Sabtu, 20 Desember 2014

RECOGNIZE THE HUMAN PERSONALITY

Hefni Zain

Muqaddimah
Carl Gustav Jung, dalam  Researches In To The Phenomenology Of The Self, membagi kepribadian manusia dalam tiga jenis, yakni  introvert (introversion),  extrovert (extraversion) dan ambievert (ambiversion). Introvert  atau Introversion adalah kepribadian manusia yang berkaitan dengan dunia dalam pikiran manusia itu sendiri. Jadi manusia yang memiliki sifat introvert ini cenderung menutup diri dari kehidupan luar. Mereka adalah manusia yang lebih banyak berpikir dan lebih sedikit beraktifitas. Mereka juga orang-orang yang lebih senang berada dalam kesunyian atau kondisi yang tenang, daripada di tempat yang terlalu banyak orang.
Ciri-ciri introvert: senang menyendiri, pemikir,  pemalu,  pendiam,  lebih senang bekerja sendirian, ebih suka berinteraksi secara langsung dengan satu orang, susah bergaul,  senang berimajinasi, jarang bercerita, lebih suka mendengarkan orang bercerita,
senang dengan kegiatan yang tenang (membaca, bermain komputer, memancing, bersantai dsb), lebih senang mengamati dalam sebuah interaksi, berpikir dulu baru berbicara/melakukan, lebih mudah mengungkapkan perasaan dengan tulisan.,
Sementara Extrovert atau Extraversion merupakan kebalikan dari Introvert. Manusia dengan kepribadian extrovert berkaitan dengan dunia di luar manusia tersebut. Jadi manusia yang memiliki sifat extrovert ini lebih cenderung membuka diri dengan kehidupan luar. Mereka adalah manusia yang lebih banyak beraktifitas dan lebih sedikit berpikir. Mereka juga orang-orang yang lebih senang berada dalam keramaian atau kondisi dimana terdapat banyak orang, daripada di tempat yang sunyi.
Ciri-ciri Extrovert: senang bersama orang,  percaya diri (kadang bisa berlebihan), . aktif, lebih senang bekerja kelompok, suka berinteraksi dengan banyak orang sekaligus, gampang bergaul (supel), senang beraktifitas, senang bercerita, daripada mendengarkan orang bercerita, senang dengan kegiatan dengan banyak orang (jalan-jalan, pergi ke konser, nongkrong, berpesta dsb), senang berpartisipasi dalam sebuah interaksi,  berbicara/melakukan dulu baru berpikir, lebih mudah mengungkapkan perasaan dengan kata-kata.
Adapun Ambievert atau Ambiversion adalah kepribadian manusia yang memiliki dua kepribadian, yaitu Introvert dan Extrovert. Manusia dengan kepribadian ambievert dapat berubah-ubah dari introvert menjadi extrovert, atau sebaliknya. Memiliki kepribadian ambievert ini bisa dibilang baik, karena manusia tersebut bisa fleksibel untuk beraktifitas sebagai introvert ataupun extrovert, serta dapat berinteraksi dengan introvert dan extrovert dengan baik. Tidak seperti Introvert yang susah bergaul dengan Extrovert dan sebaliknya.
Namun, kekurangan dari kepribadian ini, karena memiliki kepribadian di antara introvert dan extrovert, orang dengan kepribadian ambievert jadi sering terlihat moody, karena sifatnya yang sering berubah-ubah.

Ulasan Kritis
Tatkala mendengar kata introvert, kita langsung membayangkan seseorang yang pemalu, penyendiri, dan hanya sedikit bicara, jika anda beranggapan seperti itu, maka anda tidak salah, tapi juga tidak sepenuhnya benar. Karena apa yang dipaparkan di atas hanyalah sebagian kecil dari unsur atau pengertian introvert yang sebenarnya, yang sayangnya digunakan kebanyakan orang untuk melabeli orang tertentu dengan sebutan introvert.
Pada dasarnya, introvert merujuk pada jenis kepribadian seseorang yang merupakan lawan dari ekstrovert. Jenis kepribadian introvert atau ekstrovert ini merujuk pada preferensi-preferensi yang dipilih oleh seseorang.  Sementara  preferensi-preferensi itu dipilih berdasarkan hal-hal yang terasa lebih nyaman untuk dilakukan atau dijalani. Dengan kata lain, kepribadian akan menentukan definisi kenyamanan. Nyaman bagi orang ekstrovert belum tentu nyaman bagi orang introvert. 
Introvert
Ekstrovert
Energized by the inner world
Energized by the outer world
Inward
Outgoing
Quiet
Talkactive
Think and may act
Acts first Thinks later
Values Depth Of Experience
Values Breadth Of Experience

Introvert adalah orang yang berorientasi  ke ‘dalam’ diri mereka sendiri (inward thinking). Mereka tertarik pada dunia ide, pemikiran, dan konsep sehingga orang-orang  introvert sangat menyukai suasana tenang untuk menyendiri untuk berpikir ataupun beraktivitas.  Sumber energi mental mereka berasal dari proses ‘menyendiri’ ini sehingga bagi orang yang tidak mengerti, orang introvert terkadang disalah artikan sebagai pribadi yang anti sosial dan tertutup. Ketika orang introvert bersosialisasi dengan banyak orang, maka ‘stock’ energi mental  mereka perlahan-lahan akan berkurang dan ketika itu terjadi, maka mereka akan ‘mengisi ulang’ dirinya dengan menyendiri.  Banyak pemikir, seniman atau orang-orang hebat yang merupakan orang introvert. Nama-nama seperti Albert Einstein, Abraham Lincoln, Steven Spielberg, sampai businessman sekelas Bill Gates adalah contoh notable orang-orang introvert yang sukses dalam pekerjaan mereka.
Ekstrovert adalah orang-orang yang kepribadiannya sangat bertolak belakang dengan orang introvert karena mereka adalah orang-orang yang berorientasi ke ‘luar’ diri mereka (outward thinking).Ciri dari orang ekstrovert adalah outgoing, pandai bersosialisasi, dan senang mengobrol.  Jika orang introvert mengisi energinya dengan menyendiri, maka orang ekstrovert justru mendapatkan energi mentalnya dengan bersosialisasi dan bertemu orang banyak. Ketika mereka sendiri, mereka akan merasa tidak tenang karena itu akan ‘menghabiskan’ energi mereka. contoh orang ekstrovert yang terkenal adalah Soekarno, Guy Kawasaki, dan Larry King
Sejatinya, orang introvert juga suka bersosialisasi, namun mereka sudah merasa nyaman jika memiliki  1 atau 2 orang teman dekat karena bagi mereka yang terpenting bukanlah kuantitas teman yang  mereka miliki tetapi lebih kepada kualitas atau ‘kedalaman’ hubungan yang mereka bangun. Beda halnya dengan orang ekstrovert, mereka sangat senang bertemu dengan orang-orang baru dan membuat teman sebanyak mungkin karena justru hal inilah yang membuat mereka nyaman.
Dalam dunia kerja, orang introvert lebih cenderung bekerja secara sendiri atau dalam kelompok kecil yang tenang karena bagi mereka cara kerja seperti itu terasa kondusif. Adapun orang ekstrovert, mereka senang bekerja di posisi dimana mereka bisa berinteraksi dengan banyak orang. Tempatkan mereka di lingkungan sepi dan mereka akan merasa pekerjaan itu sangat tidak menyenangkan.
Lalu yang manakah yang lebih bagus, menjadi orang introvert atau ekstorvert ? sebenarnya pertanyaan ini sendiri tidak patut ditanyakan karena esensinya akan sama apabila kita mempertanyakan yang manakah  lebih bagus antara pria atau wanita. Keduanya berbeda tapi saling melengkapi. Sayangnya di dunia dimana publisitas dan narsisme di agung-agungkan seringkali orang ekstrovert cenderung mendapat apresiasi lebih dibandingkan orang introvert karena orang introvert biasanya lebih unggul dalam bersosialiasi sehingga mudah kelihatan ‘menonjol’ di mata orang lain.
Pada dasarnya tidak ada orang yang 100% ekstrovert ataupun 100% introvert. Kita semua merupakan campuran dari unsur ini, hanya saja ada satu unsur yang mendominasi kepribadian kita yang memang sudah terbentuk dari ‘sananya’.   Pada sisi lain, ada juga orang yang bertipe Ambivert, yaitu orang yang memiliki kepribadian introvert dan ekstrovert yang seimbang atau 50-50, namun jumlah orang seperti ini sangat sedikit.
Pada akhirnya kita tidak perlu mempermasalahkan apakah kita introvert atau ekstrovert, tapi yang lebih penting adalah bagaimana mengembangkan potensi berdasarkan pengetahuan akan jenis kepribadian kita, karena setiap kepribadian tentu memiliki kelebihan dan juga kekurangan.contoh sederhananya, Orang introvert harus belajar  lebih membuka diri terhadap pergaulan baru dan dunia sosial. Sedangkan orang ekstrovert harus belajar menikmati waktu-waktu sendiri mereka.
Menurut teori psikoanalitik Sigmund Freud,  kepribadian terdiri dari tiga elemen, yakni : id, ego dan superego yang bekerja sama untuk menciptakan perilaku manusia yang kompleks.
1). Id adalah satu-satunya komponen kepribadian yang hadir sejak lahir. Aspek kepribadian sepenuhnya sadar dan termasuk dari perilaku naluriah dan primitif. Menurut Freud, id adalah sumber segala energi psikis, sehingga  Id merupakan komponen utama kepribadian. Id didorong oleh prinsip kesenangan, yang berusaha untuk kepuasan segera dari semua keinginan, keinginan, dan kebutuhan. Jika kebutuhan ini tidak puas langsung, hasilnya adalah kecemasan  atau ketegangan. Sebagai contoh, peningkatan rasa lapar atau haus harus menghasilkan upaya segera untuk makan atau minum. id ini sangat penting awal dalam hidup, karena itu memastikan bahwa kebutuhan bayi terpenuhi. Jika bayi lapar atau tidak nyaman, ia akan menangis sampai tuntutan id terpenuhi.
Namun, segera memuaskan kebutuhan ini tidak selalu realistis atau bahkan mungkin. Jika kita diperintah seluruhnya oleh prinsip kesenangan, kita mungkin menemukan diri kita meraih hal-hal yang kita inginkan dari tangan orang lain untuk memuaskan keinginan kita sendiri. Perilaku semacam ini akan baik mengganggu dan sosial tidak dapat diterima. Menurut Freud, id mencoba untuk menyelesaikan ketegangan yang diciptakan oleh prinsip kesenangan melalui proses utama, yang melibatkan pembentukan citra mental dari objek yang diinginkan sebagai cara untuk memuaskan kebutuhan. Pada prinsipnya Id fungsinya selalu mendorong orang untuk berbuat.
2). Ego adalah komponen kepribadian yang bertanggung jawab untuk menangani dengan realitas. Menurut Freud, ego berkembang dari id dan memastikan bahwa dorongan dari id dapat dinyatakan dalam cara yang dapat diterima di dunia nyata. Fungsi ego baik di pikiran sadar, prasadar, dan tidak sadar. Ego bekerja berdasarkan prinsip realitas, yang berusaha untuk memuaskan keinginan id dengan cara-cara yang realistis dan sosial yang sesuai. Prinsip realitas beratnya biaya dan manfaat dari suatu tindakan sebelum memutuskan untuk bertindak atas atau meninggalkan impuls. Dalam banyak kasus, impuls Id itu dapat dipenuhi melalui proses menunda kepuasan- ego pada akhirnya akan memungkinkan perilaku, tetapi hanya dalam waktu yang tepat dan tempat. Ego juga pelepasan ketegangan yang diciptakan oleh impuls yang tidak terpenuhi melalui proses sekunder, di mana ego mencoba untuk menemukan objek di dunia nyata yang cocok dengan gambaran mental yang diciptakan oleh proses primer id’s.
3).  Superego. Komponen terakhir untuk mengembangkan kepribadian adalah superego. superego adalah aspek kepribadian yang menampung semua standar internalisasi moral dan cita-cita yang kita peroleh dari kedua orang tua dan masyarakat – kita maksudkan rasa betul dan salah atau baik dan buruk. Superego memberikan pedoman untuk membuat penilaian. Artinya seseorang terlebih dahulu melakukan pertimbangan sebelum berbuat.
Ada dua bagian superego: Yang ideal ego mencakup aturan dan standar untuk perilaku yang baik. Perilaku ini termasuk orang yang disetujui oleh figur otoritas orang tua dan lainnya. Mematuhi aturan-aturan ini menyebabkan perasaan kebanggaan, nilai dan prestasi.
Hati nurani mencakup informasi tentang hal-hal yang dianggap buruk oleh orang tua dan masyarakat. Perilaku ini sering dilarang dan menyebabkan buruk, konsekuensi atau hukuman perasaan bersalah dan penyesalan. Superego bertindak untuk menyempurnakan dan membudayakan perilaku kita. Ia bekerja untuk menekan semua yang tidak dapat diterima mendesak dari id dan perjuangan untuk membuat tindakan ego atas standar idealis lebih karena pada prinsip-prinsip realistis. Superego hadir dalam sadar, prasadar dan tidak sadar.

