Minggu, 17 Agustus 2014

REFLEKSI KEMERDEKAAN ; BUKAN PESTA KEMENANGAN



Ust. Hefni Zain

 Ketika memeriksa bacaan putra putri kita dirumah atau melihat judul buku yang mereka hafal, kita kadang terkejut, karena yang mereka gemari bukannya kisah tentang perjuangan pangeran Diponegoro, Imam bonjol, jendral Sudirman, Bung Tomo atau Ra Kartini, melainkan sederet buku tentang kisah petualangan Cinderella karya Cristian Anderson, Asterix karangan Goscinny atau Lucky Luke  karya Morris X Fauchei.
Kisah kepahlawanan, semangat perjuangan dan pengorbangan tokoh-tokoh nasional telah tergeser oleh ketenaran Alice Cooper, Mc Hammer,  David Hewson, dan sejenisnya. Dan kalau masih ada yang berbau nasional, paling-paling hanyalah tentang Wiro Sableng atau  si Buta dari gua hantu. Film-film Nasional yang bernuansa perjuangan dan kepahlawanan semacam Naga bonar dan Cut Nya’ Dein  ternyata kalah menarik dengan Film Barat seperti Restless, Orginal Sin dan Titanic. Ibu-ibu muda juga tidak lagi mendendangkan  lagu Padamu negeri, Lir sa’ alir, tombo ati dsb, karena dianggap kalah ngetren dengan lagu Nowhere, A light That Never Comes, Meant to live, atau juga Dastaan dan Aon Sune Lehron Se. Kalau  toh ada lagu nasional yang kadang masih dinyanyikan, itu adalah tentang  “Indonesia  Sejak dulu Kala”(Kalah).
Apa makna ini semua kalau dikaitkan dengan refleksi hari kemerdekaan yang kita capai 69 tahun lampau ?  Bahwa selama ini telah terjadi  Brain Washing  pada masyarakat kita, struktur otak masyarakat kita telah dicuci habis oleh budaya tran nasional. Telah terjadi some think rong pada pemahaman kita tentang memperingati hari kemerdekaan.  Mustinya memperingati hari kemerdekaan adalah rekonstruksi actual dari semangat perjuangan, kepahlawanan, pengorbanan, persatuan dan semangat kebebasan, dan sama sekali bukan pesta kemenangan, sehingga aktifitas masyarakat dalam memperingati hari kemerdekaan harus dioerientasikan pada  upaya mempertebal  sejumlah semangat diatas.
Sudah 69 kali kita memperingati hari kemerdekaan, dan itu waktu yang sangat cukup untuk kita mengevaluasi dan mengaca diri. Seharusnya dalam kurun waktu yang seperti itu, kita tidak lagi mengirim TKW dan TKI yang rendah SDM menjadi kuli di negeri orang lain. Indonesia adalah negara yang sumber daya alamnya melimpah, namun sayang koruptornya juga melimpah,  belum lagi soal capital flight dimana para elit menanam modal besar besaran justru tidak di negeri sendiri, tetapi di negeri orang lain. Juga soal gaya hidup yg memihak pada barang-barang import,  akibatnya nasi pecel  Bu Topik (BT), rujak  cingur B Mat, bajigur Pak Dul  kalah bersaing dengan Fried  Chicken Kentucky, Mc Donald, Chips Patatos, Black Forest, Roots Beer, dan pasar-pasar tradisional terpinggirkan oleh Alfamart, Indomart dan sejenisnya. Padahal  sekali saja kita berbelanja barang-barang mereka sesungguhnya kita telah ikut serta membesarkan perekonomian mereka yang pada gilirannya membunuh diri kita sendiri. Itu artinya kita sedang memberikan lahan pekerjaan bagi orang lain disaat kita sendiri sedang megap-megap mencari pekerjaan.
