia terdapat  limbah berbahaya, seperti Fases, CO2, urine dan kringat. Dengan puasa suplai makanan yang masuk kedalam tubuh terbatasi, sehingga penumpukan  racun, kotoran dan ampas ampas dalam tubuh dapat dicegah. (5) Dengan menghentikan suplai makanan dalam waktu tertentu, kuman penyakit, bakteri dan sel kanker tidak akan dapat bertahan hidup, mereka akan keluar melalui cairan tubuh bersama sel yang mati. (6) Diantara penyakit yang dapat sembuh dengan berpuasa menurut kesimpulan riset diatas antara lain : Pengerasan pembuluh darah, penyempitan pembuluh darah, tekanan darah tinggi, kanker hati, kanker lambung, diabetes, hapatetis, pendarahan otak, tukak usus, tukak lambung, radang tenggorokan, batu empedu, beri-beri, obesitas, malaria, maag, ambeien, kolesterol tinggi, disentri, stroke, TBC, tomur rahim, bronkitis, dll (7) Dengan puasa selain serkulasi darah sangat lancar ke sel sel otak yang dapat mencerdaskannya, juga fungsi susunan syaraf yang berpengaruh pada kejiwaan juga optimal, sehingga kondisi jiwa menjadi seimbang, tenang dan rilek,  pelbagai bentuk penyakit hati seperti : tamak, dengki, dendam, fitnah, takabbur akan diredam oleh terapi puasa ramadhan. Dengan kondisi seperti itu maka fungsi fisiologis saraf pusat berada dalam puncak stabilitas dan normalisasi.
Puasa merupakan program vaksinasi mondial yang akan memperkuat manusia dengan berbagai vitamin batin. Seperti latihan sabar, jujur, sederhana, pemaaf, menahan marah, positif thinking. Puasa adalah semacam program peragihan ruhani, guna menyiapkan batin agar punya kekebalan terhadap berbagai bentuk penyakit.  Tujuan puasa adalah mencetak manusia taqwa, yakni manusia tawadu’,  qonaah,  wara’ dan  yaqin. Dengan tawadu’  penyakit angkuh, arogan, congkak, riya’ sombong, ujub, takabbur akan hilang.   Dengan Qona’ah  penyakit rakus dan serakah akan hilang.    Dengan wara’ penyakit  grusa-grusu dan  sikut kiri kanan akan hilang.    Dan dengan  yaqin,  penyakit  psimistis, rendah diri dan ragu ragu akan hilang.   

Catatan Penutup

Bila puasa menjadi mata pelajaran kehidupan sehari hari, bila puasa tidak hanya dipraktekkan dibulan ramadlan saja, juga bukan urusan fiqh semata, tetapi menjadi pendidikan universal  bagi  pola laku seluruh masyarakat yang dengannya  semua dapat menahan dan mengendalikan diri dari berbagai bentuk keserakahan, ketidak adilan, kebakhilan, korupsi, dan  berbagai bentuk kemaksiatan, tentu  semua penyakit yang menjangkiti kita akan tersembuhkan. Pelaku puasa yang demikian yang kemudian pantas merayakan idul fitri, yakni ruju’ minal mukholafah ila al muwafaqah (kembali dari menentang Allah kearah menyesuaikan deri dengan perintah Allah) Tetapi bila tidak, maka puasa kita hanyalah rutinitas yang bersifat  serimonial belaka. 

Minggu, 29 Juni 2014

PUASA BICARA ; MEMILIH PEMIMPIN DENGAN SUARA HATI

Ust. Hefni zain

Sebagaimana dimaklumi bahwa puasa hanya diperuntukkan kepada orang-orang yang beriman (Qs.2 : 183), dan diantara tanda orang beriman adalah mereka yang hanya berbicara yang baik atau diam saja (hadist). Yang dimaksud puasa bicara adalah meninggalkan pembicaraan yang tidak berguna. Ciri mukmin sejati adalah menghindarkan pembicaraan yang tidak ada manfaatnya. Puasa itu adalah junnah,  maka apabila seseorang  berpuasa  janganlah berbicara keji, kotor, provokatif, jahil dan hingar bingar. Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan zur (dusta, umpat, fitnah, jahil, propokatif dan segenap perbuatan yang mendatangkan murka Allah) maka tiada hajat bagi Allah ia meninggalkan makanan dan minumannya.
Sesungguhnya Tuhan setiap saat memberi isyarat-isyarat gaib-Nya kepada kita melalui hati kita. Jika mulut kita terlalu bising karena banyak bicara, maka isyarat-isyarat gaib itu akan lirih bahkan hening karena terhalang oleh riuhnya  suara mulut kita. Bila kita puasa bicara, Tuhan akan memperdengarkan kepada kita dengan nyaring, jelas dan jernih suara hati nurani kita. Lewat hati, yang merupakan taman Tuhan dalam diri kita, Tuhan meenyampaikan petunjuk-Nya. Karena kita terlalu banyak bicara, kita tidak lagi sanggup mendengar suara Tuhan dalam hati nurani kita. Kita menjadi tuli, karena mulut kita terlalu bising. 
Jika kita puasa bicara, itu berarti kita membuka ruang yang lapang bagi hati kita untuk bicara lebih banyak. Sebenarnya kita memiliki hati yang selalu mengajak kita berbicara (Qs. Al-Qiyamah: 2). Ketika mulut seseorang terlalu banyak bicara, ia tidak akan dapat mendengar suara hati nuraninya. Suara hatinya tersumbat oleh riuhnya suara-suara mulutnya sendiri. Bila kita terlalu banyak bicara, kita takkan mampu untuk mendengarkan isyarat-isyarat gaib yang datang kepada kita. Suara mulut kita terlalu riuh sehingga isyarat-isyarat dari alam lahut tak terdengar oleh hati kita.       

            Bukankah selamatnya manusia tergantung pada lisannya.Ada saatnya kita bicara, ada saatnya kita mendengar, kita bicara agar orang lain dapat mengerti, kita mendengar agar kita bisa memahami. Maka diam bukan berarti Lemah. Kadang kita tahu apa yang harus dikatakan, tapi kita tak ingin melukai perasaan seseorang. Pada titik inilah maka kerendahan seseorang dapat diketahui melalui dua hal : banyak bicara tentang hal-hal yang tidak berguna, dan suka bercerita banyak hal padahal tidak ditanya.Itulah sebabnya  Tuhan memberi kita dua telinga dan satu mulut, agar kita lebih banyak mendengar daripada berbicara. Maka pilihlah pemimpin berdasarkan isyarat Tuhan pada hati kita, bukan dari suara orang-orang yang mencari rejeki dengan jalan banyak bicara (kampanye). Syaratnya kita harus puasa bicara.