Interaksi  Id, Ego dan superego
Dengan kekuatan bersaing begitu banyak, mudah untuk melihat bagaimana konflik mungkin timbul antara ego, id dan superego. Freud menggunakan kekuatan ego istilah untuk merujuk kepada kemampuan ego berfungsi meskipun kekuatan-kekuatan duel. Seseorang dengan kekuatan ego yang baik dapat secara efektif mengelola tekanan ini, sedangkan mereka dengan kekuatan ego terlalu banyak atau terlalu sedikit dapat menjadi terlalu keras hati atau terlalu mengganggu.
Menurut Freud, kunci kepribadian yang sehat adalah keseimbangan antara id, ego, dan superego. Komentar Jalius: Sungguh Freud tidak melibatkan akal dan pikiran dalam pembentukan kepribadian. Pada hal akal dan pikiran bagi manusia adalah faktor utama dalam mengelola perilkunya. Dia hanya bertumpu pada reaksi jiwa terhadap adanya stimulus, yakni keinginan kepada hal-hal yang disenangi saja. Dengan Id, ego dan super ego memberikan respon terhadap berbagai stimulus atau impuls dari lingkungan. Kretivitas dalam menciptakan dunia baru tentu saja tertutup bagi kepribadian Freud. Karena kreativitas merupakan kerja utama akal dan pikiran.  Jika demikian berarti Freud hanya  bisa membuat kepribadian statis.
Bagaimana Kepribadian Manusia Dalam Persepktif Islam ? (Tunggu edisi selanjutnya : bersambung)
 Referensi
C. George Boeree, Personality Theories, Prismashopie, Terj. Inyiak Ridwan Muzir, (Jogjakarta, 2005).
Carl Gustav Jung, Approaching the Unconscious, Terj G. Cremers, (PT. Gramedia, Jakarta, 1989).
Carl Gustav Jung, Aion, Researches In To The Phenomenology Of The Self, Kata Pengantar R.F. C. Hull, Terj. Cremer, (PT. Gramedia, Jakarta, 1986).
Tim Psikoanalisis Fakultas Psikologi Univ. Muhammadiyah Gresik, Surat-Surat Freud/Jung, Akar Perpecahan Gerakan Pasikoanalisis, Terj Chairil Umam, (UMG Pers, Gresik, 2003).
Jess Feist, Gregory J. Feist (2008).Theories of Personality (yudi Santoso, Penrj.) yogyakarta : PT. Pustaka  Pelajar
Chaplin, J.P (2001). Kamus Lengkap Psikologi (Kartini Kartono, penrj.). Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
Hall, C. S.&G. Lindzey. (1985). Introduction to Theories Personality. New York: Jhon Willey&Son.
Pervin, L. A.&O.P. John. (2000). Personality: Theory and Research. 8th ed. New York : John Willey&Son.


CLASH OF INTEREST

Hefni Zain

 Pendahuluan

Sejak dipublikasikannya pertama kali melalui Majalah Foreign Afair tahun 1993 dan terlebih setelah dikembangkan menjadi buku dan diterjemah ke dalam puluhan bahasa, tesis benturan antar peradaban (clash of civilization)” karya Samuel Huntington telah mengundang banyak kontroversi dari dunia internasional. Hingga kini perdebatan wacana ini terus bergulir dan dialektikanya terus mengalir. Banyak kalangan akademisi maupun pakar-pakar sosial keagamaan melakukan kritik tajam terhadap tesis ini. Mereka mempertanyakan masalah signfikansi tesis tersebut terhadap sensiitifitas persoalan agama, budaya dan debat politik yang memanas pasca perang dingin.
Apa sebenarnya yang membuat tesis “the Clash of Civilization” ini begitu kontroversial?. Mengapa ia dicap sebagai tulisan propagandis, spekulatif dan profokatif, yang bagi para intelektual humanis dan agamawan sangat berpotensi mengancam perdamaian dunia?. Hal itu tidak lepas dari asumsi dasar yang digunakan Huntington dalam meramalkan masa depan, menurutnya masa depan politik dunia akan didominasi oleh konflik antar bangsa dan peradaban yang berbeda, dan konflik dunia di masa bukan lagi bersumber dari ideologi dan ekonomi, melainkan dari peradaban.
Huntington mendasarkan tesisnya setidaknya pada enam alasan yang dijadikan premis dasar untuk menjelaskan mengapa politik dunia ke depan akan sangat dipengaruhi oleh benturan antar peradaban. Pertama, perbedaan antara peradaban tidak saja nyata, tetapi sangat mendasar, hal ini dapat dilihat di berbagai peradaban dunia yang mempunyai akar budayanya sendiri yang berbeda. Kedua, dunia semakin mengecil. Interaksi di antara masyarakat dan peradaban yang berbeda terus meningkat. Interaksi ini berlangsung semakin intensif, semakin menguat kesadaran akan peradaban sendiri dan semakin sensitif terhadap perbedaan yang ada antara peradabannya dengan yang lainnya. Ketiga, proses modernisasi ekonomi dan perubahan sosial di seluruh dunia telah mengakibatkan tercerabutnya masyarakat dari akar-akar indentitas lokal yang telah berlangsung lama. Hal ini telah menyisakan ruang kosong yang kemudian diisi oleh identitas agama, seringkali gerakan berlabelkan “fundamentalis.” Keempat, semakin berkembangnya kesadaran peradaban (civilization conciousness) akibat peran ganda dunia barat. Dimana di satu sisi dunia Barat sedang berada pada puncak kekuasaannya, disisi lain sebagai reaksi balik atas hagemoni Barat tersebut, kembalinya masyarakat Non Barat pada akar peradabannya. Kelima, karakteristik dan perbedaan kultural yang terjadi di antara peradaban Barat dan Non Barat semakin mengeras. Hal ini menyebabkan semakin sulitnya kompromi dan upaya-upaya perbaikan hubungan di antara peradaban dalam kerangka kultural dari pada upaya mengkompromikan karakteristik dan perbedaan politik serta ekonomi. Dan keenam, adalah regionalisme ekonomi yang semakin meningkat.
Jika dilihat lebih jauh, premis-premis yang diajukan Huntington sejalan dengan kritik posmodernisme, akan tetapi dalam wajahnya yang negatif. Dan yang menjadi pertanyaan kemudian adalah apakah premis-premis diatas secara otomatis akan melahirkan apa yang disebut dengan ”benturan antar peradaban”. Disini Huntington melakukan dua hal, pertama memetakan muatan kultural, kecenderungan dan dinamika internal peradaban-peradaban. Disebut bahwa ada delapan peradaban besar dunia; Barat, Islam, Konfusius, Jepang, Hindu, Slavik-Ortodoks, Amerika Latin dan Afrika. Kedua, Huntington meramalkan bahwa potensi konflik yang akan mendoiminasi dunia masa depan bukan diantara kedelapan peradaban tersebut, tetapi antara Barat dan peradaban lainnya. Sedangkan potensi konflik paling besar yang akan terjadi adalah antara Barat dan koalisi Islam-Konfusius. Bahkan lebih jauh, Huntington dengan sangat berani memastikan bahwa musuh Barat adalah koalisi Islam dan Konfusionis.
Kendati Huntington berusaha keras meyakinkan pembacanya bahwa pada dasarnya benturan antar peradaban masa depan akan terjadi karena tiga hal pokok, yaitu adanya hagemoni-arogansi Barat, intoleransi Islam, dan fanatisme Konfusionis. Namun sejak awal, teori “benturan antar peradaban” Huntington ini malah banyak memantik kritik dan cibiran, sebab tesis ini selain dianggap sebagai ilusi yang fantastis, juga tidak mencerminkan semangat zaman yang menekankan aspek globalisasi dan pluralitas, toleransi dan kesetaraan sebagai syarat utama menuju harmoni peradaban dunia.