Sejak neo liberalisme menjadi program utama bangsa ini orang miskin semakin tak mungkin menikmati hasil kemerdekaan seperti layanan pendidikan, layanan kesehatan, tempat tinggal yang memadai dan pekerjaan yang layak, neo liberalisme sebagai iodeologi dunia kini telah sukses meluluh lantakkan pertahanan hidup orang miskin yang termiskinkan oleh sistem global sehingga terlantar bahkan terjajah di negeri sendiri yang konon kaya.
Sesungguhnya tidak ada satu negarapun  yang bertugas menyusahkan apalagi menyengsarakan rakyatnya, tugas semua negara dimanapun adalah mensejahterakan, melindungi, mensehatkan dan mencerdaskan rakyatnya, namun  ajaib di negeri ini, laksana pesulap, tiba tiba saja hampir sebagian besar kebijakan pemerintah tidak memihak kepada orang miskin kendati mereka selalu mengatasnakamannya. 
Saya memang tidak punya data yang komplit tentang ketidak adilan, tetapi mataku tidak buta menyaksikan hingar bingar jalan raya yang kian dipenuhi kendaraan bikinan jepang, itali, as dan eropa,  sementara tukang becak terus tersingkirkan oleh kebijaksanaan pemerintah.  Pemain dabus, yang kebal senjata api, sekali pentas mendapat gaji 130 ribu Rp, tapi pejabat BPPN yang kebal hukum, digaji 130 juta sebulan. Rumah kumuh warga miskin digusur demi keindahan kota, dengan ganti rugi yang sangat rugi dan tak pernah untung.
Memang ada yang bernama rumah sakit islam Abu Bakar, tetapi biayanya tetap Abu Jahal, ketika seorang pasien tanya kepada dokternya,  Apa penyakit saya bisa disembuhkan dok ? tenang..nanti kalau tidak sembuh, kemari lagi ya.. gampang tho... Kendati secara konsepsional telah ada askes bagi warga miskin, tetapi dalam ranah operasionalnya selalu terbentur dengan prosedur birokrasi yang rumit dan berbelit belit, maka upaya manusia miskin mendapatkan layanan kesehatan seperti layaknya manusia lainnya hanya menjadi asa yang utopis, padahal mereka adalah manusia juga.
Kita mesti sering sowan dan berkontemplasi di hadapan makam para pahlawan, berapa banyak  para pendahulu kita yang rela mengorbankan segalanya untuk kemerdekaan ini ? betapa pedih perjuangan mereka,?  lalu kenapa kita tidak merasa punya beban moral kepada mereka? Kenapa supremasi hukum masih terus dipermainkan? Kenapa keadilan dan pemerataan belum sepenuhnya dilakukan ? kenapa biaya pendidikan masih mahal ? Dan kenapa koruptor-koruptor itu masih saja berkeliaran ? tidak malukah kita pada para pahlawan yang gugur sebagai bunga Bangsa? Kita memang termasuk generasi yang tidak pandai bersyukur dan tidak pandai nmenghargai jerih payah pendahulunya.
Kita memang harus banyak belajar, belajar dari kisah-kisah terdahulu sebagai bahan bercermin diri. Misalnya tentang pemerintahan Umar bin Abd Aziz gubenur syiria. Suatu ketika, Umar bin Abd Aziz lembur hingga larut malam menyelesaikan tugas tugas negara, kemudian putra tercintanya datang mengetuk pintu, wahai anakku adakah sesuatu yang sangat penting sehingga engkau datang menyusulku kemari ? Benar ayahanda, ada urusan keluarga yang mendesak untuk kita bicarakan, Umar kemudian mematikan lampu templek di ruang kerjanya sehingga ruangan itu menjadi gelap. Ayah..saya datang kemari untuk membicarakan urusan keluarga yang sangat penting, kenapa ayah mematikan lampu sehingga gelap begini ?  Dengan bijak Umar menjawab, anakku, kita akan bicara soal pribadi, sedang lampu itu adalah fasilitas negara yang dananya berasal dari rakyat, tidak pantas kita menggunakan fasilitas negara untuk soal pribadi. Saya berfikir, kalau saja di negeri ini semua pejabat negara berprilaku seperti Umar, pastilah saudara-saudara kita tidak perlu menjadi babu di negeri orang .