Menguji  Tesis Huntington .
Dikatakan oleh Huntington “It is my hypothesis that the fundamental source of conflict in this new world will not be primarily ideological or primarily economic. The great divisions among humankind and the dominating source of conflict will be cultural.... the principal conflicts of global politics will occur between nations and groups of different civilizations. The clash of civilizations will dominate global politics. The fault lines between civilizations will be the battle lines of the future.” Lewat hipotesisnya, Huntington mencoba menawarkan paradigma baru dalam melihat dunia. Ia melihat ada tujuh peradaban yang akan mewarnai persaingan global: Western, Latin American, Confucian, Japanese, Islamic, Hindu dan Slavic-Orthodox.  
Huntington memprediksikan akan terjadi konflik di level makro antara negara-negara dari peradaban yang berbeda dalam mengontrol institusi internasional, ekonomi global dan kekuatan militer. Professor of the Science of Government Harvard University ini mengajukan tesis dalam kalimat sangat tegas ”Sumber utama konflik dunia baru tidak lagi ideologi atau ekonomi, tetapi budaya. Budaya akan memilah-milah manusia dan menjadi sumber konflik dominan. Negara-negara akan tetap menjadi aktor paling kuat dalam percaturan dunia, tetapi konflik politik global yang paling prinsipil akan terjadi antara bangsa-bangsa dan kelompok-kelompok karena perbedaan peradaban mereka. Benturan peradaban akan mendominasi politik global.”
Atas tulisannya itu, Huntington menuai banyak kritik, diantaranya dari Tariq Ali yang mempersoalkan pemetaan dan kategorisasi peradaban Huntington yang cenderung statis dan monolitik. Padahal peradaban sendiri memiliki komplekstitas dan berbagai perbedaan antar pendukungnya. Oleh karena itu, tokoh yang dikenal keras terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat ini lebih cenderung melihat kepada benturan unsur-unsur fundamentalis pada peradaban-peradaban yang ada. Dari perspektif yang berbeda, Edward Said turut mengkritik pandangan Huntington. Pakar orientalisme ini berpendapat bahwa peradaban bukanlah kotak tertutup. Sejarah memaparkan secara jelas dinamika interaksi, pertukaran, dan saling pinjam antar peradaban. Sehingga paradigma Huntington justru tidak membantu memahami realitas yang ada, meskipun mampu “memberi perspektif” kongkret dan praktis. Selain itu, Said melihat perspektif Huntington memberikan porsi signifikan terhadap Islam sangat dipengaruhi memori lama tentang pertentangan Muslim dan Eropa, khususnya persaingan Abramistic Religions. Menurutnya, benturan antar peradaban tak lebih dari bahasa baru untuk mengungkap (seleksi) sejarah, bukan untuk memahami kesalingbergantungan yang terus berlangsung sampai saat ini.
Martha Nussbaum juga turut menunjukkan kelemahan tesis Huntington. Bagi Martha, “The real clash is not a civilizational one between “Islam” and “the West,” but instead a clash within virtually all modern nations between people who are prepared to live with others who are different, on terms of equal respect, and those who seek the protection of homogeneity, achieved through the domination of a single religious and ethnic tradition.” Yang jadi sumber benturan menurut Professor of Law and Ethics University of Chicago ini adalah pertentangan antara kehendak menguasai dengan kehendak untuk hidup bersama dalam kesetaraan.
Posisi kontra Huntington juga dapat ditemui pada pandangan Dominique Moisi. Ilmuan politik dari Perancis ini cenderung melihat pertentangan yang terjadi lebih disebabkan oleh faktor psikologis: balutan ketakutan, keterhinaan, dan harapan, Ketakutan Dunia Barat, keterhinaan Dunia Muslim dan harapan sebagian besar negara-negara di Asia. Oleh karena itu, diperlukan upaya menghilangkan ketakutan yang tak berdasar, menciptakan kesetaraan, menumbuhkan martabat agar melenyapkan rasa keterhinaan, dan terus berusaha mewujudkan masa depan yang penuh asa dengan semangat perdamaian. Untuk menciptakan solidaritas global harus dimulai dari upaya saling mengenal. Hal lain yang sangat penting adalah mengenali “musuh bersama” dan problem-problem bersama. Demo anti  perang AS atas Irak menjadi sinyal positif bagi peluang kerjasama antar orang-orang yang punya semangat menciptakan kerukunan dari berbagai belahan dunia. Dalam batas-batas tertentu, upaya inilah yang sedang dilakukan beberapa pihak untuk mewujudkan situasi dunia baru yang lebih harmonis dengan semangat mencari sekutu di antara “musuh” lama.
Akbar S. Ahmed adalah salah satu tokoh yang juga tidak sepaham dengan Huntington. Dia menyatakan bahwa benturan yang terjadi dalam sejarah dunia lebih menunjukkan faktor kepentingan ekonomi dan politik ketimbang faktor perbedaan budaya. Akbar menunjuk fenomena perang Teluk I sebagai fakta empiris peta politik yang tidak berhadap-hadapan secara diametral, Barat vis a vis Islam, tetapi lebih menunjuk kepada polarisasi kepentingan. Dalam hal ini, negara-negara Muslim seperti Kuwait, Arab Saudi, Mesir pada posisi kepentingan yang seirama dengan Amerika dan sekutunya (Barat), sehingga tidak bisa dikatakan telah terjadi benturan antara Islam dan Barat.
Menurut Akbar S.Ahmed, kelemahan lain dalam tesis Huntington adalah kerancuan dalam mendefinisikan peradaban. Huntington menyebut beberapa peradaban utama yang mungkin akan saling berkonfrontasi di masa yang akan datang : Barat, Cina/Konfusius, Jepang, Islam, Hindu, Amerika Latin, dan Afrika. Huntington mencampur adukkan berbagai hal yang bermacam ragam, termasuk letak (Barat), ajaran (Konfusius), etnik (Slav), negara (Jepang), agama (Islam), dan benua (Afrika). Dalam hal ini, ia tidak konsisten dan tanpa definisi peradaban yang dapat dimengerti dan dapat diterapkan. Selain itu, kesimpulan Huntington ternyata tidak menggambarkan kenyatan yang sebenarnya. Dengan berakhirnya perang dingin, kecenderungan yang terjadi bukan pengelompokan masyarakat dalam entitas tertinggi -yaitu pengelompokan peradaban- tetapi justru perpecahan menuju entitas yang lebih kecil, berdasar suku dan etnik. Hal ini terlihat jelas dari disintegrasi Uni Soviet, yang sebagian besar penduduknya memiliki dasar budaya dan peradaban yang sama. Kesamaan peradaban belum merupakan perekat cukup kuat bagi kelompok-kelompok etnik minoritas yang secara politik atau ekonomi merasa ditindas kelompok mayoritas yang berkuasa.
Banyak sekali kelemahan dalam tesis Huntington itu sebenarnya. Misalnya, ia mengatakan bahwa peradaban Barat sudah "jadi" sejak abad ke-8 dan ke-9. Dengan demikian, "Barat" sudah menjadi Barat yang "unik" jauh sebelum perkembangan penting seperti masa reformasi, masa Pencerahan, dan Revolusi Industri. Klaim seperti ini membuat Huntington bisa mengabaikan bahwa demokrasi pun ditanam di negeri Barat sebagai hasil pergulatan panjang yang sering berdarah, terutama dalam konteks perubahan sosial ganas yang dibawa oleh industrialisasi, termasuk beberapa percobaan revolusi oleh kaum proletariat yang gagal. Lucunya, Huntington sendiri pernah menulis dalam sebuah buku sebelum Clash of Civilisations, bahwa "gelombang ketiga demokratisasi" sedang melanda dunia, sesuatu yang musykil terjadi kalau demokrasi hanya milik satu peradaban.
Bukan Benturan Peradaban Tapi Benturan Kepentingan
Terhadap tesis Huntington yang melihat Islam dan Barat sebagai dua peradaban yang saling berbenturan, ada banyak kalangan yang kemudian mempertanyakan “the clash of civilization or the clash of interest ?. Pertanyaan ini wajar mengingat banyak riset yang  dilakukan sebelumnya menunjukkan peta tentang polarisasi kaum intelektual di Amerika. Diantara hasil riset tersebut menunjukkan  bahwa kelompok intelektual Amerika sebenarnya terbagi ke dalam dua kelompok : Konfrontasionis dan akomodasionis. Kelompok pertama selalu mempersepsi Islam dengan pencitraan yang negatif. Dengan kata lain, mereka selalu menganggap Islam sebagai the black side of the world. Islam selalu diposisikan sebagai ancaman bagi demokrasi dan lahirnya tatanan dunia yang damai. Eksponen yang termasuk kelompok ini misalnya, Almos Perlmutter, Samuel Huntington, Gilles Kepel, dan Bernard Lewis.
Sementara kelompok akomodasionis justru menolak diskripsi Islamis yang selalu menggambarkan Islam sebagai anti demokrasi. Mereka membedakan antara tindakan-tindakan kelompok oposisi politik Islamis dengan minoritas ekstrim yang hanya sedikit jumlahnya. Diantara kelompok ini terdapat nama John L. Esposito dan Leon T. Hadar. Bagi mereka, di masa lalu maupun di masa sekarang, ancaman Islam sebenarnya tidak lain adalah mitos Barat yang berulang-ulang. Tesis Huntington sebenarnya bagian dari rekomendasi bagi pemerintahan Amerika Serikat untuk membuat peta tata dunia baru di planet bumi. Huntington dalam hal ini ingin mengingatkan pemerintah AS untuk waspada terhadap ancaman baru pasca perang dingin dan runtuhnya negara Uni Soviet.
Barat, dalam hal ini Amerika Serikat, jelas merupakan pihak yang paling merasa “diamini dan diuntungkan” secara ilmiah oleh Huntington, khususnya untuk melaksanakan kebijkan-kebijakan politik luar negeri. Betapa tidak, dengan tesis benturan antar peradaban ini, Barat yang telah lama terbiasa dengan visi global dan kebijakan luar negeri yang didasarkan pada persaingan antar negara adidaya dalam berebut mendapatkan pengaruh dominasi global, semakin tergoda untuk mengidentifikasi ancaman ideologi global lainnya seperti Islam dan Konfusius dalam rangka mengisi “kekosongan ancaman” yang timbul pasca runtuhnya komunisme.
Bukti otentik adanya “faktor kepentingan” yang menyertai tindakan Barat (Amerika) dalam aksi-aksi politik dan militer yang menyebabkan timbulnya clash antara Barat dan beberapa negara Islam adalah fenomena Perang Teluk jidid II di Irak. Dengan dalih memerangi terorisme dengan menumbangkan kekuasan Saddam Husein yang dinilai melindungi para teroris, ujung-ujungnya adalah penguasaan sumber-sumber minyak yang konon kandungannya nyaris sepadan dengan yang dipunyai Arab Saudi. Lebih dari itu, dengan runtuhnya pemerintahan Saddam di Irak, akan lebih mengukuhkan hegemoni AS sebagai satu-satunya kekuatan adidaya di muka bumi ini yang berhak berbuat apa saja untuk melaksanakan kepentingan globalnya.
Apa fungsi politik gagasan Huntington tentang "pergulatan antarperadaban" ini? Dalam konteks berakhirnya perang dingin, fungsinya tidak lain adalah untuk menciptakan "musuh" baru buat publik Amerika setelah runtuhnya imperium Soviet. Dan tesis ini betul-betul mengena dengan suasana hati orang Amerika pada waktu itu. Contohnya, begitu banyak film Hollywood setelah 1989 yang menonjolkan orang Timur Tengah atau Asia Timur sebagai penjahat. Mungkin saja ini menunjukkan rasa tidak amannya suatu bangsa. Ironisnya, saat itu Amerika telah menjadi negeri adidaya yang tidak tertandingi secara politik, meskipun telah muncul persaingan ekonomi dari beberapa negeri Asia Timur.
Lebih dari itu, "musuh" memang selalu diperlukan di Amerika Serikat untuk mengesahkan anggaran belanja militer besar dengan investasi pada infrastruktur dan teknologi yang mahal. Kalau tidak, rakyat Amerika mungkin akan meminta investasi yang lebih besar untuk hal lain, seperti pelayanan kesehatan dan pendidikan. Namun, investasi sosial seperti ini bertentangan dengan kepentingan corporate-military complex, yang secara tidak langsung disuarakan oleh Huntington. Suatu mentalitas state of siege tertentu harus selalu dipelihara untuk membenarkan keberadaan kepentingan semacam ini di tengah masalah kemiskinan, pengangguran, dan penurunan mutu pelayanan pendidikan dan kesehatan di Amerika Serikat. Sekarang saja kaum konservatif di Amerika sudah berteriak untuk meningkatkan anggaran militer.
Menurut Muhammad Abed al-Jabiri, sepanjang sejarah, hubungan antar peradaban tidak bersifat konfrontasi, tetapi interpenetrasi. Bahkan konfrontasi dan konflik lebih sering dan destruktif dibandingkan konfrontasi antar negara-negara dengan peradaban berbeda. Buktinya, dua kali perang dunia terjadi dalam peradaban Barat, disebabkan oleh konflik kepentingan (conflicts of interest). Penglihatan al-Jabiri, selanjutnya adalah pada kepentingan global Barat itu sendiri. Dimana semua itu dilakukan karena semangat dalam mendominasi perekonomian dan politik atas seluruh negara non-Barat. Untuk melancarkan kepentinganya itu, Barat memakai banyak cara, dari yang paling halus sampai yang paling berdarah-darah. Cara halus Barat mengukuhkan hegemoninya diantaranya melalui rezim pengetahuan. Rezim pengetahuan yang diciptakan Barat tidak memberi ruang yang bebas kepada pengetahuan lain untuk berkembang. Generasi terdidik di negara berkembang diarahkan sedemikian rupa menjadi agen dan penjaga sistem pengetahuan Barat. Dan bukan hanya cara berfikir saja yang diarahkan, tetapi gaya hidupnya pun dikendalikan.
Menarik untuk menyimak komentar para pengritik tesis Huntington ini dalam Foreign Affairs edisi September/Oktober 1993. Diantaranya adalah kritik atas pendekatan macrocosmic Huntington yang memunculkan peradaban sebagai determinan hubungan internasional dan mengabaikan peran negara-bangsa (Albert L Weeks dan Fouad Ajami). Ada yang menunjuk proses kebangkrutan peradaban Barat dan memunculkan keunggulan tertentu non-Barat (Kishore Mahbubani, Gerard Piel), tapi ada pula yang optimis dengan superioritas Barat (Robert L. Bartley). Sementara itu, para pengritik lain menawarkan analisis yang membuka perspektif positif dalam pertemuan antarperbedaan dan menyarankan agar mengambil yang terbaik dari masing-masing peradaban (Liu Binyan).
Tak kalah menarik pula respon yang terjadi di Indonesia. Di sela-sela riuhnya publik Indonesia menyikapi tesis Huntington ini, Goenawan Mohammad dalam suatu dialog kebudayaan di Jakarta, menyatakan bahwa semua agama mengajarkan untuk menghormati heterogenitas, perbedaan, kelainan (otherness), karenanya sulit memahami tesis Huntington yang menghadapkan “Barat” dengan “Islam”. Sebab realitasnya, keduanya sama-sama menjunjung tinggi keragaman, budaya dan peradaban. Akhirnya dialog kebudayaan itupun berkesimpulan bahwa benturan atau konflik yang akan dihadapi dunia di masa datang tetap bertumpu pada masalah ekonomi. Jika ada pandangan yang meramalkan kecenderungan konflik masa depan itu sebagai konflik peradaban, sesungguhnya itu hanyalah kesan luarnya. Sebab persoalan mendasar yang menjadi faktor utama penyebab konflik tersebut adalah soal-soal yang berkaitan dengan kepentingan ekonomi.

Hubungan Islam dan Barat
Hubungan Islam dengan Barat dalam sejarah panjangnya diwarnai dengan fenomena kerjasama dan konflik. Kerjasama Islam dan Barat paling tidak ditandai dengan proses modernisasi dunia Islam yang sedikit banyak telah merubah wajah tradisional Islam menjadi lebih adaptatif terhadap modernitas. Akan tetapi pada abad 19, hubungan keduanya juga diwarnai konflik yang  oleh sebagian ahli disebut menggambarkan dominasi-subordinasi. Pasang surut hubungan Islam dan Barat adalah fenomena sejarah yang perlu diletakkan dalam kerangka kajian kritis historis untuk mencari sebab-sebab pasang surut hubungan itu dan secepatnya dicari solusi yang tepat untuk membangun hubungan tanpa dominasi dan konflik di masa-masa mendatang.
Barat selama ini dicurigai sebagai pihak yang telah memaksakan agenda-agenda “pembaratan” di dunia Islam dalam rangka mengukuhkan hegemoni globalnya. Dampak yang ditimbulkan dari hegemoni global Barat adalah semakin terpinggirkannya peran ekonomi, politik, sosial dan budaya Islam dalam panggung sejarah peradaban dunia. Tidak hanya itu, Islam semakin tersudut dengan berbagai cap yang dilontarkan Barat terhadap Islam, mulai dari cap fundamentalis sampai teroris. Tentunya berbagai cap itu terselubung kepentingan tingkat tinggi (high interest) untuk membuat semakin terpojoknya Islam sehingga mudah untuk dijinakkan -lagi-lagi- demi kepentingan globalnya
Pasang-surutnya hubungan Islam dan Barat bila dianalisis setidaknya karena dua alasan. Pertama, sikap saling khawatir dan takut antar Islam dan Barat akibat dari ketidaktahuan. Akibatnya, Barat selalu memandang Islam dengan perspektif yang negatif. Montgomery Watt, misalnya, mengatakan bahwa Barat telah lama menjadi ahli waris prasangka masa lalunya. Citra negatif Islam itu di Barat masih saja membekas dan terus menerus mendominasi pemikiran Barat. Sampai kini pengetahuan Barat terhadap Islam masih bersifat parsial dan bias. Sebaliknya, mayoritas muslim juga punya pandangan tersendiri tentang peradaban Barat. Barat selamanya ditempatkan bukan sebagai mitra dialog antar budaya, tapi sebagai musuh yang selalu menjajah. Barat juga dinilai telah mengalami krisis spiritual dan mestinya harus kembali kepada semangat Islam. Ilmu pengetahuan dan teknologi Barat dianggap tidak lagi membawa kesejahteraan dan perdamaian. Lalu, muncul pula arogansi Islam yang terlalu percaya diri mendeklarasikan sains Islam dan segala proyek islamisasinya.
Istilah Barat-Islam masing-masing mengandung keragaman dan berbagai perbedaan internal yang nyata. Jadi, apa yang dilakukan Osama bin Laden beserta jaringannya, juga gerakan Taliban, fundamentalisme Pakistan, dan teroris Palestina bukanlah representasi dari peradaban Islam. Sikap mereka hanyalah fenomena individual di dalam masyarakat Islam. Kaum fundamentalis tidaklah mewakili ortodoksi arus utama dalam Islam. Mereka dikemudi oleh suatu versi fanatis dan ideologis agama yang menyerupai nasionalisme. Mereka sendiri notabene berpendidikan Barat dan tak banyak tahu tentang isi dan kebudayaan Islam. Tidak ada terorisme (dalam anjuran ajaran) Islam. Yang ada hanyalah kenyataan muslim yang menjadi marah kerena hal-hal tertentu yang dilakukan barat terhadap negara-negara Islam, dan kebetulan muslim. Itulah orang-orang seperti Osama bin Laden.
Karena itu mengatakan konflik AS-Afganistan sebagai perang antarperadaban (Barat-Islam) adalah sama sederhananya dengan pikirkan Huntington tentang clash of civilizations. Peradaban Islam tidaklah sesederhana sosok Osama bin Laden dan jaringannya. Di luar seorang Osama, terdapat lebih dari 100 juta penduduk muslim di kawasan Arab, dan 140 juta lainnya di Pakistan dan Afganistan. Komunitas ini sekarang tengah terlibat konflik dengan Barat. Juga terdapat 174 juta penduduk muslim di Indonesia, 100 juta di India, 103 juta di Bangladesh dan 160 juta muslim di Afrika Sub-Sahara, ditambah 6 juta di AS. Tak sedikit pula kaum muslim yang hidup di Turki, Eropa Barat, Afrika Utara, Kaukasus dan Asia Tengah. Masyarakat ini mungkin merasakan simpati atas saudaranya yang muslim, tetapi mereka bukanlah bagian dari jihad Osama bin Laden. Solidaritas Islam tentu ada, tetapi lebih didasari kemanusiaan yang mengharapkan tidak ada lagi korban tak berdosa dan tidak ada lagi perang.