Kita bisa juga terpecut oleh sindiran halus Pak Ponimin yang rumahnya tergusur oleh pembangunan real estate. Dia mengatakan dengan lirih “ kita sabar saja menyaksikan korupsi, tahan hidup susah, bangga menjadi miskin. Kata dia, harga-harga memang semakin menggila, tapi yang sabar saja, bukankah kita hidup di sebuah negara yang paling ajaib di dunia, dimana makan atau tidak makan adalah persoalan biasa. Kita musti sabar, tahan lapar terus dan tetap kalem, sabar...cool...cool.
Zaman merdeka, penguasa adalah rakyat, zaman pembangunan, penguasa bukan lagi rakyat, zaman reformasi, penguasa pandai mengatasnamakan rakyat, zaman edan penguasa makan rakyat, zaman kiamat, penguasa sendirian tanpa rakyat #

MERDEKA ATAU MATI



Oleh : Ust. A. Hefni Zain

 Dalam pembukaan UUD 1945 disebutkan bahwa ”sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan prikemanusiaan dan prikeadilan”.
Melampaui itu, sejatinya kemerdekaan bukan saja hak segala bangsa tetapi juga hak semua manusia dimanapun berada baik yang punya bangsa atau tidak, bahkan kemerdekaan juga merupakan hak semua mahluk Tuhan di makro kosmos ini. Maka setiap bentuk distorsi atas kemerdekaan dan kebebasan semua mahluk Tuhan di jagad raya ini,  apakah itu eksploitasi, diskriminasi atau penjajahan (baik oleh bangsa lain atau bangsa sendiri, baik oleh orang lain atau diri sendiri), mutlak harus dilawan karena bukan saja bertentangan dengan prikemanusiaan dan prikeadilan  tetapi juga bertentangan dengan hak dasar (grand design) penciptaan semua mahluk, bertentangan dengan pri dan pro kemakhlukan.
Menyadari betapa vitalnya kemerdekaan bagi --utamanya-- makhluk spesies manusia, tak heran para pendahulu kita di negeri ini berjuang mati matian, termasuk rela mati beneran demi memperoleh dan mempertahankan kemerdekaan. Itulah harga sebuah kemerdekaan.  Munculnya istilah “merdeka atau mati” sesungguhnya menegaskan bahwa hidup manusia adalah diukur oleh kemerdekaannya, manakala kemerdekaan itu hilang darinya, maka dia dianggap tidak hidup kendati masih hidup, dia akan dianggap mati kendati belum mati, warga negara dihitung hidup hanya bila dia merdeka dalam segala bentuk dan maknanya.
Hidupnya bangsa ini adalah ketika ia memberikan kemerdekaan, kesejahteraan, kemakmuran dan kemanfaatan bagi seluruh rakyatnya. Apa makna pembukaan UUD 45 kalau yang berhasil memasuki pintu gerbang kemakmuran hanya segelintir orang saja, sementara yang lain (yang justru terbanyak) hanya berada diluarnya berdesak-desakan ?  Apa makna proklamasi kemerdekaan kalau sebagian besar rakyat Indonesia masih tetap menderita?                                    
Kemerdekaan sejati adalah terbebasnya manusia dari berbagai bentuk ketidak berdayaan dan keterbelakangan disegala bidang, kemerdekaan yang sesungguhnya adalah terbebasnya manusia dari berbagai  model penjajahan baik dari luar maupun dari dalam dirinya. Kemerdekaan yang hakiki adalah terbebasnya manusia dari berbagai bentuk ketergantungan terhadap apapun atau siapapun selain kepada yang Adi kodrati.
Lazimnya, penjajah selalu difahami sebagai sesuatu yang datang dari bangsa lain atau orang lain di luar kita, padahal sesungguhnya ia bisa juga datang dari dalam bangsa  kita sendiri bahkan dari diri kita sendiri. Prilaku sebagian pembesar bangsa kita bisa jadi justru yang penjajah dan menjadikan kita kehilangan kemeredekaan untuk dapat hidup layak sebagaimana adanya sesuai keadaan bangsa yang sumber daya alamnya dapat disebut melimpah, cara berfikir dan pola hidup sebagian kita juga acapkali menjadikan sebagian saudara kita terampas hak kebebasan dan kemerdekaannya.
Setelah lebih dari setengah abad Bangsa Indonesia merdeka dari penjajahan politik konvensional negara Asing, maka tugas kita kedepan adalah membebaskan masyarakat kita dari berbagai  bentuk penjajahan baru dari bangsa kita sendiri. Sebab tidak dapat dipungkiri, hingga saat ini  nilai dan semangat kemerdekaan yang diperoleh dengan pengorbanan harta, darah dan nyawa generasi sebelumnya belum sepenuhnya dipraktekkan di bumi tercinta ini, masyarakat kita belum sepenuhnya memperoleh kemerdekaan dalam arti yang sesunggunya. Betapa masih banyak kebodohan, kelaparan dan kesengsaraan hidup yang diderita sebagian rakyat indonesia. Tidak terhitung tubuh tubuh layu yang kurang gizi, masih jutaan anak bangsa yang putus sekolah karena tidak ada biaya. bahkan tidak sedikit saudara kita yang  terpaksa menjual imannya demi sesuap nasi untuk mempertahankan hidup. Emansipasi yang seharusnya membebaskan wanita dari berbagai bentuk eksploitasi sebagaimana diperjuangkan Kartini, saat ini malah terjadi sebaliknya. Wanita telah menjadi komoditas yang diperjual belikan dan dieksploitir. Dalam  realaitas seperti  ini benarkah kita sudah merdeka ?
Belum lagi pola hidup para elit yang sering kontradiktif  dan inkonsisten, Bagaimana rakyat bisa belajar hidup sederhana kalau para peminpinnya berlomba mengejar kemewahan ? Bagaimana mungkin rakyat dapat hidup sejahtera bila para peminpinnya tidak menjadikan kesejahteraan rakyat sebagai orientasi kepeminpinannya, Rakyat lebih sering diatas namakan daripada diberdayakan, lebih sering dipecundangi daripada ditunjangi, lebih sering digagahi daripada digugahi, lebih sering dimanfaatkan daripada berbuat untuk rakyat sesuatu yang bermanfaat. Kini rakyat mulai yakin bahwa banyak orang hanya membunuh macan untuk dimacani sendiri”. Indonesia adalah negara yang sumber daya alamnya melebihi negara-negara tetangga, tetapi kenapa masyarakatnya tidak memperoleh kesejahteraan seperti yang diperoleh masyarakat di negara tetangga itu ?
Dalam usianya yang lebih dari setengah abad, semua anak bangsa mesti mengevaluasi diri, apakah perkembangan bangsa ini sudah sebanding dengan nilai dan harga perjuangan genarasi sebelumnya yang telah merelakan segalanya demi kemerdekaan. Saya yakin, jika para bunga bangsa itu tahu apa yang terjadi di negeri ini setelah lebih dari setengah abad  merdeka, mereka pasti akan sangat kecewa.  Dan bisa jadi mereka menyesal  telah mengorbankan segalanya untuk kemerdekaan, jika anak cucunya yang diberi amanah untuk mempertahankan kemerdekaan justru malah menjajah bangsa sendiri.