Pembacaan Kritis.
Sungguh berbahaya jika pemahaman benturan peradaban seperti ditulis Huntington terus diyakini baik oleh kalangan Islam maupun Barat. Ide semacam ini implisit menyiratkan bahwa Barat dan Islam, juga peradaban-peradaban lain, haruslah selalu berseteru sebab itulah takdir peradaban. Huntington memang tidak sepenuhnya keliru ketika ia mengatakan bahwa masyarakat kini mengidentifikasikan diri mereka pada keleluhuran, agama, bahasa, sejarah, nilai; masyarakat lebih mengidentifikasikan dirinya dengan kelompok-kelompok budaya (etnisitas), dan pada level yang lebih luas: peradaban. Akan tetapi, tampaknya dia berlebihan jika kemudian berkesimpulan bahwa “kita tahu siapa diri kita hanya ketika kita tahu bukan diri kita, dan serigkali hanya ketika kita tahu siapa lawan kita. Lagi pula, anggapan Huntington bahwa kecenderungan masyarakat dewasa ini melebur ke dalam entitas kebudayaannya yang lebih luas (peradaban), sesungguhnya terfalsifikasi oleh kenyataan bahwa kecenderungan masyarakat dunia malah menciutkan diri pada entitas etnik dan kelompok yang lebih kecil. Pecahnya Uni Soviet yang masyarakatnya memiliki akar budaya yang relatif sama adalah salah satu contoh kongkritnya.
Juga berbahaya jika kaum muslimin beryakinan bahwa Barat kini tengah dengan sungguh-sungguh memerangi Islam. Kesadaran inilah yang sedang timbul di beberapa masyarakat Islam dunia, termasuk di Indonesia. Banyak kalangan menentang AS saat negara adidaya itu menyerang Afganistan dan Irak dengan kesadaran bahwa AS tengah mengajak ‘clash’ dengan Islam baik sebagai agama maupun peradaban, seperti dimaklumkan Huntington. Belakangan ini ada wacana AS berencana menggempur Iran; sebuah situasi yang kritis bagi perdamaian. Dulu Presiden Bush dan Colin Powell memang sering mengatakan bahwa AS dan Eropa tidaklah sedang memerangi Islam baik sebagai agama maupun peradaban, melainkan tengah berperang dengan teroris individual dan organisasi-organisasi teroris. Bagi AS, isu konflik dengan Afganistan dan beberapa waktu lalu dan dengan Iran yang memanas belakangan ini adalah bersifat politis, bukan kebudayaan maupun religius. Banyak seruan agar tidak ada lagi perang. Namun, rupanya AS dan sekutunya yang terus berdalih memerangi terorisme akhirnya melancarkan serangan ke Afganistan, Irak dan wilayah Timur tengah lainnya yang kaya minyak.

Penutup
Setelah membaca tesis “benturan antar peradaban” yang diramalkan Huntington, didapatkan beberapa pemahaman dan kesimpulan. Tesis “Clas of Civilization” bagaimanapun juga telah berbicara dalam konteks internasional dan mengundang berbagai kritik. Dimana tesis itu ditulis tidak dalam ruang hampa, akan tetapi mempunyai maksud dan tujuan dibalik itu semua, apakah secara subjektif atau ada interfensi oleh kepentingan-kepentingan tertentu. Walaupun begitu, semua pihak harus berusaha arif dan kritis melihat setiap fenomena sosial politik yang mungkin muncul karena tesis tersebut atau respon terhadapnya.Sebagai muslim sepantasnya bersikap kritis terhadap tesis tersebut, dimana masih terdapat kelemahan-kelemahan sebagaimana diungkap Akbar S Ahmed dalam pembacaannya.
Terdapat point penting terkait relasi Islam dan Barat yang membentuk struktur dominasi-subordinasi yang dalam beberapa hal sarat konflik. Pertama, basis benturan Islam dan Barat adalah kepentingan ekonomi dan politik (kapitalisasi dan liberalisasi). Kedua, bahwa dominasi Barat atas dunia non-Barat, yang termasuk di dalamnya dunia Islam adalah dalam rangka mengamankan kepentingan ekonomi dan politik global Barat. Ketiga, dominasi itu dilaksanakan oleh Barat melalui cara yang paling halus sampai yang paling kasar, bahkan berdarah-darah (perang fisik). Cara halus Barat adalah melalui rezim pengetahuan yang terus-menerus diinjeksikan ke dalam dunia intektual Islam, sehingga pengetahuan lain tidak (boleh) berkembang.

Fakta yang sering terjadi adalah konflik di dalam peradaban masing-masing, baik di Barat maupun Islam. Tetapi inipun bukan benturan peradaban. Jadi apa yang ditesiskan Huntington sesunggunya bukan benturan peradaban, melainkan tak lebih dari sekedar benturan kepentingan. Kini saatnya kita harus segera melupakan clash of civilizations yang ditulis Huntington, sambil terus mengupayakan keadilan, pembangunan dan perdamaian. #

MUSLIM MARHAMAH

Hefni Zain

Muqaddimah
Islam adalah agama pembawa rahmah tidak saja bagi manusia, tetapi juga bagi seluruh mahluk Tuhan di alam semesta (rahmatan lil ‘alamin), karena itu  Ia hadir dengan prinsip-prinsip marhamah seperti : Kasih  sayang (rahman rahim), perdamaian (salam), persaudaraan (ukhuwah), persamaan (musawah), toleransi (tasamuh), keadilan (‘adalah), keseimbangan (tawazun) dan kebebasan (hurriyah), yang dengan seperangkan prinsip tersebut membuka ruang bagi terwujudnya kehidupan yang damai dan harmonis.
Dengan kata lain, kehidupan yang didambakan Islam adalah kehidupan yang menentramkan, menyelamatkan dan membebaskan yang didalamnya tumbuh kedamaian, toleransi, harmonisasi, cinta kasih dan persaudaraan. Salah satu indikator dari kehidupan yang semacam ini adalah tumbuhnya solidaritas kebersamaan dan kekeluargaan dalam menyelesaikan soal-soal kemanusiaan melampaui sekat sekat primordial, didalamnya ada etos saling menolong dengan “sungguh-sungguh menolong”, yakni menolong tanpa tujuan apapun selain menolong itu sendiri, yang dari sini kemudian muncul pola hidup welas asih, the smiling general dan the smiling soldiers, the sensous, the play ful, the calm and the beuty.  
Kehadiran ajaran Islam yang dibawa Rasululloh saw ke muka bumi ini membawa misi mewujudkan kehidupan manusia yang damai dan sejahtera  lahir dan batin. Dalam risalah ajaran Islam terdapat berbagai petunjuk bagi umat manusia, bagaimana seharusnya manusia itu menyikapi hidup dan kehidupan secara lebih bermakna. Petunjuk-petunjuk tersebut tertuang secara jelas dalam Al-Qur`an dan Sunnah Nabi. Islam mengajarkan kepada para pemeluknya agar selalu mengembangkan kesalehan dan kepedulian terhadap sesama, menjunjung tinggi sikap marhamah (penuh kasih sayang), mengembangkan kualitas diri berlandaskan akhlakul karimah.
Secara teknis, misi rahmatan lil alamin tercermin dalam azas kemasyarakatan Islam, seperti : (1) Tawassuth dan i’tidal  yaitu sikap moderat dan lurus yang  menjunjung tinggi keharusan berlaku adil dan lurus di tengah kehidupan bersama, dan menghindari segala bentuk ekstremitas (tatharruf). Azas ini disarikan dari  Qs. al-Baqarah : 143 dan al-Maidah : 8.  (2) Tasamuh, yaitu, sikap toleran terhadap perbedaan, baik dalam masalah keagamaan -terutama furu’iyyah-, kemasyarakatan, maupun kebudayaan. Azas ini disarikan dari Qs. Thaha: 44.  (3) Tawazun, yakni keseimbangan dan harmonisasi dalam pengabdian kepada Allah, manusia, dan lingkungan. Nilai ini disarikan dari ayat al-Quran surat al-Hadid: 25. (4) Amar ma’ruf nahi munkar. Islam memiliki kepekaan untuk mendorong perbuatan yang baik dan bermanfaat bagi kehidupan bersama, serta menolak dan mencegah segala hal yang berpotensi merendahkan nilai-nilai kehidupan. Dengan azas dan nilai-nilai tersebut Islam benar-benar berkomitmen untuk membumikan rahmatan lil’alamin, baik dalam ranah agama, sosial, budaya, ekonomi, hukum dan politik. Nilai-nilai tersebut tidak hanya dipahami sebagai doktrin,  tetapi juga sebagai metode berpikir (manhaj al-fikr) dalam mencarikan solusi atas kompleksitas persoalanyang dihadapi umat manusia.
Sebagai agama rahmah, Islam menolak dan melarang pemakaian kekerasan demi untuk mencapai tujuan-tujuan (al-ghayat), termasuk tujuan yang baik sekalipun. Dalam kaidah ushul ditegaskan al-ghayah la tubarrir al-wasilah (tujuan tidak bisa menghalalkan segala cara). Islam juga menegaskan bahwa pemberantasan kemungkaran tidak boleh dilakukan dengan kemungkaran pula (al-nahyu ‘an al-munkar bi ghair al-munkar). Tidak ada alasan etik dan moral yang bisa membenarkan suatu tindakan kekerasan, kalau ada tindakan-tindakan kekerasan yang dilakukan oleh kelompok Islam tertentu, maka jelas alasannya bukan karena ajaran etik-moral Islam, melainkan karena agenda-agenda lain yang bersembunyi di balik tindakan tersebut.
Dalam perspektif Islam, fenomena kekerasan bernuansa agama  merupakan bentuk diviasi (penyimpangan) yang salah satunya disebabkan oleh kegagalan penganut agama dalam memahami universalitas pesan doktrin yang terdapat dalam teks-teks sucinya, disebutkan oleh beberapa pakar bahwa diantara faktor penyebab radikalisme pemahaman ajaran Islam adalah “sathahiyyatu al-tsaqafah wa al-fiqhi fi al-dini”  (kedangkalan ilmu pengetahuan dan kedangkalan wawasan keagamaan). Sebagai antisipasi terhadap arus gerakan radikalisme-fundamentalisme perlu disinergikan hadarah al-nash (penyangga budaya teks bayani), hadarah al-‘ilmi, hadarah al-falsafah dengan humanities kontemporer. Sinergi tersebut menjadi penting guna menghindari jebakan pitfall (keangkuhan disiplin ilmu yang merasa pasti dalam wilayah sendiri-sendiri tanpa mengenal masukan dari disiplin di luar dirinya).
Guna mewujudkan Islam yang rahmatan lil alamin (penebar kasih sayang bagi semesta)  dibutuhkan karakter muslim yang ramah, konsisten menghargai pluralitas serta mampu bekerjasama dengan yang lain. Karakter muslim yang seperti ini disebut dengan karakter muslim marhamah.