Saya kira sudah saatnya semua pihak di negeri ini harus mulai berjuang merobah pola lakunya yang biasa memakan hari depan anak anaknya sendiri. Saatnya berperang melawan semua bentuk penjajahan kendati penjajah itu datang dari dalam diri kita sendiri, Jargonnya tetap sama “ Merdeka atau mati”.
 Ketahuilah semua kejahatan bermula dari yang sedikit, kemudian tiap orang sesudah itu menambahnya sehingga akhirnya menjadi sangat besar. Jika peminpin makan sebutir jeruk dari kebun rakyatnya, anak buah peminpin itu akan berlomba mencabuti seluruh pohonnya. Jika peminpin menilep sedikit saja uang rakyat atau uang negara, maka anak buah peminpin akan berlomba  menjual seluruh negerinya. saatnya para penguasa  belajar banyak, sebab rakyat telah mengalami banyak.
Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan sebuah kisah yang barangkali dapat menjadi sarana menakar diri : Suatu hari sang pengauasa secara resmi berbicara dihadapan rakyatnya “Wahai rakyatku, kalian semua mesti bersyukur kepada Tuhan karena sejak aku menjadi penguasa, negeri ini bebas dari wabah penyakit. Tiba tiba di tengah halayak, seorang rakyat jelata memberanikan diri intrupsi, maaf paduka, Tuhan kasihan kepada kami sehingga tidak mungkin memberi kami dua bencana sekaligus. Apa yang kamu maksud dua bencana ? Tanya si penguasa itu  penasaran,  yaa wabah penyakit dan anda sendiri, jawabnya lirih. #

Jumat, 11 Juli 2014

KEBIADABAN ISRAEL TAK TERLUKISKAN

Ust. Hefni Zain

Sangat sulit mendeskripsikan dengan kata-kata kebiadaban Israel atas bangsa Palestina, sebab kemaha biadaban, ektra brutal dan super sadis yang mereka lakukan atas penduduk Palestina tidak  lagi  berada dalam ukuran “manusia”, kemaha sadisan itu dilakukan oleh IDF (Angkatan bersenjata zionis Israel) yang telah kehilangan watak kemanusiaannya. Maka sebagaimana  disampaikan James Rohn (seorang profesor sosiologi pada John Hopkins University), bahwa siapapun yang masih merasa sebagai manusia yang menyaksikan kekejian itu tidak terperanjat dan spontanitas mengutuknya, pastilah ia bukan manusia kendati berbentuk manusia.
Chris Hedges, seorang kepala biro Timur Tengah The Times dalam wawancaranya dengan NPR menyebutkan “Saya pernah melihat  anak-anak dibrondong peluru di Sarajevo, saya juga telah melihat tentara kematian membantai keluarga-keluarga di Aljazair dan di El Salvador, namun saya belum pernah melihat kebiadaban tentara mencincang anak-anak dan bayi, menelanjangi para wanita dan memperkosanya beramai-ramai, lalu mereka membunuhnya untuk sebuah kesenangan. Mereka juga membongkar dengan bayonet perut wanita hamil dan mempermainkan oroknya yang penuh darah, bahkan ada seorang pria tak bersenjata yang sudah menyerah, kepalanya dibrondong dengan 47 peluru. Bagi Hedges, krisis Gaza merupakan kebiadaban terdahsyat dalam sejarah bentrok Israel Palestina sejak tahun 1967.