Profil  Muslim Marhamah
Istilah muslim marhamah terambil dari gabungan dua kata, yakni “muslim” dan “marhamah”. Muslim bermakna orang-orang yang berserah diri kepada Tuhan atau orang yang mencari kedamaian Tuhan. Term “muslim” ini merupakan rangkaian kata “aslama – yuslimu – islam” yang berarti menyerah atau mencari kedamaian. Kata “Islam” (ketundukan, kepasrahan dan kedamaian) merupakan bentuk kata benda verbal yang searti dengan bentuk adjektif muslim (tunduk, pasrah dan damai). Dari akar simantik diatas, kata muslim mengisyaratkan makna penuh ketundukan terhadap kehendak Tuhan dalam rangka mencari kedamaian. Dengan demikian, kedamaian dan perdamaian adalah kata kunci untuk melihat hakekat diri seorang muslim. Itulah sebabnya Rasul saw menegaskan “seorang muslim adalah mereka yang memberikan rasa aman, keselamatan dan kedamaian bagi orang lain dari gangguan lidah dan tangannya.” Bahkan dari ucapan salam, “assalamu ‘alaikum” (damai dan keselamatan untuk anda) dalam setiap pertemuan, menunjukkan bahwa kedamaian yang didambakan bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk pihak lain.
Adapun kata “marhamah” adalah kata benda dari kata kerja arhama yang berasal dari akar kata rahima dengan penambahan huruf hamzah di awal kata yang memiliki faidah ta’diyah (karakter kalimat yang tidak perlu menampilkan obyek). Dari kata asal rahima ini, terdapat kata-kata jadian lainnya dalam al-Qur’an, yakni: rahima, arham, marhamah, rahim, rahman dan ruhm. Rahima bermakna memiliki kemurahan hati atau belas kasihan kepada seseorang (to have mercy on someone); merasa kasihan, ingin menghibur atau menyenangkan hati orang lain (to be compassionate). Arham adalah bentuk jamak dari kata rahim yang secara bahasa berarti peranakan/kandungan. Marhamah  berarti kemurahan (mercy); perasaan sayang (compassion). Rahim berarti penyayang (merciful); suka menyenangkan (compassionate); Maha Pemurah (All Compassionate). Rahman bertati pengasih (merciful); Maha Kasih (All Merciful), sedangkan Ruhm bermakna kelembutan (tenderness). Dari makna harfiyah yang berakar dari “r-h-m” diatas, dapat ditarik benang merah bahwa makna marhamah adalah energi kasih sayang murni yang secara integral terdapat dalam diri manusia. Dengan energi tersebut seseorang akan selalu menebarkan kasih sayang ke segala penjuru alam semesta.
Menyandingkan kata “muslim” dan “marhamah” memerlukan penyesuaian (adjusment), sebab karakter kedua kata tersebut relatif berbeda, satunya mudzakkar dan satunya muannats. Upaya penyesuaian dalam menyandingkan kedua kata ini dapat mengacu pada teori “makhdzuf” (tidak menampilkan sebagian kalimat). Dalam teori ini dijelaskan bahwa suatu kalimat tidak harus selalu tampil lengkap. Boleh jadi ada bagian dari kalimat tersebut yang tidak tampil. Tidak tampilnya sebagian kalimat tersebut dalam perspektif ilmu gramatika bahasa Arab disebut dengan makhdzuf. Tampilan istilah “muslim marhamah”, bila diurai sebenarnya ada bagian kalimat yang makhdzuf. Terdapat kata “thabiah” (artinya: karakter) yang harus tampil mengiringi kalimat muslim marhamah. Bila dijabarkan secara lengkap maka akan muncul tampilan kalimat “Thabiah al-Muslim Marhamah”.
Thabiah al-Muslim Marhamah dapat dimaknai karakter orang Islam yang penuh perasaaan kasih sayang. Penampilan kalimat sebatas ‘muslim marhamah’, dengan kata thabiah yang makhdzuf, memberi penekanan pada hakekat kepribadian muslim yang integral dengan nilai-nilai kasih sayang. Nilai-nilai kasih sayang di sini bukan hanya sekedar sesuatu yang berada di luar diri muslim untuk kemudian dilakukan penyerapan. Akan tetapi, terdapat internalisasi nilai-nilai kasih sayang yang secara organik ada pada diri seorang muslim. Dengan demikian, muslim marhamah adalah pribadi muslim yang secara integral memiliki energi kedamaian (Islam)  dan kasih sayang (marhamah), dimana basis kedamaian dan rasa kasih sayang tersebut berperan efektif dalam hidup kesehariannya, utamanya dalam menghadapi berbagai persoalan sosial kemasyarakatan.

Landasan Muslim Marhamah
Tidak terbantahkan bahwa pengembangan muslim marhamah memiliki landasan yang kokoh, baik landasan preskriptif maupun landasan empirik.  Banyak sekali ayat al-Quran dan Hadits yang menjelaskan tentang bagaimana pribadi muslim yang penuh kasih sayang ini harus diejawantahkan dalam kehidupan, sebagai contoh,  Qs. Al-Anbiya’: 107,  Qs. Ibrahim : 24 – 25, Qs. al-Nahl : 125, yang  secara teknis didukung oleh sabda Rasulullah saw. yakni “innama bu’itstu li utammima makaarim al-akhlaaq” (sesungguhnya aku diutus oleh Allah swt. Untuk menyempurnakan budi pekerti yang mulia). Pembinaan akhlak merupakan upaya pembentukan karakter seseorang. Untuk membentuk karakter yang baik tentu saja membutuhkan pendekatan yang baik, dan pendekatan yang baik adalah pendekatan yang penuh kasih sayang (marhamah). Berbagai landasan diatas menunjukkan bahwa tujuan dan misi utama diutusnya Rasulullah saw adalah menebar kasih sayang. Kasih sayang yang dimaksud adalah kasih sayang yang bersifat universal, bukan parsial atau sebatas untuk kalangan tertentu. Kata “al-alamin” dalam ayat tersebut menunjukkan universalitas yang merujuk pada keanekaragaman makhluk hidup di bumi.
Dalam hal amar ma’ruf nahyu an al-munkar  yang menjadi kewajiban setiap muslim, maka pribadi muslim marhamah mendasarkan aktivitas dakwahnya pada metode yang digariskan Al-Quran dalam surat al-Nahl ayat 125. Ayat ini menjelaskan tentang tiga macam metode dakwah dengan mempertimbangkan sasaran dakwah. Terhadap cendekiawan yang memiliki pengetahuan tinggi diperintahkan menyampaikan dakwah dengan hikmah, yakni berdialog dengan kata-kata bijak sesuai dengan tingkat kepandaian mereka. Hikmah sendiri maknanya adalah sesuatu yang bila digunakan akan mendatangkan kemaslahatan dan kemudahan yang besar atau lebih besar, serta menghalangi terjadinya mudharat atau kesulitan yang besar atau lebih besar .
Terhadap kaum awam, diperintahkan untuk menerapkan mauidhah, yakni memberikan nasehat dan perumpamaan yang menyentuh jiwa sesuai dengan taraf pengetahuan mereka yang sederhana. Mauidhah baru dapat mengena hati sasaran bila ucapan yang disampaikan itu disertai dengan pengamalan dan keteladanan dari yang menyampaikannya. Inilah yang dimaksud dengan mauidhah hasanah (uraian yang menyentuh hati yang mengantar kepada kebaikan).
Kepada Penganut faham atau agama lain, yang diperintahkan adalah jidal (perdebatan atau dialog) dengan cara yang terbaik, yaitu dengan logika dan retorika yang halus, lepas dari kekerasan dan umpatan. Jidal (perdebatan) terdiri dari tiga macam, yang buruk adalah yang disampaikan dengan kasar, yang mengandung kemarahan serta yang menggunakan dalih-dalil yang tidak benar. Yang baik adalah yang disampaikan dengan sopan, serta menggunakan dalil-dallil atau alasan yang hanya diakui oleh lawan. Tetapi yang terbaik adalah yang disampaikan dengan baik, dan dengan argumen yang benar dan tak terbantahkan. Dengan demikian pendekatan yang digunakan oleh pribadi muslim marhamah dalam berdakwah adalah dengan mengedepankan keramahan dan keteladanan serta menjauhi sikap tak terpuji dan cara-cara kekerasan.

Indikator Muslim Marhamah
1. Mengembangkan Sikap Toleransi
Rahmat sebagai doktrin utama Islam dalam aplikasinya menemui banyak kendala. Salah satunya adalah adanya konflik. Manusia mempunyai potensi besar melakukan konflik. Kompetisi untuk merebutkan status sosial sering berujung pertikaian, ketegangan, dan kerawanan. Menurut Achmad Gunaryo, penerimaan terhadap konflik sebagai bagian dari hidup tampaknya bukanlah pilihan melainkan keharusan. Dipahami demikian, maka akan sia-sia menolak konflik. Menolak konflik adalah menolak sunnatullah. Manusia harus mau hidup dalam atau berdampingan dengan konflik.
Salah satu cara menyikapi konflik adalah mengembangkan budaya toleransi. Dalam toleransi, yang harus dilakukan adalah menghindari hal-hal yang memicu munculnya konflik, memunculkan persamaan-persamaan yang sifatnya universal yang bisa diterima semua kalangan, dan memberikan keteladanan dalam pembumiannya. Toleransi atau tenggang rasa akan sukses jika masing-masing individu menghargai kesepakatan-kesepakatan yang sudah ditetapkan dalam konteks kepentingan universal. Mereka bisa menahan diri dan mencari jalan terbaik dalam memecahkan persoalan, tidak terbawa konflik kepentingan dan perebutan kekuasaan personal yang merugikan kepentingan sosial universal.
Keadilan, kedamaian, dan kesejahteraan adalah hal-hal yang sifatnya universal lintas sektoral. Semua orang membutuhkan dan menginginkannya. Semua orang menginginkan agama, kekuasaan dan differensiasi status sosial yang dapat menjamin dan berkontribusi nyata dalam perbaikan derajat kehidupan sosial. Bukan sebaliknya, agama, kekuasaan, dan status sosial menjadi penyebab lahirnya ketidakadilan, kekerasan, dan pertikaian. Kalau itu terjadi maka akan menjadi titik tolak berkembangnya delegitimasi agama, kekuasaan, dan status sosial. Kemampuan untuk hidup berdampingan (koeksistensi) dengan kelompok dan agama lain harus diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, tidak hanya secara individual, tapi juga secara sosial dan institusional. Tidak ada demarkasi dan diskriminasi dalam pergaulan sosial. Semua manusia menginginkan persamaan, kesetaraan, kerukunan, dan keselarasan dalam kehidupan sosial.
Pemahaman agama yang intoleran terhadap sebagian ayat dalam al-Qur’an dan hadis Nabi harus ditafsirkan dalam kerangka ayat-ayat dan hadis-hadis universal yang mendorong manusia untuk menghargai kemanusiaan, perbedaan, hak-hak asasi manusia, kerjasama, tolong menolong, dan berkompetisi dalam kebaikan (fastabiq al-khairat). Dalam kerangka pemikiran inilah kita memahami ajaran dakwah yang bersifat ekspansionis (dakwah, mengembangkan diri). Masing-masing agama memang mempunyai ajaran ekspansionis, namun hal itu tidak harus dimaknai sebagai pemaksaan terhadap seseorang untuk memeluk suatu agama. Ajaran tersebut seyogyanya dimaknai sebagai motivasi kepada pemeluk agama untuk mendemonstrasikan keagungan moral dan keindahan perilaku kepada orang lain, sehingga orang lain menjadi apresiatif, respek, dan akhirnya tertarik terhadap agama yang diikuti. Keteladanan menjadi kunci utama dalam keberhasilan dakwah.
Jika umat Islam dalam dakwahnya kepada kelompok lain mengedepankan keteladanan dalam bertutur sapa, berinteraksi, bekerjasama, dan memberdayakan kaum miskin-papa, maka akan terjadi eskalasi dan massifikasi kebaikan yang menjadi esensi ajaran agama, bukan adu fisik, klaim, emosi, perang, agitasi, konflik, intrik, dan hal-hal negatif lainnya yang merusak persaudaraan dan kerukunan. Kalau dengan bukti nyata, seseorang tertarik dan masuk sebuah agama itu adalah hasil refleksi dan kontemplasinya. Hal ini karena kesadaran dan pilihan hidupnya, bukan karena paksaan, kompensasi materi, jabatan, popularitas, dan motif pragmatis duniawi lainnya. Inilah yang dipilih Nabi Muhammad dalam dakwahnya. Moralitas agung yang didemonstrasikannya membuat orang-orang kagum dan terkesima, sehingga masuk dalam agamanya.
Toleransi yang dipraktekkan umat Islam akan menjadi rahmat bagi diri mereka sendiri dan bagi sesama. Tidak ada rasa saling curiga, negative thinking, dan rekayasa yang menjurus kepada timbulnya fitnah, agitasi, iri hati, dan lain sebagainya yang mencabik-cabik harmoni dan kohesi sosial. Keimanan seseorang adalah hak prerogatif Allah, bukan wilayah manusia, sehingga interaksi harmonis dengan agama lain bukan menjadi penyebab goyahnya keimanan seseorang, tetapi justru akan mengokohkan keimanan seseorang, karena bisa membuktikan kebenaran imannya kepada agama lain. Tragedi perang dengan alasan agama seharusnya tidak sampai terulang di era modern sekarang ini.
Umat Islam sudah waktunya tampil dalam percaturan dunia dengan aksi-aksi sosial simpatik yang mendatangkan kesejahteraan ekonomi, kemajuan pendidikan, keagungan moral dan solidaritas sosial. Intinya, cita-cita mewujudkan muslim yang marhamah yang cinta perdamaian tidak akan mungkin terwujud apabila tidak dilandasi basis pemikiran keagamaan yang bervisi rahmatan lil’alamin. Dengan basis pemikiran inilah, Islam akan tampil cantik mempesona, indah menawan, dan sejuk mendamaikan. Dengan itulah Islam benar-benar akan terwujud sebagai rahmat bagi seluruh alam.
2. Mengedepankan Ukhuwah
Ukhuwah pada awalnya berarti persamaan dan keserasian dalam banyak hal. Karenanya, persamaan dalam keturunan mengakibatkan persaudaraan, persamaan dalam sifat-sifat juga mengakibatkan persaudaraan. Seringkali kita mendengar istilah ukhuwah islamiyah yang diartikan sebagai persaudaraan antar sesama muslim. Mungkin banyak pertanyaan yang muncul dalam menyikapi istilah ukhuwah islamiyah tersebut, misalnya, apakah yang dimaksud dengan istilah tersebut? Apa kedudukan kata islamiyah sebagai pelaku ukhuwah atau kata sifat darinya?. M. Quraish Shihab dalam bukunya “Membumikan al-Quran” menyatakan bahwa islamiyah di sini adalah kata sifat (adjektif) dari ukhuwah, sehingga maknanya adalah persaudaraan yang bersifat Islam atau persaudaraan secara Islam (islami). Meskipun demikian ia memberi catatan bahwa harus diakui bahwa persaudaraan antar sesama muslim, yang kemudian diartikan sebagai kerukunan intern umat Islam, merupakan salah satu pokok ajaran Islam, yang juga termasuk dalam bagian ukhuwah islamiyah itu sendiri.
Bila ukhuwah diartikan sebagai “persamaan” sebagaimana makna asalnya, maka paling tidak kita dapat menemukan ukhuwah tersebut tercermin dalam empat hal sebagai berikut: (a) Ukhuwah fi al-Ubudiyah, yaitu bahwa seluruh makhluk adalah bersaudara, dalam arti memiliki persamaan. Sebagaimana dalam surat al-An’am ayat 38: “Dan tidaklah binatang-binatang yang ada di bumi,dan tidak pula burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, kecuali umat seperti kamu juga”. Persamaan ini, antara lain, dalam ciptaan dan ketundukan kepada Allah. (b) Ukhuwah fi al-Insaniyah, dalam arti seluruh umat manusia adalah bersaudara, karena mereka bersumber dari ayah dan ibu yang satu. Surat al-Hujurat ayat 12 menjelaskan tentang hal ini. (c) Ukhuwah fi al-Wathaniyah wa al-Nasab. Persaudaraan dalam keturunan dan kebangsaan seperti yang disyaratkan oleh surat al-A’raf ayat 65. (d) Ukhuwah fi Din al-Islam. Persaudaraan antar sesama muslim, seperti yang terdapat dalam surat al-Ahzab ayat 5.
Faktor penunjang lahirnya persaudaraan adalah persamaan. Semakin banyak persamaan semakin kokoh pula persaudaran. Persamaan dalam rasa dan cita merupakan faktor yang sangat dominan yang mendahului lahirnya persaudaraan hakiki. Pada akhirnya, dengan persaudaraan hakiki ini akan menjadikan seorang saudara akan merasakan derita saudaranya. Sebagai contoh adalah mengulurkan bantuan kepada saudaranya sebelum diminta serta memperlakukannya bukan atas dasar take and give, tetapi berdasar pada kasih sayang dalam bentuk “mengutamakan orang lain meskipun dirinya sendiri kekurangan” (QS. Al-Hasyr: 9). Keberadaan manusia sebagai makhluk sosial, perasaan tenang dan nyaman yang dirasakannya pada saat berada bersama jenisnya, dan dorongan kebutuhan ekonomi, juga merupakan faktor-faktor penunjang lahirnya rasa persaudaraan itu. Islam datang menekankan hal-hal tersebut dan menganjurkan untuk mencari titik singgung dan titik temu. Tidak hanya kepada sesama muslim, kepada non-muslim pun demikian juga seharusnya, hal ini diisyaratkan dalam surat Ali Imran ayat 64 dan Saba’ ayat 24-25.
Mengedepankan ukhuwah adalah ciri khas karakter muslim yang marhamah. Ukhuwah islamiyah yang dipahami dalam konteks ini adalah ukhuwah yang sesuai dengan tuntunan ajaran Islam. Maka, membangun persaudaraan tidak hanya sebatas pada orang-orang yang muslim saja melainkan juga kepada orang-orang non-muslim, karena kita semua adalah memiliki persamaan dan oleh karena itu kita semua adalah bersaudara.
3. Menjadikan musyawarah menemukan solusi
Kata musyawarah terambil dari akar kata syawara, yang pada mulanya bermakna mengeluarkan madu dari sarang lebah. Makna ini kemudian berkembang, sehingga mencakup segala sesuatu yang dapat diambil atau dikeluarkan dari yang lain, termasuk pendapat. Musyawarah dapat juga berarti mengatakan atau mengajukan sesuatu. Kata musyawarah pada dasarnya hanya digunakan untuk hal-hal yang baik, sejalan dengan makna dasarnya.
Madu bukan saja manis, melainkan juga obat untuk banyak penyakit, sekaligus sumber kesehatan dan kekuatan. Itu sebabnya madu dicari di mana pun dan oleh siapa pun. Madu dihasilkan oleh lebah. Dengan demikian, yang bermusyawarah mesti bagaikan lebah yakni makhluk yang sangat disiplin, kerja samanya sangat mengagumkan, makanannya terjaga dan hasilnya adalah madu. Di mana pun hinggap, lebah tidak pernah merusak. Ia tidak akan mengganggu kecuali diganggu. Seperti itulah makna permusyawarahan, seperti itu pulalah sifat yang melakukannya. Maka tidak heran bila Nabi Muhammad saw. menyamakan seorang mukmin dengan lebah.
Seruan yang jelas untuk melakukan musyawarah apabila ada suatu urusan terdapat dalam al-Quran surat ‘Ali Imran ayat 159. Ayat ini dari segi redaksional ditujukan kepada Nabi Muhammad saw. agar memusyawarahkan persoalan-persoalan tertentu dengan sahabat atau anggota masyarakatnya. Tetapi, ayat ini juga merupakan petunjuk kepada setiap muslim, khususnya kepada setiap pemimpin, agar bermusyawarah dengan anggota-anggotanya.