Dalam sebuah berita berjudul “Israeli Army Accused of Atrocities, The Los Angeles Times melaporkan bahwa mustahil menyebut angka pastinya, tapi ratusan warga sipil Gaza termasuk anak-anak dan perempuan telah dibantai dengan super sadis, bagi tentara zionis Israel, seluruh rakyat Palestina adalah sasaran. Mereka tidak peduli apakah orang-orang yang mereka temui itu anak-anak, perempuan, atau orang berusia lanjut. Para zionis menganggap pembersihan etnis seperti ini sebagai hal penting untuk memperluas negara Israel. Setiap saat bertemu dengan warga Gaza, tentara zionis berseru “Laktasour Otem,” yang berarti “Bereskan mereka!” lalu para maniak itu  mulai membantai dengan penuh kesenangan. Maka tidak heran bila di Gaza hari ini kita menyaksikan pemandangan yang sungguh menggetarkan, tubuh-tubuh tak berkepala, anak-anak yang dipotong-potong badannya, dan perut wanita yang terburai. Di Gaza hari ini, hampir mustahil menemukan sebuah keluarga yang tidak kehilangan anggota keluarganya karena peluru Israel, belum lagi yang lumpuh atau cacat. Dan yang paling menyakitkan, tatkala tentara-tentara zionis yang maniak itu berjingkrak sambil terkekeh-kekeh di atas ratusan mayat yang baru saja mereka bantai.
Gideon Levy, seorang penulis untuk surat kabar Israel Ha’aretz menyebutkan, Menurut ideologi  zionis, tidak boleh ada unsur asing apa pun di “tanah terjanji” Oleh karena itu tidak ada halangan membunuh anak-anak atau bayi sekalipun dalam buaiannya. Heilburn, mantan walikota Tel Aviv, menyatakan "Kita harus membunuh semua orang  Palestina kecuali mereka tunduk tinggal di sini sebagai budak." Karena itu hampir tidak ada hari tanpa darah tertumpah dari orang yang tak bersalah di Gaza. Tentara zionis Israel secara terencana menghancurkan penduduk Gaza. Desa-desa di bom, rumah-rumah dimusnahkan, dan ladang-ladang dibakar. Sementara kekejaman ini muncul di media internasional dari waktu ke waktu. Tetapi sungguh menyedihkan, para pemimpin dunia hingga kini masih belum cukup bertindak.
Doktrin yang disalah tafsirkan
Bangsa Yahudi awalnya boleh jadi merupakan bangsa yang terhormat, mereka adalah penghuni tanah para Nabi, namun  karena wataknya yang arogan, merasa spisies unggul pilihan Tuhan, dan selalu ingin bermusuhan dengan yang lain, maka sejak 700 tahun SM mereka selalu terusir dan dijadikan budak belian, bahkan akhirnya menjadi korban pembantaian besar-besaran Adolf Hitler Jerman. Karena itu mereka selalu memimpikan negeri nenek moyang sebagaimana dijanjikan dalam kitab Talmut. Kemudian sejak tahun 1882 mulailah mereka melakukan migrasi ketanah yang dijanjikan (Promised land) Palestina dan tahun-tahun berikutnya para pendatang yahudi (aliya) jumlahnya terus bertambah.
Menurut Yousef Haikal Salah satu penyebab kemaha biadaban zionis Israel terhadap penduduk Gaza dan dan Palestina pada umumnya adalah bersumber dari watak arogan yang didukung oleh doktrin ideologi zionis yang keblinger. Mereka mendasarkan tindakan brutalnya pada kitab Yosua yang sudah diputar balikkan, berdasarkan kitab  diatas mereka menganggap diri mereka sebagai (1) orang-orang pilihan (2) orang-orang yang unggul, dan (3) orang-orang yang dilebihkan dari etnis lainnya.
Memang dalam Al-Qur'an disebutkan “Hai Bani Israil, ingatlah akan ni'mat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan (ingatlah pula) bahwasanya Aku telah melebihkan kamu atas segala umat. (QS.2 : 47), Juga pada Qs. 45 :16 “ Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Bani Israil Al Kitab (Taurat), kekuasaan dan kenabian dan Kami berikan kepada mereka rezki-rezki yang baik dan Kami lebihkan mereka atas bangsa-bangsa (pada masanya). Tetapi ayat-ayat ini tidaklah menyiratkan "orang pilihan" seperti yang dipahami orang-orang Yahudi radikal. Ayat-ayat tersebut menunjukkan kenyataan bahwa banyak nabi-nabi yang datang dari keturunan ini, dan bahwa orang-orang Yahudi memerintah di daerah yang luas pada saat itu. Ayat-ayat tersebut menerangkan bahwa dengan berkat kedudukan kekuasaan mereka, mereka "lebih diutamakan di atas semua manusia lain." Tetapi tatkala mereka menolak Isa, keutamaan itu pun berakhir.