Pada ayat tersebut disebutkan tiga sikap yang secara berurutan diperintahkan kepada Nabi Muhammad saw. untuk dilakukan sebelum datangnya perintah bermusyawarah. Ketiga sikap tersebut sengaja dikemukakan dalam ayat itu agar ketiganya menghiasi diri Nabi dan setiap orang yang melakukan musyawarah. Ketiga sikap tersebut adalah :  (a)  Sikap Lemah lembut ; Seseorang yang melakukan musyawarah, apalagi sebagai pemimpin, harus menghindari tutur kata yang kasar serta sikap keras kepala, karena jika tidak, mitra musyawarah akan meninggalkan majelis musyawarah. (b) Memberi maaf dan membuka lembaran baru. Maaf berarti menghapus. Memaafkan adalah menghapus bekas luka di hati akibat perlakuan pihak lain yang dinilai tidak wajar. Di sisi lain, orang yang bermusyawarah harus menyiapkan mental untuk selalu bersedia memberi maaf. Karena mungkin saja ketika bermusyawarah terjadi perbedaan pendapat, atau keluar kalimat-kalimat yang menyinggung pihak lain. (c) Permohonan ampunan kepada Allah swt. Untuk mencapai hasil yang terbaik ketika musyawarah, maka hubungan dengan Tuhan pun harus harmonis. Keharmonisan ini akan membawa efek positif bahwa keputusan yang diambil dalam musyawarah akan membawa manfaat kepada semua pihak.
Setelah itu disebutkan satu lagi sikap yang harus dilakukan setelah musyawarah, yakni kebulatan tekad untuk melaksanakan apa yang telah ditetapkan dalam musyawarah. Agaknya dari penjelasan di atas dapat disimpulkan, bahwa musyawarah diperintahkan al-Quran, serta dinilai sebagai salah satu prinsip dalam berkehidupan dan bermasyarakat. Musyawarah ini menjadi karakter pribadi muslim yang marhamah karena musyawarah adalah jalan terbaik dalam menyelesaikan permasalahan. Dalam musyawarah dituntut untuk selalu santun dan penuh kedamaian, bukan amarah dan penuh kebencian. Apalagi terdapat tiga prasyarat yang harus dilakukan (sikap lemah lembut, penuh maaf, dan memohonkan ampun), yang kesemuanya meniadakan unsur kekerasan. Hal ini karena pendekatan kekerasan tidak mungkin dilakukan oleh seorang muslim yang marhamah.
Cermin Bening Dari Sejarah
Sebagaimana disinggung sebelumnya bahwa kehidupan marhamah adalah yang didalamnya tumbuh solidaritas kebersamaan dalam menyelesaikan persoalan kemanusiaan melampaui sekat-sekat primordial, didalamnya ada etos saling menolong dengan sungguh-sungguh menolong tanpa tujuan apapun selain menolong itu sendiri, yang dari sini kemudian muncul pola hidup welas asih, saling menyayangi dan mengasihi.  Kehidupan seperti ini pernah memancar cemerlang dalam kehidupan masyarakat Madinah dimasa Rasululloh saw dan para sahabat.
               Diceritakan suatu hari Nabi saw mendatangi seseorang yang dikabarkan sedang sakit, padahal selama sehatnya orang tersebut sangat membenci Nabi bahkan selalu melempari Nabi dengan kotoran. Tetapi Nabi adalah orang yang pertama kali datang dan mendoakan kesembuhannya. Tidak ada kebencian, balas dendam, dan emosi dalam diri Nabi saw. Dengan pendekatan moral agung inilah eorang tersebut kemudian masuk Islam secara suka rela. Keteladanan Nabi saw ini menjadi entry point dalam mengembangkan toleransi dalam Islam yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan universal.
Dalam hadits yang diriywayatkan Abu Daud, dikisahkan pula suatu saat khalifah Utsman berada di Mina dalam rangkaian ibadah hajinya beliau melakukan shalat dhuhur dan ashar masing-masing empat rakaat. Peristiwa itu disampaikan oleh Abdurrahman bin Yazid kepada Abdullah bin Mas’ud. Mendengar itu, ibn Mas’ud berseru inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, apa yang dilakukan Utsman itu adalah musibah. Utsman sudah meninggalkan sunnah Rasulullah, Abu Bakar dan Umar. Ibn Mas’ud berkata “Aku shalat bersama Rasulullah di Mina dan ia shalat dua rakaat. Aku shalat bersama Abu Bakar di Mina dan ia shalat dua rakaat. Aku shalat bersama Umar di Mina dan ia shalat dua rakaat.” Tetapi ketika Ibnu Mas’ud melaksanakan shalat dhuhur dan ashar di Mina di belakang Usman, iapun melakukannya empat rakaat juga. Ketika ditanya tentang pendapatnya dulu dan prakteknya sekarang, ia mengatakan “Benar bahwa aku menyatakan berdasarkan sunnah, shalat di Mina haruslah diqashar. Tetapi Utsman sekarang adalah Imam yang harus diikuti. Wa al-khilafu syarr, “semua pertengkaran itu jelek”. Peristiwa ini menunjukkan perbedaan keyakinan antara dua sahabat besar Utsman bin Affan dan Abdullah Ibnu Mas’ud. Yang menarik diperhatikan adalah sikap Abdullah ibn Masud. Ia menegaskan pendapatnya tentang salat qashar di Mina, tetapi ia tidak mempraktekkan keyakinannya itu, karena menghormati Utsman sebagai Imam dan Khalifah, juga karena ia ingin menghindari pertengkaran.
Kecenderungan pada kedamaian, saling menghormati dan anti pertengkaran seperti inilah yang kemudian juga banyak dipraktekkan oleh para ulama pada periode berikutnya. Misalnya yang dilakukan oleh Imam Syafii. Suatu hari Imam Syafii ditunjuk menjadi imam shalat subuh di sebuah masjid kota Kufah. Tidak jauh dari masjid itu ada makam Abu Hanifah. Imam Syafii tidak membaca qunut dalam shalat subuhnya dan tidak melakukan sujud sahwi, sebagaimana seharusnya dalam fiqih Syafii. Ketika usai shalat para jamaah bertanya kepadanya mengapa ia tidak melakukan qunut. Imam Syafii menjawab sambil menunjuk makam Abu Hanifah, “Aku menghormati penghuni makam itu”
Sungguh kejadian di atas adalah cermin pribadi muslim yang marhamah. Betapa tingginya akhlak dan toleransi yang dipraktekkan oleh para imam kita dahulu. Bahkan penghormatan dan toleransi tidak hanya ditujukan kepada yang masih hidup dan ada di hadapannya, melainkan juga kepada mereka yang sudah wafat dan tidak ada di hadapannya. Ini merupakan pelajaran berharga bahwa tradisi para Nabi dan orang-orang saleh adalah sangat toleran bahkan membalas kejelekan dengan kebaikan.  Sikap penghormatan terhadap orang mesti dilakukan di segala hal, termasuk dalam berdakwah kepada umat manusia baik yang muslim maupun non-muslim. Sikap seperti ini kerap dilakukan oleh para wali yang menyebarkan agama Islam di Indonesia. Bahkan penghargaan dan penghormatan kepada orang lain menjadi strategi utama dalam berdakwah di kalangan para wali tersebut. Dengan mengadaptasi budaya lokal, Sunan Giri mampu mengambil hati masyarakat melalui berbagai tembang dan permainan yang bernafaskan ajaran Islam. Kemampuan dalam mengaransmen musik dan mencipta berbagai alat musik tradisional telah mengharumkan nama Sunan Bonang. Nama Bonang sendiri adalah nama dari salah satu alat musik orkestra gamelan Jawa. Dakwah elegan, humanis dan penghargaan terhadap adat-istiadat masyarakat juga dipraktekkan oleh Sunan Kalijaga, seorang wali yang kemudian memunculkan masterpiece karya budaya dalam bentuk wayang kulit. Dengan wayang kulit inilah masyarakat merasa feel at home (nyaman dan kerasan) ketika masuk Islam. Dakwah Sunan Kudus juga fenomenal, Beliau membuat larangan menyembelih sapi bagi umat Islam waktu itu, sebab sapi adalah hewan yang sangat disucikan oleh umat Hindu, kebijakan Sunan Kudus ini didasari penghormatan terhadap keyakinan umat Hindu dan penghormatan atas harkat-martabat sesama manusia ciptaan Tuhan.
Pola dakwah yang tidak kalah fenomenal juga dilakukan oleh Sunan Drajat. Melalui program pemberdayaan yang penuh kesantunan dan tanpa pandang bulu terhadap orang yang disantuni, Sunan Drajat mendakwahkan ajaran Islam yang penuh kedamaian. Salah satu dasar ajarannya yang menganjurkan penghargaan terhadap ke-anekaragaman (pluralitas) masyarakat adalah: “Wenehono teken marang wong kang wuto.” Secara literal, makna kalimat tersebut adalah ‘berilah tongkat penuntun bagi orang yang tuna netra’. Namun kalimat ini memiliki dimensi sosial yang mendalam. Orang yang tuna netra dalam kalimat tersebut secara tersirat dapat dimaknai sebagai orang yang masih berada dalam kondisi ketidaktahuan, kebodohan dan kegelapan. Oleh karena itu mereka membutuhkan pencerahan yang disimbolisasi dalam bentuk tongkat. Yang menarik adalah bahwa dengan penuh kasih sayang kita diperintahkan untuk memberi tongkat kepada yang membutuhkan tanpa memperdulikan perbedaan di antara kita, karena pemberian kepada yang membutuhkan adalah salah satu bentuk kasih sayang.
Tidak hanya kalangan wali, ulama sepuh kita juga mengajarkan kepribadian marhamah. Sebut saja KH. Hasyim Asy’ari, ketika menjadi Rais Akbar NU, sering menjadikan nilai-nilai marhamah sebagai dasar dan metode untuk menyelesaikan persoalan umat. Salah satu buktinya adalah fatwa beliau yang menyerukan kepada seluruh umat Islam untuk bersatu dan moderat serta dilarang untuk bersikap ekstrim. Seruan ini disampaikan dalam berbagai kesempatan. Pemikiran KH. Hasyim Asy’ari tentang hal ini tertuang dalam pidato beliau, al-Mawa’idz (berbagai petuah sosial-keagamaan), yang disampaikan pada 1936 di Muktamar NU ke-11 di Banjarmasin. Dalam petuah sosial-keagamaan tersebut beliau mengajak segenap umat Islam untuk mengakhiri rasa permusuhan akibat perbedaan masalah furu’iyyah dan khilafiyyah.
Dari berbagai cerita diatas, dapat dipahami bahwa dalam berkehidupan, para pendahulu kita selalu mengedepankan nilai-nilai kasih sayang (marhamah). Nilai-nilai kasih sayang tersebut tampak pada sikap yang menghindari pertengkaran, penghormatan terhadap pendapat orang lain yang berbeda, penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan tanpa memandang keyakinan dan status sosialnya, dan selalu menjadi pemberi bagi orang-orang yang membutuhkan. Karakter pribadi muslim adalah keimanan yang terhunjam ke dalam hatinya, seperti terhunjamnya akar pohon. Amal-amalnya menunjukkan keluhuran akhlaknya sebagaimana cabang-cabang pohon yang menjulang ke langit. Keberadaannya selalu memberikan kesejukan, ketenangan, solusi dan manfaat untuk pihak lain dimanapun, kapanpun dan dalam kondisi apapun. Hal ini ibarat buah dari pohon yang baik yang selalu memberikan manfaat dalam setiap musim.
Maka jadilah seperti pohon mangga di tepi jalan, yang kendati dilempari orang dengan batu, tetapi ia tetap mengirimkan kepada si pelempar itu, buah yang telah ranum. Ahsin kama ahsanallohu ilaik, berbuatlah baik sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Dengan sifat ini akan membawa kita lebih dekat kepada Allah swt  juga kepada sesama manusia. Namun sayang, potret indah yang sudah tertata ajek selama puluhan tahun itu, saat ini seakan redup terselimuti oleh debu kotor perselisihan faham dan tersekat oleh baju-baju firqoh dan kepentingan kepentingan sektarian lainnya. #