Al-Qur'an menyatakan bahwa orang yang terpilih tersebut adalah para nabi dan orang-orang beriman yang Allah tunjuki kepada kebenaran. Ayat-ayat tersebut menyebutkan bahwa para nabi itu telah dipilih, ditunjuki jalan yang benar, dan diberkati (Qs.19 : 58),  Namun orang-orang Yahudi radikal, meyakini "orang yang terpilih" sebagai ciri kebangsaan sehingga mereka menganggap setiap orang Yahudi terlahir unggul dan bahwa Bani Israil selamanya dianggap unggul dari semua manusia lainnya. Semakin parah, tatkala “perasaan unggul” tsb dijadikan motivasi untuk melakukan kekejaman atas bangsa lain." Untuk tujuan ini, para Zionis membenarkan perilaku mereka melalui kebencian-kebencian turun-temurun yang bisa ditemukan dalam Talmud. Menurut pandangan ini, hal yang lumrah bagi orang-orang Yahudi untuk menipu orang-orang non-Yahudi, untuk merampas hak milik mereka, bahkan jika diperlukan, membunuh mereka, termasuk wanita dan anak-anak.
Disamping itu ajaran zionis juga menyebutkan bahwa kembalinya orang Yahudi ke Palestina merupakan sebuah “tujuan suci” dan perang yang dilancarkan mereka untuk mencapai tujuan tersebut adalah sebuah “perang suci.”  Rabbi Shlomo Goren peminpin Rabbi (pemuka agama yahudi) untuk kelompok Ashkenazic (Yahudi Eropa barat) di Israel berfatwa bahwa tindakan tentara zionis atas penduduk Palestina merupakan tugas suci keagamaan yang sesuai dengan  halakha (hukum agama Yahudi) dan perintah Yahweh (Tuhan agama yahudi). Kitab kita mengajak dengan penuh kebanggaan untuk melakukan tindakan kejam oleh Bani Israel, dibawah pimpinan Yosua atas pribumi Palestina.
Dalam karya klasiknya The Case of Israel: A Study of Political Zionism, Garaudy menyebutkan bahwa Kitab Yosua, seringkali dijadikan propaganda oleh para rabbi dalam menganjurkan perang suci bagi tentara zionis untuk melakukan pemusnahan atas penduduk yang ditaklukkan, menumpas dengan “mata pedang” segala sesuatu “baik laki-laki maupun perempuan, baik tua maupun muda,” (Yosua, 6:21), Propaganda turun temurun dari para pemuka agama yahudi ini, ditambah lagi dengan ungkapan bahwa “orang-orang terpilih Israel adalah spesies unggul dari Nil hingga Eufrat” telah membentuk dasar-dasar ideologi Zionisme Israil. Perlakuan brutal tentara Israel atas warga Palestina adalah akibat langsung  dari ajaran ini.

Pembantaian itu harus dihentikan
Pembantaian zionis Israil  atas warga Palestina sesungguhnya sudah berlangsung sejak lama, yakni sejak zionisme pertamakali dibawa ke dalam agenda dunia di akhir abad ke sembilan belas oleh Theodore Herzl (seorang wartawan Yahudi asal Austria),  Tetapi yang populer dari catatan sejarah pembataian warga Palestina oleh zionis Israel adalah  (1) pembantaian King David, tahun 1946 yang menewaskan 920 orang (2) Pembantaian Baldat Al-Shaikh, Yehida, Khisas dan Qazaza tahun 1947 menewaskan hampir 2000 orang, termasuk anak-anak yang tak berdosa (3) Di tahun 1948 puluhan ribu warga Palestina tewas oleh pembantaian tentara zionis di Hotel Semirami,  Naser al-Din,  Tantura,  Masjid Dahmash, Dawayma,  Houla,  Salha, dan Deir Yassin, (4) di Tahun 1956  ribuan warga Palestina tewas oleh pembantaian tentara zionis di  Kafr Qasem,  Khan Yunis dan Gaza, (5) Tahun 1981 ribuan warga Palestina tewas oleh Zionis di Fakhani, (6) Pembantaian di Mesjid Ibrahimi, tahun 1994 : 2500 warga sipil tewas (7), Pembantaian di Qana, tahun 1996 : 509 tewas (8) tahun 1994 pembantaian terjadi lagi di Sabra dan Shatilla yang menewaskan ribuan warga sipil palestina, Mereka di tahun 1994 juga membantai 4000 anak-anak dengan membagi-bagikan coklat yang sudah diracuni.  Bahkan dikatakan sejak September hingga desember 2007 sebanyak 936000 orang Palestina tewas, angka-angka ini belum termasuk yang hilang tanpa bekas .
Melihat kekejian ini, saya kira umat Islam tidak boleh berdiam diri, sebab menurut Nabi saw, persaudaraan kaum muslimin ibarat sebuah bangunan, yang satu harus menguatkan yang lainnya. Kita mesti merespon teguran Allah” Mengapa kamu tidak mau berperang dijalan Allah dan membela orang- orang lemah”. (Qs. 4 : 75). Saat ini layak ditanyakan dimana gerangan para laskar jihad yang sering terlihat garang di negeri sendiri itu ? dimana pula para kyai yang sangat khusu’ istighosah untuk memenangkan capres tertentu itu ?
Wahai saudaraku, kendati kita mencintai perdamaian, tetapi bukan berarti mengabaikan kehormatan sebagai kaum muslimin. Ketika saudara kita diperangi. Maka Allah mengizinkan kita berperang dalam segala bentuknya (Qs. 22 : 39). Boleh jadi anda mencibir oang-orang yang keras meneriakkan jihad sebagai pihak yang menjadikan agama sebagai alat politik, tetapi jangan lupa bahwa membiarkan pembantaian manusia secara besar-besaran adalah perbuatan dosa yang anda juga menanggungnya.
Kini bukan saatnya berseminar, ber talkshow atau berdiskusi sebab yang dibutuhkan saudara kita di Gaza bukan hasil seminar. Jangan hanya musuh yang dikecam, sebab umat Islam sendiri atau negara mayoritas muslim yang karena kepecikan dan ketergantungannya telah membuka jalan bagi kemenangan musuh dan kebinasaan diri sendiri. Inilah yang disebut Nabi saw sebagai : Al-Ujara’ dan Al-Mutahawwinun (Orang yang menjual dirinya kepada musuh Islam) dan (orang- orang yang tidak ambil pusing terhadap kejadian-kejadian yang sedang melanda kemanusiaan),.Padahal sangat jelas sabda Nabi saw yang menyebutkan “Barang siapa diantara kaum muslimin yang tidak memperhatikan urusan kaum muslimin yang lain, maka mereka bukan termasuk golongan umat ku".

Andai semangat dukungan mati-matian seperti yang diperlihatkan para tokoh Islam kepada capres dapat dialihkan ke rakyat Gaza tentu akan sangat bermanfaat, sebab  aksi kecaman atau mengutuk keras saja, juga domo solidaritas, dan bahkan qunut nazilah, Saya kira tidak cukup untuk membantu dan menyelamatkan Gaza dari  kebiadaban Israel, Butuh tindakan yang lebih kongkit dari kaum muslimin dan pimpinan negara Islam di seluruh dunia.